
Karin Renata sisil dan Rhiana yang diam di dalam mobil tengah harap cemas menunggu. Hingga sisil melihat ada dua orang pria yang keluar dari tempat itu.
“Kok orang itu mencurigakan yaa.” Gumam sisil yang di dengar mereka. Merekapun menatap orang yang mencurigakan itu.
“hem bener juga ya sil. Kok gelagatnya aneh gitu yaa.”
“ya kan. jadi ngerasa ada yang gak beres malah Ren!"
“gue juga sama.duh kalian buat aku jadi curiga juga nih, mana perasaan aku gak enak gini lagi. gini aja kita bagi tugas gimana? “
“bagi tugas gimana kak?”
“Sisil sama Renata ikutin mereka pake mobil mas Alex. Biar aku sama Rhiana di sini.” saran Karin. Mereka menganggukkan kepalanya.
“oke kalo gitu kita ke mobil mas Alex sil. Tapi kuncinya kak?” Karin merogoh tasnya dan memberi kunci mobil pada Renata.
“kalo gitu kami pergi ya kak, sil jagain kak Karin yaa." Rhiana mengacungkan jempolnya.
“beres tenang aja serahin sama gue. kalian hati-hati ya. Kalau perlu bantuan telepon aja papa frans minta kirimin bodyguard, mau gak?” tanya Karin. Ia cukup khawatir dengan keselamatan dua adiknya apalagi mereka di hadapkan dengan steven yang sakit jiwa itu.
"boleh deh kak. Nanti kirim aja nomor om Frans ke sisil ya. Kita pergi sekarang.” Renata dan sisil segera berlari menuju mobil Alex dan melesat mengikuti orang yang mereka curigai. Sementara itu Rhiana dan Karin masih memperhatikan rumah itu. Hingga beberapa menit mereka hanya diam dengan pikiran masing-masing. Sampai lamunan mereka buyar saat mendengar suara tembakan mengagetkan mereka. Mereka saling menatap lalu segera keluar dari mobil. Berjalan cepat masuk ke dalam rumah itu. Karin dan Rhiana membelalak mata saat melihat isi rumah yang sangat mengerikan.
“astaga ini rumah apa tempat pembunuhan, sadis amat dah.” Celetuk Rhiana.
“Rin mending buruan deh. aku mual nyium bau anyir darah gini ih.” kata Karin sambil menutup mulutnya. Mereka segera mencari keberadaan yang lain.
"kak kayaknya di sana deh kak. Kita ke sana yuk.” Rhiana menarik Karin menuju tempat di mana terlihat daffa tengah berdiri sendirian.
“mas daffa.” panggil Karin membuat daffa memutar badannya.
“kok kalian di sini? Karin nanti kamu di marah Alex Rin.”
“gak peduli deh, mas daffa aku denger suara tembakan tadi. Siapa yang ditembak mas?” tanya Karin panik sementara Rhiana langsung masuk ke ruangan itu.
“elah gue kira dia mati gak taunya kagak mati.” celetuk Rhiana dengan suara keras membuat semua menatapnya. Karin bahkan langsung masuk ke dalam. Karin memperhatikan semuanya. Disana steven sudah terluka parah, Sandra yang terluka di lengan dan kakinya. Seperti luka karna tembakan yang cukup mengeluarkan banyak darah. Sementara Arbiyan yang tengah memeluk Arin yang lemah. Memang dia tidak pingsan hanya saja arin terlihat sangat memprihatinkan.
Tadi saat sebelum suara tembakan terdengar. Mereka melihat Sandra itu membidik arin, sebelum kena Arin, Jack lebih dulu menembak Sandra yang meleset malah terkena lengan Sandra. Tapi di saat yang sama satu tembakan lagi yang berasal dari daffa tepat di kaki Sandra. Hingga pistol yang akan mengarah pada arin terlempar karna tendangan bram.
