
Kehamilan Karin yang kini telah memasuki usia 9 minggu. Setelah beberapa minggu dia di rumah sakit selain mengurus putranya Avaro. Juga mengurus mama Nissa serta Arin. Meskipun di bantu pula dengan yang lain. Kini semua sudah kembali normal.Kembali melakukan aktifitas seperti biasa. Meski Karin harus merasakan ke posesif yang ditunjukan Alex padanya. Tapi cukup menyenangkan. Maklum saja saat Avaro dan Alisha dia tidak di dampingi Alex. Boro-boro di temani bahkan orangnya di mana saja Karin tidak tau bukan malah mungkin tidak ingin tau.Karna ulah bumil itu. Berdampak besar pada keluarga. Dari sisil yang di paksa untuk pindah kuliah dari london. Hingga Rhiana dan Renata yang di paksa tinggal di rumahnya. Bukan tanpa alasan dia memaksa ketiga wanita itu. Mereka akan dijadikan tempat Karin saat ngidam. Aneh memang bukan meminta pada Alex dia malah memaksa ketiga wanita itu yang memenuhi keinginannya.
Seperti saat ini, Karin ingin Renata mencarikannya mangga muda yang masih dari pohon. Dan harus Renata yang memanjatnya. Rasanya Renata ingin tenggelam saja. Manjat, mungkin dia bisa tapi turunnya itu loh. Dia gak bisa sama sekali turun.
“ Kak Karin yang bener aja dong. Jangan manjat deh, yaaa.” pintanya dengan memelas.
“no, manjat ih, aku udah kepengen banget nih mangga itu yang di ujung.” Karin menunjukan mangga yang tempatnya lumayan menyeramkan. Paling atas dan sedikit ke pinggir. Kalo anak kecil mungkin bisa. Tapi ini Renata loh badan berat gini.
“buruan deh kak Ren manjat. Panas kali kita tegak ke gini. gerutu Rhiana. gimana gak mereka cuma berdiri menatap mangga dari tadi tanpa ada yang berani manjat.
“gila lo rin. Lo aja yang ambil kalo berani. Gimana kalo kita suruh bang bram atau gak bang Biyan deh mereka bisa manjat kan?” saran Renata dengan wajah memelas pada Karin. Karin menghela nafas pelan.
“oke telepon mereka sekarang deh.” ujar Karin pasrah. Dengan sangat cepat Rhiana langsung menghubungi kedua orang itu. Sambil menunggu mereka duduk di halaman rumah. Cukup agar tidak terkena matahari. Selang beberapa menit yang di tunggu datang. Malah sekarang yang datang.Bram, Arbiyan, Jack dan Alex. Paket lengkap sekalikan.Jika seperti ini mah Karin bisa meminta apapun.
“sayang kamu kenapa hm? Kata Rhiana darurat kenapa. Kamu sakit. Dedeknya baik-baik aja kan.” tanya Alex dengan panik menatap istrinya itu.
“aku baik kok. Aku cuma minta abang bram manjat pohon aja kok.” jawab Karin dengan sok polos membuat Rhiana, sisil, dan Renata cekikikan.
“what! manjat, kamu waras kan dek. Abang mana bisa manjat dek.” seru bram membuat Karin mengerucut bibir.
“pokoknya kalian harus manjat kalo perlu semuanya. Ambilin aku mangga itu. Titik gak pake koma apa lagi tanda seru.” Ujar Karin dengan nada perintahnya.Mereka membelalak mata. Menatap pohon juga Karin bergantian.
“manjat sana gih kasian kali nanti ponakan abang ileran tau rasa loh.” Seru Renata membuat mereka mendelik.
“Udah deh kalian manjat gih kasian anak gue.” ujar Alex santai.
“yang kok aku juga sih, aku gak bisa manjat loh. Kamu tega gitu nyuruh aku manjat yang.” ujar Alex dramatis membuat Karin memutar bola mata malas.
“Ck ini anak kamu loh yang minta mas. Enak aja mau buat giliran aku ngidam gak mau nurutin. Sana manjat, bang Bram sama bang Arbiyan juga sana gih. Bang Jack buat bumbu ya aku mau ngadem sama mereka.” Karin menunjuk Renata,Rhiana dan sisil.
"beli aja deh dari pada manjat repot.”saran Arbiyan membuat Karin mulai berkaca-kaca.
“kalian cuma aku minta manjat aja susah banget. Ya udah sana balik lagi ke kantor.” usir Karin kesal. Mereka yang mendengar itu tentu senang. Tidak di perintah dua kali mereka langsung melangkah pergi dari sana. Alex juga mencium kening Karin sebelum menyusul mereka.
"WEY ABANGG. KARIN BANG.GILA KALIAN SEMUA HAH"teriak Renata histeris.Gimana nggak itu si Karin nekat manjat sendiri loh. Bahkan dengan santainya dia manjat dengan mudah. Mereka yang mendengar teriakan Renata langsung berbalik dan membelalak mata.
“masyaallah. Bini guee. Karin turun sayang.” pekik Alex sambil berlari menghampiri Karin yang sudah memanjat.
“Karin turun deh. Gila kamu ya inget lagi hamil dek turun.” pinta Jack pula.
“diem kalian. Aku gak butuh kalian semua pergi sana.” usir Karin dengan terus memanjat. Hingga dia duduk pohon itu dengan santai.
“WOW KEREN JUGA DARI SINI.PAPA KARIN DISINI." teriak Karin dengan melambaikan tangan. Saat melihat papa dimas di balkon rumahnya.
Papa dimas yang melihat anaknya itu membelalak mata.
“ya allah anak gue. Astaga, mah..anak kamu manjat pohon ma.” teriak dimas