
Seusai makan siang, Nara mengajak kedua anaknya untuk masuk ke ruangannya. Ia berdalih pada anaknya untuk segera mengerjakan pr. Sedangkan di meja makan, Bian terdiam sendiri, ia bingung harus berbuat apa sekarang.
Beberapa saat kemudian, ia menghampiri seorang pelayan, ia menanyakan dimana ruangan Nara.
"Mbak, ruangan wanita yang tadi dimana yah?" Tanya Bian pada pelayan wanita.
"Mas naik saja ke lantai dua, disana ada pintu berwarna cream." Ucap pelayan itu.
"Oh, iya. Makasih." Ucap Bian sambil beranjak pergi.
"Alh, mas? Mas?" Panggil pelayan itu. Namun, Bian sudah tak lagi berada di jangkauan pelayan itu.
"Aduh, gimana ini. Kan habis pintu warna cream itu belok kiri, terus disana ada pintu warna putih. Baru ruangan Bu Nara." Gumam pelayan itu.
"Apa, aku susul aja yah." Gumamnya lagi.
Baru saja pelayan itu akan beranjak pergi untuk menyusul Bian, tiba-tiba saja temannya memanggil dirinya untuk mengantarkan makanan.
Bian terus berjalan menapaki tangga, sesampainya di lantai dua ia begitu tercengan, ada begitu banyak pintu berwarna cream. Tanpa banyak bertanya, Bian membuka satu persatu pintu berwarna cream itu.
Ceklek!
Bola mata Bian membulat,ukurnya terbuka lebar.
"M--maaf saya salah ruangan!" Ucap Bian yang langsung menutup kembali pintu dengan keras. Bian mengusap dadanya,ternyata pintu berwarna cream adalah ruang VIP di caffe ini. Bian menelan salivanya kasar, Baru saja matanya ternodai oleh adegan tak senonoh yang ia lihat. Bagaimana bisa seorang laki-laki tua sedang mencumbu wanita muda.
"Dasar pedofil!" Gumam Bian sambil mengelus dadanya.
Bian menghentikan langkahnya, ia duduk di salah-satu sofa yang ada disana. Tak lama, terdengar suara derap langkah kaki. Bian menoleh ke arah suara tersebut, bibir Bian mengembang sempurna saat melihat siapa yang berjalan.
Bian langsung menghampiri orang tersebut.
"Hey," ucap Bian mengejutkan Nara dari arah belakang.
"Copot, copottt, eh... Copot!" Latah Nara.
"Ha ha ha ha," gelak tawa Bian terdengar begitu puas. Nara memandang Bian dengan tatapan membunuh. Sontak saja Bian langsung menghentikan tawanya.
"Ekhmm, g-gue mau,"
"Mau apa?" Sentak Nara.
Buset, galak bener ini janda. Batin bian.
"Gue?" Ucap Bian sambil berpikir keras.
"Gue, belum tahu nama Lo. Jadi ayo kita kenalan!" Ucap Bian smabil mengulur kan tangannya.
Alma tetapi, bukannya menerima uluran tangan Bian, Nara malah berucap.
"Pintu luar di sebelah sana!" Ucap Nara sambil menujuk pintu keluar di lantai 1.
"Kenalan dulu, baru gue keluar." Ucap Bian kekeh.
Nara memandang Bian dengan tatapan jengah, Nara berjalan ke kiri, Bian ikut ke kiri, bra berjalan ke kanan, Bian ikut jalan ke kanan.
"Mau Lo apa sih?" Sentak Nara kesal.
"Mau gue, kenalan sama Lo!" Ucap Bian.
"Saya sudah punya suami." Ucap Nara.
"Bagus dong, jadi saingan gue buat dapetin Lo cuma satu orang." Ucap Bian dengan bangga.
"Gak waras!" Umpat Nara.
Baru saja Nara melangkahkan kakinya, Bian langsung merentangkan tangannya guna menghalangi jalan Nara.
Nara memejamkan matanya, ia juga mengatur napasnya. Ruang VIP saat ini semuanya terisi dan ia tak mau mengganggu tamu-tamunya hanya untuk berdebat dengan orang tak waras seperti Bian.
"Ikut gue!" Ucap Nara.
Bian tersenyum menang, memang itu niatnya. Ingin masuk ke dalam ruangan Nara.
