My Baby Twins

My Baby Twins
Chapter 36



Karin berlari sepanjang lorong rumah sakit. Air matanya tidak berhenti mengalir. Tadi dia mendapat kabar mama Nissa di rumah sakit dan saat perjalanan ke rumah sakit. Kabar buruk kembali menerpanya. Avaro di kabarkan terbaring pula di rumah sakit. Bahkan dia seolah menuli saat yang lain juga Alex berulang kali mengingatkannya untuk tidak berlari. Perasaannya sudah kalut saat ini dua orang yang dicintainya terbaring di  rumah sakit. Saat sampai di ruangan rawat Avaro dia melihat Avaro, Alisha juga Arkana tidur bersama. Beruntung ranjang rawat  Avaro cukup untuk menampung ketiga tubuh  kecil itu. Di sana juga ada sisil dan Renata yang duduk  di sofa.


Karin menghampiri anak-anak itu dan menatap miris tangan putranya yang di tusuk jarum infus itu.


“kenapa dengan Avaro. Apa yang terjadi sampai dia seperti ini?” tanya Karin lemah tanpa menatap kedua adiknya yang sudah berdiri di dekat Karin.Saat akan menjawab pintu kembali terbuka. Alex,Jack,daffa juga bram dan Rhiana masuk ke dalam. Alex langsung mendekati anaknya menatap sedih Avaro pula.


“dokter bilang Avaro terlalu syok, juga sepertinya saat penjahat itu akan mengambil mereka. Kepala Avaro tersantuk sesuatu. Juga Avaro terluka di bagian lengannya. Tidak parah memang. Hanya sepertinya Avaro akan mengalami trauma sementara.” jelas Renata membuat Karin lemas seketika. Beruntung Alex di dekatnya langsung menangkap tubuh Karin yang akan jatuh itu. Karin menangis di pelukan Alex. Begitu juga Alex, dia sangat terpukul dengan keadaan putranya yang sangat memprihatinkan. Jack  mengepalkan tangannya. Dia begitu marah saat ini. Melihat adik sepupunya dan juga ponakannya itu.


“aku akan membunuh mereka semua. Mereka sudah berani mengganggu keluarga kusuma.” geramnya marah. Bram menepuk pundak Jack


“kita akan membuat perhitungan untuk mereka..”


“yaa jika perlu gue sendiri yang akan menyiksa mereka.” geram daffa.


“lebih  baik gantung mereka di tengah buaya biar di cabik secara perlahan.” timbal Rhiana geram. Dia begitu marah melihat Karin juga ponakannya yang tidak berdaya akibat kelakuan Sandra Steven itu.


“ngomong ngomong gimana empat orang yang masuk ke ruman Alex.” Tanya bram menatap sisil juga Renata.


“mereka udah ditangani om dion, orang kepercayaan papi. Lagi pula tadi aku sudah membuat mereka makin menyesali perbuatan mereka.” kata Renata santai membuat mereka mengernyit dahi.


“Renata ngebuat empat orang yang babak belur itu makin parah. Nendang perut, nginjek kaki juga tangan pake tuh sepatu lancip itu.” sisil menunjuk kaki Renata yang menggunakan heels rendah tapi runcing bagian belakangnya itu. Mereka meringis menatap kaki Renata yang menggunakan heels tersebut.


“sil, mama gimana? Mama di mana? Mama baik-baik aja kan?” tanya Karin setelah ingat mama Nissa juga masuk ke rumah sakit. Sisil menghela nafas pelan.


“aku bingung jawabnya, di katakan baik gak mungkin.Yang jelas aunty sekarang di ruang rawat juga. Aunty tadi sempet kritis. Beruntung aunty masih di sayang Allah hingga masih bisa melewati masa kritisnya. Hanya saja sampai saat ini aunty belum juga sadar. Dokter bilang kalo aunty gak sadar dalam waktu dua hari. Maka aunty akan dinyatakan koma.” jelas sisil membuat Karin membekap mulutnya.


Air matanya makin deras.Begitu berat cobaan yang dialaminya dalam waktu satu malam.


“kak arin gimana keadaannya bang?” tanya Rhiana.  Lagi bram yang menghela nafas.


“Arin juga sama kayak aunty. Sampai saat ini belum sadar. Dokter berharap arin gak mengalami trauma. Karna jika terjadi. Mungkin arin gak akan bangun.Dia terlihat takut untuk sadar. Takut untuk mengalami hal itu kembali. Dokter hanya bilang untuk terus mengajak arin bicara. Agar dia mampu bertahan dan melawan rasa takutnya.” Mereka yang mendengar langsung lemas.


Tidak ada yang mampu berkata lagi. Cobaan yang dialami keluarga mereka sungguh membuat goyah. Alex terus menenangkan Karin yang menangis tanpa henti. Rhiana, Renata juga sisil ikut menangis. Keluarga mereka harus di hadapkan dengan cobaan. Hanya satu harapan mereka semua kembali seperti semula. Bahagia bersama keluarga tanpa kehilangan satupun.


****


.