My Baby Twins

My Baby Twins
Chapter 33



Alex dan Karin sampai di tempat yang Karin curigai. Mereka menghentikan mobil sedikit jauh dari tempat itu. Di sana bahkan sudah ada bram dan yang lain. Bahkan ada juga polisi yang akan membantu.


“sayang kamu tunggu di mobil aja ya.” kata Alex menahan Karin yang akan turun dari mobil. “tapi...”


“Pikirkan anak kita sayang.” Alex mengelus perut Karin membuat Karin terdiam. Karna terlalu menghawatirkan Arin dia bahkan lupa dengan kehamilannya.


“kamu disini aja yaa hmm. Mas akan suruh Rhiana dan yang lain jaga kamu di sini. Mas janji Arin akan baik-baik aja sayang. Jadi tolong diam di mobil jangan keluar kamu.” bujuk Alex menatap Karin.


“oke, tapi kamu harus hati-hati. Kalo bener itu steven. Aku takut kamu kenapa-kenapa mas.”


“tenang sayang. Aku pasti baik-baik aja. Jadi kamu doain semua lancar yaa.”


“ hmm hati hati. Aku belom mau jadi janda mas. anak aku juga belum lahir loh.”


“ya allah yang. Jangan ngomong gitu ih. Lagian mas juga belom mau kamu jadi janda tau. Bahaya kalo jadi janda muka cantik gini banyak yang mau nanti.” kata Alex membuat Karin terkekeh. Alex yang melihatnya tersenyum. seenggaknya Karin mulai rilex.


“Ya udah aku keluar yaa nanti aku suruh mereka ke mobil ini.” Alex mengecup kening Karin lalu keluar dari mobil bergabung dengan bram dan yang lain.


“lama amat lo dateng. maklum bujuk Karin dulu. Dia lagi hamil gitu mana mau gue suruh dia keluar apa lagi sampe beneran steven itu di sana.” Bram manggut-manggut


“bener juga lo.”


“eh mana Sisil Rhiana sama Renata?”


“tuh di mobil gue suruh mereka tunggu di sana.” bram menunjuk mobil yang tidak jauh dari mobil Alex.


“yaudah gue kesana dulu.”


“ngapain?"


“nyuruh Karin pindah ke mobil mereka. Gue takut Karin kenapa-kenapa di mobil.” jelas Alex lalu kembali menuju Karin. Alex membuka pintu tempat Karin duduk.


“sayang pindah ke mobil daffa ya.Di sana udah ada Sisil Rhiana sama Renata.” Karin mengangguk dan segera keluar dari mobil menuju mobil daffa. Setelahnya Alex segera kembali bergabung  untuk penyergapan. 


“gimana udah pada mastiin Arin disana?”tanya Alex to the point.


“ya kita udah memeriksa cctv deket sini. Dan ada bukti Sandra yang nyeret Arin kesini.” jelas Jack.


“Kalo gitu kita kesana sekarang. Karna gue takut Arin kenapa-kenapa. Apalagi ngeliat Karin yang ketakutan gitu. Kayaknya steven berbahaya.”


“yaa lebih baik kita ke sana sekarang. Istri gue di dalem. Gue gak mau dia kenapa-kenapa. Gue belum perjuangin dia, gue sayang banget ama dia” kata Arbiyan frustasi.


“tenang biyan. Kita lagi atur stategi dulu.” jawab bram tenang.


“Kalo kelamaan Arin bisa dalam bahaya bram. Dia pasti ketakutan di sana.” desis Arbiyan kesal. Sungguh dia khawatir pada Arin.


“gimana! Kita masuk sekarang. Semua udah siap nih.” ujar daffa yang baru menghampiri mereka dengan polisi di sampingnya.


“oke kita kesana sekarang.” Jawab Jack. Mereka mengangguk dan segera mengendap masuk ke dalam gudang yang lumayan besar tapi di dalamnya hanya ada berbagai peralatan senjata tajam. Bahkan ada tiang untuk menggantung seseorang. Saat masuk mereka pun bisa mencium bau anyir darah. Bahkan banyak kain yang sudah penuh darah di sana.


“Kalian harus hati-hati. Melihat dari semua ini. Orang yang kita hadapi cukup berbahaya. Saya harap kalian tidak melakukan sesuatu sendiri.” ujar kepala polisi yang memimpin di depan.


“Biyan lo harus tenang. Jangan gegabah inget istri lo yang di sekap. Jadi kendalikan emosi lo itu.” Kata daffa. Dia bisa melihat Arbiyan yang sudah menahan amarahnya. Mereka masuk dengan perlahan. Melihat sekeliling. Hingga terdengar suara teriakan dari salah satu pintu. Dengan perlahan mereka mendekat. Beruntung pintu tidak tertutup rapat hingga mereka bisa melihat apa yang terjadi di dalam sana.


“lo liat gue akan hancurkan semuanya.Lo dan sahabat lo itu harus mati di tangan gue.” pekik Sandra yang berada di dalam sana. Terlihat di sana Arin yang di ikat di kursi dengan wajah yang sudah berantakan. Dengan Sandra yang berdiridi hadapannya memegang cambuk. Sementara itu dua orang duduk santai di sofa bahkan salah satunya tengah menghisap rokok.


Ctarrr....


Sandra  mencambuk tangan Arin hingga lengan baju pun mengeluarkan darah.


