
Renata dan sisil sudah melaju mengikuti mobil yang dikendarai dua pria yang mencurigakan itu. Saat tengah mengendarai mobil ponsel Renata berdering.
Renata merogoh ponsel di saku celananya. Baru memberikan langsung pada sisil
“sil coba lo liat nih siapa yang nelpon.” sisil melihat nama Alex tertera di layar ponsel itu. Dia segera mengangkatnya.
“ hal-“
“ dek, kalian langsung balik ke rumah sekarang. Avaro Alisha juga Arkana dalam bahaya dek. Suruh Renata yang bawa mobil. Tapi ingat jangan buat Karin panik.”
“apa maksud abang mereka dalam bahaya.”
“nanti abang jelasin semuanya. Pulang sekarang cepat.” Perintah Alex dengan penekanan.
Sisil segera menganggukkan kepalanya.
“Oke bang. kita langsung ke rumah.” tanpa menunggu ucapan Alex ,sisil segera memutuskan sambungan teleponnya.
“kita ke rumah sekarang Ren." kata sisil panik.
“ada apa? Ngapain ke rumah?”
“anak-anak dalam bahaya buruan.” Ujar sisil. Renata yang mendengarnya panik dan langsung melaju ke arah rumah tanpa mengikuti mobil tadi lagi.
Sisil segera menghubungi mana Nissa. Tapi ponsel mama Nissa tidak aktif. Menelpon ke rumah juga tidak aktif.
“astaga firasat aku gak baik Ren, buruan ngebut sekarang Ren.” ujar sisil makin panik. Renata mulai menambah kecepatan mobilnya. Beruntung kendaraan tidak terlalu ramai.
“sil hubungi papi gue sil.” kata Renata meski fokusnya masih ke depan. Sisil segera menghubungi papi arya. Sambungan pertama tidak di angkat hingga sambungan ke tiga.
"hallo Renata!!"
“hallo ini sisil om, sisil gak bisa jelasin sekarang. Tapi tolong om suruh orang ke rumah kak Alex om. Karna mereka yang di rumah lagi dalam bahaya om.” Kata sisil saat telponnya diangkat.
"kalian di mana! Siapa yang ada di rumah?”
“duh om. Di rumah ada twins sama arkana om. Ada mama Nissa sama tante juga. Kita bahkan lagi di jalan menuju ke rumah.”
“oke kalo gitu om akan suruh orang ke sana dalam 10 menit."
“oke om buruan yaa.” sisil mematikan sambungannya. Dia menatap ke depan dengan pikiran melayang ke mana-mana.
****
Sementara di rumah. Saat mama Nissa dan Mami Dewi tengah duduk di ruang keluarga. Ada empat orang memakai baju hitam akan masuk ke dalam.
Prangg
Suara pecahan kaca membuat mereka tersentak kaget. Saat akan memeriksa keluar ternyata empat orang itu sudah masuk dan menatap tajam mereka.
“siapa kalian. Mau apa kalian ke sini hah.” teriak mama Dewi.
“pergi kalian semua.” ujar mama Nissa pula. “apa mau kalian hah. Kalian pergi atau saya lapor polisi sekarang.” balas mama Dewi sengit.
mereka tertawa dengan suara menyeramkan. Mereka melangkah mendekati mama dan mami hingga mereka mundur.
“mereka gak ada di sini. Lebih baik kalian pergi sekarang.” usir mama Nissa. Tanpa memperdulikan mama Nissa dan mami Dewi. Salah seorang dari mereka mengkode untuk mencari Alisha juga Avaro.
“hey apa yang kamu mau pergi sekarang.” bentak mama menarik baju salah seorang yang akan naik ke lantai dua.
“minggir, gue gak ada urusan sama nenek tua kayak lo.” sentak pria itu. Tapi mama Nissa tetap mempertahankan pegangannya hingga naik ke atas tapi saat sampai di tangga atas salah seorang temanya mendorong kuat mama Nissa hingga pegangan pada baju pria satunya terlepas dan mama terpeleset jatuh ke bawah.
“NIIISSAAA.” teriak mami Dewi kaget. Dia berlari menghampiri mama Nissa yang sudah jatuh ke bawah.
“Nissa bangun nis. Kamu harus sadar nis.”kata mami Dewi panik dia menepuk pelan pipi mama Nissa.
“TOOOOLLOOONG” teriak mami Dewi sambil menangis dan memeluk mama Nissa yang sudah tidak sadarkan diri. Bahkan darah dari kepalanya mengalir deras. Saat itu di pergunakan dua lainnya untuk naik ke atas.