Ceklek.
Vina tak sepintar vino, maka dari itu vino selalu siap siaga menjelaskan sang mengajarkan adiknya.
"Mama?"
"Papa?" Ucap mereka berdua pada Nara dan Bian.
Nara sontak membulatkan matanya. "Sayang, dia bukan papa kalian." Ucap Nara pada kedua anaknya.
"Papa lagi kerja oke," ucap Nara memberi pengertian pada kedua anaknya.
"Mama bohong, buktinya mama sering nangis kalo lihat Poto yang ada di laci meja mama. Terus mama juga sering bilang, semoga bahagia di surga. Kata Bu guru, surga itu tempatnya orang yang sudah meninggal." Tutur Vino dengan wajah sendu.
Deg.
Hati Manda bagai di tusuk ribuan pisau, ternyata anaknya tahu jika ia sering menangisi Arga. Tapi, faktanya Vino dan Vina bukan anaknya dengan Arga.
Tes.
Tes.
Air mata Nara jatuh secara perlahan, ia kemudian memeluk kedua anaknya. Bian sendiri merasa sangat prihatin pada kedua anak kembar itu.
"Shhh," ringis Bian sambil.megusap wajah dan area tangannya.
Sontak saja ringisan itu mengalihkan perhatian Nara. Nara membulatkan matanya saat melihat wajah Bian yang di penuhi bintik-bintik merah.
"Astaga, Lo kenapa?" Tanya Nara terkejut.
"Arrgh, gue alergi udang." Ucap Bian sambil menggaruk wajah dan bagian lainnya.
"APAA??" Teriak Nara.
"Sayang, kalian belajar lagi yah. Mama mau obatin dulu papa kalian." Ucap Nara uang tanpa sadar mengakui Bian sebagai papa dari kedua anaknya.
Nara membuka lemari yang ada di ruangannya.
"Huh, untung masih ada." Gumam Nara saat mengambil obat alergi milik Vino yang pernah terserang alergi. Bahkan alergi yang di miliki Bian pun sama seperti Vino, yaitu alergi udang.
Bahkan tanpa sadar, saking paniknya Nara membawa Bian ke dalam kamarnya yang ada di ruangan itu. Ia membantu Bian berbaring, lalu memeriksanya. Peralatan dokter milik Nara masih lengkap, dan ia selalu membawanya kemana-mana. Antisipasi jika anaknya sakit. Setelah itu Nara memberikan obat pada Bian.
***
Di bawah sana, tepatnya di depan cafe, Armed mondar-mandir mencari keberadaan Bian. Ia juga sudah menelpon Ian berkali-kali tapi tak kunjung mendapatkan jawaban.
"Astaga, Bian!!! Lo kemana sih." Gumam Armed.
Karena jenuh menunggu Bian, Armed kini masuk ke dalam caffe untuk memesan sebuah minuman.
Sedangkan di atas sana, Bian sudah mulai lebih baik, bahkan saat ini Bian tengah tertidur karena dosis obat yang di makan oleh Bian memiliki efek mengantuk.
"Ck, menyusahkan!" Gumam Nara. Kemudian penglihatan nya teralihkan pada wajah Bian lebam-lebam.
yang "Ck, gengster kali dia." Gumam Nara lagi.
Namun, tak ayal. Nara mengambil air untuk mengompres wajah Bian yang lebam. Ia juga mengoleskan salep ke wajah Bian, sesekali ia sengaja menelan luka di wajah Bian. Ia sangat menikmati wajah meringis Bian di alam bawah sadarnya.
Tiba-tiba si kecil vino dan Vina masuk ke dalam kamar.
"Papa kenapa mah?" Tanya vino dan Vina.
"Ah, dia hanya alergi." Jawab Nara
seadanya.
Setelah itu ia membawa kedua anaknya untuk duduk di sofa yang ada disana.
"Sayang, dengerin mama." Ucap Nara sambil bersimpuh di hadapan kedua anaknya. Vino dan Vina hanya memandang mamanya dengan intens.
"Dia bukan papa kalian. Jadi, kalian jangan manggil dia papa. Kalo di sudah punya anak sama istri gimana? Vino sama.vina gak masukan rebut papa orang?" Ucap Nara pada kedua anaknya.
"Maafin kita ma," cicit vino dan Vina.
Bersambung..