Arbiyan yang melihat itu mengepalkan tangannya. Saat hendak masuk dia di tahan oleh Jack yang sudah menggeleng. Membuat Arbiyan mundur kembali.


“dia wanita itu yang buat gue hancur , lo tau itu hah. Pria yang gue cintai di ambil sama dia. Dan kasih sayang papa diambil dia juga. Harta itu milik gue bukan milik dia.” kata Sandra berapi-api.


Arin tersenyum sinis meski tubuhnya sudah sangat sakit.


“cih. Pria mana yang udah di rebut Karin heh. Bukannya lo yang selalu ngerebut semua pria yang deket sama dia. Harta! Cih. Harta itu milik dia, itu hak Karin asal lo tau itu. Papa Karin bukannya udah jadi milik lo heh. Bahkan papa kandung Karin itu dengan tega buang dia bukan hanya buang tapi ngapus nama dia dari daftar keluarga. Apa lagi yang lo mau hah.” pekik Arin dengan emosi.


“apa maksud lo dengan Sandra yang buat Karin di buang dari keluarganya?” tanya orang yang tengah menghisap rokok tadi. Dia menatap tajam Sandra yang mulai ketakutan itu.


“cih Steven...steven lo bego banget. Lo bilang lo cinta sama Karin. Tapi lo malah bantu orang yang buat Karin menderita heh. Lo gila tau gak. lo buat sahabat gue makin menderita.” teriak Arin marah.


Ctarrr


Cambukan kembali Sandra berikan pada Arin. Hingga Arin memejamkan mata menahan rasa sakitnya. Dia harus kuat hingga bisa keluar dari tempat busuk ini.


“lo cuma terobsesi sama Karin stev. Lo Cuma mau buat dia menderita. Lo juga dengan tega bantu Sandra untuk menghancurkan Karin. Lo memang cocok dengan Sandra. Kalian buat sahabat gue hancur. Dia menderita bertahun-tahun sampai orang tua kandungnya mengusirnya dengan kejam.” lirih Arin membuat steven tersentak kaget.


“Lo janji bahagiain dia tapi lo yang buat dia menderita. Lo gak pantes buat dia stev.” Pekik Arin dengan membuka matanya.


Ctarrr


“diem lo  atau gue bunuh lo sekarang juga.” bentak Sandra. Steven bangun dari duduknya melangkah mendekati Arin. Dia mengeluarkan pisau kecil dari sakunya.


“lo tau rin. Dulu gue cinta sama dia. Gue memuja dia. Iapi apa yang gue dapetin hah. Dia pergi dari gue. Dia jauhin gue gitu aja.” bentak steven lalu menggoreskan pisau pada lengan  Arin hingga mengeluarkan darah.


“agghhh sakit lo stev.” teriak Arin dengan meringis menahan sakit.


“yaa gue emang sakit. Gue mau Karin hancur kayak dia buat hati gue hancur.  Gue bakal bunuh lo biar dia nyesel buat hati gue hancur. Dia bahkan menikah dengan pria sialan itu. Pria yang udah ngehancurin dia. Pria yang kerja sama buat ngerusak dia lo tau itu hah.” Bentak steven dengan nada tinggi. Arin  yang mendengarnya menegang. Bahkan mereka yang di luar langsung menatap tajam Alex.


“akan gue ceritain nanti. Sekarang fokus ke Arin.” kata Alex datar meski hatinya mulai gelisah sekarang.


“Lo tau tapi lo gak ngelindungin dia lo malah kerja sama nih cewek.” bentak Arin dengan amarah yang sudah tidak terbendung lagi. Suara tawa menggema membuat Arin menatap orang yang duduk santai di sofa.


“untuk apa dia ngelindungi wanita itu heh. Apa untungnya buat dia. Bahkan jika bisa dia harus lebih hancur lagi.”ujarnya sinis. Arin tersenyum miring.


“dengar nyonya dia akan bahagia sekarang nanti dan selamanya. Saya yang akan pastikan dia akan bahagia. sudah cukup penderitaannya karna ulah kalian. sudah cukup air mata kesedihan dari Karin. Kalian akan hancur dan itu akan saya pastikan terjadi. Kalian akan menyesal sudah membuat Karin hancur.” ancam Arin membuat steven dan Sandra tertawa.


“dia yang akan hancur. Dia harus hancur karna gue dan stev yang akan buat itu terjadi. Lo tau gue sekarang lagi nunggu kedua anaknya itu dibawa kesini menemani lo di sini.” ujar Sandra membuat Arin membelalak mata.


Alex yang mendengar langsung merogoh ponselnya dan menghubungi Rhiana menyuruh mereka pulang sekarang. Lalu menghubungi orang kepercayaannya mengamankan rumahnya.


Arbiyan yang sudah tidak tahan lagi langsung menerobos masuk ke dalam. Membuat Sandra steven dan wanita yang duduk di sofa bahkan Arin kaget.


"B*********k KALIAN." Teriaknya lalu menghantam steven hingga jatuh. Dia dan wanita itu membelalak mata. Dengan cepat mereka lari dari sana. Tapi wanita itu mengeluarkan pistolnya dulu mengarahkan pistol itu pada Arin yang sudah gemetar menatap Arbiyan dan steven yang sudah berkelahi. Hingga suara tembakan membuat Arbiyan steven juga Arin membeku.


DORRRDORRR