Saat empat pria itu di atas. Pengawal papi arya serta papa frans sampai di sana, orang kepercayaan mereka langsung memerintahkan anak buahnya mencari ke empat orang itu. Sementara frans juga Jovan segera membawa mama Nissa ke mobilnya di ikuti mami Dewi.tepat saat mana dan mami masuk ke mobil Renata dan sisil datang.
Dion orang kepercayaan papi Renata itu segera menghampiri Renata dan sisil. Sementara farhan membawa mama Nissa dan mami Dewi ke rumah sakit.
“om Dion apa yang terjadi” tanya Renata panik menatap mobil yang keluar dari rumah.
“Nyonya Nissa mengalami luka yang cukup parah. Tapi saya tidak mengetahui apa penyebabnya.” kata Dion membuat Renata lemas.
“apa yang terjadi Ren. Kenapa dengan
Aunty” lirih sisil pada Renata yang sudah terduduk itu. Renata bahkan membekap mulutnya.
“Avaro,Alisha, Arkana. Om mana mereka om?’ tanya Renata panik saat ingat ponakannya.
“mereka ada di dalam. Sebaiknya kita masuk karna saya juga belum melihat mereka. Tadi para pengawal sedang mencari mereka di dalam.” ujar Dion membuat sisil langsung bangun. Sisil dan Renata langsung masuk ke dalam di ikuti Dion. Ternyata di sana empat orang tadi sudah babak belur bahkan mereka sudah di ikat. Sementara ketiga ponakannya ada dalam gendongan pengawal Dion .
Sisil dan Renata segera menghampiri mereka. Setelah diturunkan oleh pengawal dion. Avaro, Alisha juga Arkana menghambur ke pelukan sisil dan Renata.
“uaaaaa Aunty Abang takut.” isak Avaro dalam pelukan sisil.
“Ica..hikk..Ica..takutt aunty...hikss.. Ica mau bundaa.’ tangis Alisha di pelukan sisil juga. Renata dan sisil bahkan sudah menangis pula. melihat ponakannya yang ketakutan.
Renata menggendong Arkana dan menatap sengit empat penjahat itu. Di tendangnya mereka berempat. Meski sebelumnya Arkana dihadapkan Renata dicerut lehernya bahkan dengan tangannya. Renata menutup mata Arkana. Begitu juga sisil yang langsung menutup mata kedua ponakannya itu. Ditendangnya bahkan Renata yang sudah di liputi amarah menginjak perut empat pria itu.
“Kalian akan gue pastikan membusuk dipenjara.” Katanya pelan tapi tajam.
“om dion urus mereka. Kalo perlu buat mereka lumpuh.” tegas Renata yang dibalas anggukan Dion. Dia langsung memerintahkan pengawal menggeret mereka yang sudah menggeram kesakitan.
“sil bawa Avaro juga Alisha ke mobil. Kita ke rumah sakit sekarang.” kata Renata menatap sendu dua ponakannya itu. Akhirnya Alisha yang digendong sisil. Avaro di gendong Dion. Serta Arkana di gendongan Renata. Keluar dari rumah menuju mobil Alex yang digunakan mereka tadi. Mereka memasukkan ketiganya ke kursi belakang. Lalu sisil masuk ke dalam kursi penumpang depan.
‘om aku percaya om akan mengurus mereka. aku mau mereka merasakan akibat mengganggu cucu dari Ivander. Apapun yang om lakukan sama mereka aku yang tanggung jawab, aku tidak perduli. Mereka harus merasakan apa yang ketiga ponakan aku rasakan. Juga mama Nissa yang di rumah sakit.” pinta Renata.
“Akan saya lakukan semuanya. Nona jangan khawatir. Lebih baik kalian ke rumah sakit sekarang. Juga periksa Avaro, saya melihat luka di lengan kanannya.” Ujar Dion membuat Renata membelalak mata.
“baiklah kalo gitu saya percaya sama om Dion.” ujar Renata lalu masuk ke dalam mobil. Mereka melaju dengan kecepatan sedang mengingat keponakan Renata ada di mobil juga. Hingga sampai di rumah sakit milik kusuma. Renata dan sisil menggandeng lengan Avaro, Alisha, dan Arkana. Masuk ke dalam di sana sudah ada mami Dewi yang menangis. Mereka menghampiri mami Dewi di dekat ruang operasi.
“mami gimana keadaan mama Nissa?” tanya Renata membuat mami Dewi menatap mereka. Mami langsung memeluk cucunya dan menciumi pipi ketiganya. Lalu menatap Renata dan sisil bergantian. Mami menangis menatap mereka hingga Renata menarik mami dewi ke pelukannya.
“mama Nissa dia kritis di dalam." Isak mami Dewi membuat mereka menegang.