Lalu mereka bergantian menghajar steven. Bahkan Arbiyan yang kehilangan kendali karna melihat istrinya kacau menginjak kaki steven kuat. Saat Karin masuk matanya langsung mencari suaminya keliling tempat itu .
“bang Jack, mas Alex mana.” Tanya Karin panik. Gimana gak panik kalau suaminya gak ada disana. Sedangkan di luar hanya ada daffa.
“dia disana deh. Mungkin lagi babak belur sekarang.” jawab Jack dengan rahang mengeras membuat Karin mengernyit dahi.
“kenapa bang? Apa yang terjadi di sini?” tanya Karin penasaran. Tapi saat Jack hendak menjawab suara tawa Rhiana memenuhi ruangan hingga semua menatap Rhiana yang menatap sengit Sandra meski dengan tawa yang membuat orang cukup bergidik ngeri.
“cih. Bener dugaan gue selama ini. Ternyata lo manusia sakit itu. Bahkan untuk disebut manusia aja lo gak pantes.”kata Rhiana dengan tajam setelah dia menghentikan tawanya.
“Harusnya lo udah mati bukan hanya luka tembak kek gini.” kata Rhiana lalu dengan sengaja menendang tepat di luka tembak itu. Membuat Sandra mengerang kesakitan.
“segini belum cukup buat lo buat kakak gue frustasi dan hampir gila bertahun- tahun. Semua cuma karna cewek kayak lo ini, San ini belum seberapa jadi jangan teriak kayak gitu dong. Karna lo juga kakak aku di usir dari rumah. DAN SEKARANG LO BERANI BUAT KAKAK AKU YANG LAIN TERLUKA HAH.” ucap Rhiana emosi bahkan di akhir perkataannya dengan nada tinggi membuat semua diam.
Bram yang tadi tidak berada dekat sana juga kaget. Alex dengan luka di tubuhnya juga menatap kaget Rhiana yang menggenggam erat luka tembak itu. Polisi yang mencoba menghentikan aksi Rhiana di tahan oleh Jack dan daffa. Karin mendekati Arbiyan dan mengecek Arin. Sungguh dia tidak sanggup melihat kondisi arin.
“bawa arin ke rumah sakit sekarang bang. Jangan hanya diam dan menangis seperti ini. Cepat sebelum arin banyak kehilangan darah.” perintah Karin. Arbiyan segera bangun dan mengangkat Arin keluar dari tempat itu di ikuti Bram. Karin menghirup udara yang sangat buruk itu. Memejamkan mata sejenak lalu membukanya lagi. Dia menatap sendu Alex yang terluka. Alex juga menatapnya sendu meski Alex tidak berani mendekat. Hingga Karin memutuskan tatapannya. Bukan saatnya melihat Alex dengan cinta. Dia harus menyelesaikan segalanya dulu.
Karin melangkah mendekati Rhiana. Menatap datar wanita yang berteriak histeris itu. Ditepuknya pundak Rhiana sampai Rhiana menghentikan aksinya. Dia mendongak menatap Karin.
“puas kan, jika belum kak Sandra bisa lakukan lebih lagi. kakak butuh uang? Jika memang uang yang membuat kakak seperti ini maka gue akan berikan berapapun yang kakak mau. sekarang kak Sandra sudah puas membuat aku menderita. Atau kamu masih mau membuat aku makin menderita hmm?”
Dia beralih pada steven yang di tahan seorang polisi.
“steven, ini maksud kamu dengan akan melindungiku? Akan menjagaku. kamu mau tau kenapa aku menjauh dari kamu. itu karna aku tau kamu psikopat selama ini. Aku gak mau kamu jadi PEMBUNUH stev. Tapi ternyata diamnya aku malah membuat kamu jadi jahat gini ya sama aku.”kata Karin dengan penekanan serta tatapan kecewanya.
