My Baby Twins

My Baby Twins
BAB 3



"**jangan banyak alasan twisn, mama gak ma yah kalo sakit lambung kalian kambuh." Ucap Nara galak.


Kedua bocah itu mengerucutkan bibirnya. Sedangkan satu orang lagi yang sudah dewasa tapi masih berlaga seperti anak SMP memandang ke arah Nara dengan tatapan terpana.


Cantik, batinnya.


"Ekhmmm," dehem Bian.


Seketika Nara langsung tersadar, jika ada orang lain di antara kedua anaknya.


"Maaf mas, tolong menyingkir dari kedua anak saya." Usir Nara dengan halus.


"Makannya mau di suapin om gak?" Tanya Bian pada kedua bocah itu, bahkan ia tak mengindahkan ucapan Nara.


Kedua mata bocah itu berbinar.


"Mauu," jawab mereka antusias.


"Vina, vino, ikut mamah!" Ucap Nara tegas.


Sedangkan kedua bocah itu hanya bersembunyi di balik punggung kokoh milik Bian.


Nara merasa geram melihat tingkah kedua anaknya, Bian itu orang asing. Bahkan ia tak mengenalnya.


"Sayang, ayo makan sama mama. Kalian jangan terlalu dekat dengan orang asing." Ucap Nara lagi dengan halus. Namun, usahanya vino dan Vina semakin memeluk punggung kokoh milik Bian.


"Ekhmm," dehem Bian lagi.


"Apa?" Galak Nara.


"Kenalin, Bian Satya MUSAGARA. Pewaris tunggal dari klan MUSAGARA." Ucap Bian dengan tersenyum pede sambil mengulurkan tangannya pada Nara. Namun, entah kenapa ia merasa jika tangannya hanya menggantung saja di udara. Dilihatnya, ternyata Nara tidak menerima uluran tangan Bian. Bian menjadi kikuk sendiri, setelah itu ia mengambil tapak tangan Nara, kemudian menyalakan dengan tangannya.


Namun, di detik berikutnya. Nara langsung menghempaskan tangan Bian dari tangannya.


"Jaga yah sopan santun anda!" Ucap Nara tegas.


Jleb!


Bian sangat tercengang mendengar jawaban dari Nara, apakah Nara tidak mengenalnya? Secara keluarga MUSAGARA adalah keluarga yang terpandang.


"Vino, Vina, ayo sayang kita makan!" Bujuk Nara.


"Mau sama om ini." Cicit Vina.


Nara memejamkan matanya, kemudian ia menghela napasnya pelan.


"Yaudah ayo, kita makan sama DIA!" Ucap


Nara sambil menekan kata dia.


Sontak saja duo V langsung bersorak riang. Misi pertama mempertemukan Nara dan calon Ayahnya berhasil.


Bukan tanpa alasan mereka melakukan semua ini.


Flashback 3 bulan yang lalu.


Hari ini Nara sedang berkunjung ke Salah satu toko distro miliknya, tentu saja dengan si kembar yang selalu mengikutinya. Saat itu, Nara sedang keluar membeli makanan. Jadi di toko hanya ada Sindy sahabat Nara yang di beri kepercayaan untuk mengurus distro milik Nara.


"Tante, Tante tahu gak siapa papa kita?"


Tanya si kecil Vina. Secara sindy merupakan sahabat mamahnya di Jakarta.


Hati sindy begitu melengos saat seorang anak kecil bertanya seperti itu. Faktanya, sindy juga tidak tahu menahu tentang si kembar, Nara seolah menutup rapat-rapat tentang si kembar.


"Emm, gini yah. Ayah kalian itu ganteng, alisnya tebel, tatapan matanya tajam, idungnya mancung, kulitnya putih, giginya rapi, terus punya lesung pipi di sebelah kiri, badannya tinggi, bahu nya lebar, punggungnya kokoh. Pokonya papa kalian sangat gagah!" Ucap Sindy sambil menatap vino, ia juga membayangkan wajah vino ketika dewasa.


"Tapi kata mama, Ayah udah meninggal. Kemaren Vino gak sengaja lihat mama nangisin foto dan bilang semoga tenang di surga. Surga kan tempat orang yang udah meninggal." Tutur vino sendu.


Deg.


Lagi-lagi sindy merasa hatinya teriris mendengar penjelasan anak berusia lima tahun itu. Bagaimana bisa anak sekecil ini berbicara seperti itu.


Sindy jadi kalang kabut dibuatnya, akhirnya sindy mencetuskan ide yang sangat konyol.


"Tante punya solusi." Ucap Sindy sambil tersenyum merekah.


Si kecil vino dan Vina langsung melirik ke arah sindy.


"Gini aja, kalian cari papa baru aja. Tapi yang ciri-ciri nya sama seperti yang Tante tadi bilang."


"Gimana setuju gak?" Tanya sindy.


Sontak vino dan Vina berbinar. Lalu keduanya mengangguk antusias.


Flashback end


Kini mereka berempat tengah berjalan menuju rumah makan khusus para karyawan. Disana juga sudah tersaji berbagai olahan menu yang di buat sendiri oleh Nara, dan jangan lupakan makanan kesukaan kedua bocah berbeda gender itu, pasta dan stik.


Nara menyiapkan makanan untuk kedua anaknya, sedangkan Bian hanya melihat saja.


"Om, ini semua buatan mama, dan ini enak sekali." Ucap Vina yang sudah mulai menyuapkan suapan demi suapan kemulutnya.


"Sayang, kalo lagi makan jangan bicara!" Tegur Nara lembut.


"Iya mah, maaf." Jawab Vina.


Nara tersenyum, lalu mengusap.kepla anaknya dengan sayang. Mereka bertiga makan dengan khidmat, sedangkan Bian hanya menjadi penonton saja.


Keruyukk..


Sontak suara itu mengalihkan pandangan Nara, ia merutuki dirinya sendiri. Ia lupa, jika saat ini ada orang asing di tengah-tengah mereka.


"Ekhmmm," Dehem Bian yang salah tingkah.


Sial nih perut gak bisa di ajak kompromi, rutuk Bian dalam hatinya.


Beberapa saat kemudian, datanglah peramusaji yang membawakan makanan untuk Bian.


"Makan! Jangan sampai Lo mati kelaparan di cafe gue!" Ucap Nara galak.


Bian menelan salivanya kasar saat melihat olahan udang di piringnya.


"Makan!" Titah lagi Nara.


"Iya, galak banget ni janda." Gumam Bian pelan.


Kemudian ia mulai memakna makanannya. Namun, tak lama kemudian si kecil Vina menarik ujung kemeja milik Bian.


"Mau di suapin." Pinta Vina dengan mata berbinar.


"Vina, om nya lagi makan. Jadi makan sendiri yah." Ucap Nara pada anaknya dengan menekan kata om.


"Gue masih muda, bukan om-om!" Ucap Bian tak terima.


"Terus kalo bukan om-om, Vina halus panggil apa?" Tanya Vina polos.


Bian berpikir sejenak, hingga ia menemukan sebuah ide berikan untuk menjahili si galak Nara.


Enak aja, udah bikin gue kelaperan terus di kasih olahan udang lagi, sekarang gue


kerjain nih janda. Batin Bian. "Panggil papa aja gimana?" Tanya Bian pada Vina dengan menaik turunkan alisnya.


"Nggak!" Potong Nara sebelum anaknya menjawab.


"Kalian mau kan panggil saya papa?" Tanya Bian pada kedua anak kembar itu.


"Iya, Vina mau. Soalnya Vina gak punya papa, jadi papa jadi papanya vino sama Vina sekalang." Ucap Vina antusias.


Nara memandang Bian dengan mata yang hampir keluar, ia tak habis pikir dengan jalan pikiran Bian. Tapi, melihat raut wajah dari kedua anaknya Nara akhirnya mengalah. Toh, ia pikir Bian hanya orang lewat saja.


Bersambung**..