“kalian semua sebenarnya kenapa gini sama aku hah. Apa salah aku ama kalian. Aku bahkan gak pernah ganggu kalian. Aku diam saat kak Sandra menghina dan merendahkan aku. Aku diam saat melihat steven membunuh para wanita yang menghina bahkan mereka yang menyentuh aku dengan niat jahatnya. Lalu kenapa kalian seperti ini HAH.APA SALAH KU APA!” teriak Karin dengan air mata mengalir deras. Dia langsung jatuh terduduk karna lemas. Beruntung Rhiana berada di dekatnya yang langsung menahan tubuh Karin.
“Bahkan aku tau dulu mas Alex yang kerja sama dengan kak Sandra untuk menghancurkanku.” lirih Karin pelan meski masih terdengar yang lain, dengan air mata yang mengalir deras. Alex serta yang lain tersentak kaget. Alex sendiri membeku di tempat. Tadi sebelum Karin datang mereka sudah sepakat untuk tidak memberitahu Karin. Meski Alex harus terkena hantaman para sepupu Karin.
“kenapa kak Sandra jahat. Kenapa kak Sandra tega ngehancurin masa depan aku dulu. Kenapa lo buat papa gue jauh dari gue. Apa salah gue selama ini hah.” Bentak Karin yang hanya dibalas senyum sinis Sandra.
“lo mau tau salah lo, itu karna papa lebih sayang sama lo. Itu karna harta yang gue kira punya papa ternyata punya lo.Dan karna lo bisa kuliah keluar negeri sementara gue. Cih. Gue benci liat pendusta kayak lo."
Plakkk..
Tamparan Karin membuat mereka membelalak mata. kaget. Jelas, selama ini Karin jarang bermain kasar. Dia malah lebih banyak diam.
“LO B********K . LO GAK PUNYA MALU. HARGA DIRI LO BAHKAN GAK ADA HAH.KURANG APA GUE SELAMA INI SAMA LO. GUE HARAP LO MEMBUSUK DI PENJARA. KARNA GUE YANG AKAN NUNTUT LO.” Teriaknya dengan wajah memerah. Rhiana yang di sampingnya langsung memeluknya erat. Dia tau Karin sangat sakit saat ini. “cukup sandiwara ini. Gak capek kamu sandiwara jadi yang tertindas heh. Kamu gak tau diri. Bahkan gue rela ngejer cewek kayak lo. Cih bodoh banget gue yaa.” Ujar steven terkekeh.Membuat para sepupu Karin mengeram kesal.
Buggh Bughh Bughh
Tinjuan kuat menghantam steven lagi. Bukan berteriak kesakitan dia malah tertawa. Seolah itu tidak ada apa-apa.
“Lo bener-bener perlu dirawat." geram Jack kesal. Bram dan daffa menghajar steven bergantian bahkan darah banyak keluar dari tubuh steven. Anehnya dia malah tertawa.
“ dari pada menyiksa kami lebih baik kalian berdoa saja sana.” ujar Sandra sinis di sela sakitnya.
“berdoa anak kamu selamat.” tambahnya dengan seringainya menyentak Karin. Belum sempat bertanya ponsel Karin berdering. Dia segera mengangkatnya. Tidak lama ponsel jatuh dengan air mata yang mengalir deras. Membuat mereka penasaran.
“Karin ada apa Rin?” tanya Jack. Tapi bukan menjawab Karin menatap sengit Sandra.
Plakk plak
Karin menampar keras Sandra. Menatap tajam sandra juga steven. makin membuat semua penasaran.
"JIKA TERJADI HAL YANG BURUK PADA MAMA, KALIAN YANG AKAN AKU HABISI PALING DULU.”teriakan menggelegar Karin membuat semua membeku di tempat, Sandra serta steven membelalak mata heran. Bukankah anak Karin sasaran mereka lalu kenapa orang lain.Sementara Karin langsung pergi di ikuti Rhiana Jack dan daffa.
“akan saya pastikan kalian membusuk di penjara.” ujar Alex dingin sebelum menyusul Karin dan yang lain. Sandra dan steven langsung di ringkus oleh polisi saat itu juga.