
Tubuh Arbiyan panas dingin menunggu di depan ruang operasi, ia tak bisa bayangkan jika Arin tak bisa selamat. Arka pasti sangat kecewa padanya. Karena ia yang begitu pengecut kini Arin berada di ruang operasi ini, andai ia bisa menjaga istrinya. Penyesalannya begitu besar, karena 3 tahun ia menikahi Arin, tak pernah sekalipun ia membuat Arin tertawa.
Saat ruang operasi terbuka ia melihat dokter yang baru menangani istrinya itu keluar, dengan seorang perawat di sampingnya. Arbiyan berdiri menghampiri dokter itu dengan perasaan gelisah dan juga takut. Mulutnya terbuka namun tak bisa mengeluarkan sepatah katapun. Ia ketakutan hingga suaranya tak bisa keluar.
“Anda suaminya?” Tanya dokter itu.
“Iya, bagaimana keadaan istri saya.” Tanya Arbiyan dengan gemetar. Lalu ia mendengar helaan nafas pelan.
“Kami sudah berusaha semaksimal mungkin tapi cedera di kepalanya sangat berat kemungkinan Ia di pukul terlalu keras.” kalimat pembuka itu sudah membuat tubuh Arbiyan hampir ambruk di tempat. Ia merasa seluruh darahnya terserap keluar. Kepalanya mendadak pusing sekali.
“Sejak awal operasi mustahil untuk menyelamatkan nyawanya. Ajaibnya dia masih bisa bertahan meski dalam keadaan koma. Tapi kemungkinan juga ia tidak akan bisa bertahan. Dengan sangat berat hati kami meminta pihak keluarga bersiap atas kemungkinan terburuk.”
Kemungkinan terburuk? Apakah maksudnya bersiap atas kemungkinan Arin meninggal? Arbiyan merasa ada yang meninju jantungnya berkali-kali. Hatinya hancur, nafasnya tercekat. Air mata mengalir begitu saja. ia menggeleng beberapa kali tak percaya. Lalu terdengar suara tangis. Awalnya pelan sebelum akhirnya begitu kencang. Arbiyan sadar itu tangisnya. Ia menangisi Arin. Menangisi nasibnya. Menangisi kenyataan yang sulit di percaya. Rasanya menyakitkan. Ia sudah menangis seharian. Lelah, tapi air matanya tak juga berhenti mengalir.
“Kau ingin menemuinya, sekarang istri anda bisa dijenguk. Ajaklah ia bicara semoga ada keajaiban untuk istrimu. Jangan patah semangat, teruslah berdoa pada Allah?” ucap Dokter itu setelahnya. Arbiyan tidak yakin ia memiliki cukup keberanian untuk menemui istrinya. Ia takut, ia sangat takut ini akan menjadi pertemuan terakhirnya dengan Arin. Tapi pada akhirnya ia mengangguk. Dokter pun mempersilahkannya. Dengan langkah pelan, Arbiyan mendorong gagang pintu yang terasa begitu dingin dan menusuk. Tubuhnya seketika menggigil saat memasuki ruangan serba putih itu.Dan hal pertama yang ia lihat adalah tubuh Arin yang terbaring di atas kasur dengan kabel-kabel dan mesin yang terpasang di tubuhnya. Ia tampak tenang. seperti sedang tidur dan begitu cantic meski terapat beberapa lebam di wajahhnya . Sulit mempercayai jika Arin sedang sekarat jika tidak ada alat bantu hidup yang terpasang di tubuhnya. Baru Arbiyan melirik mesin elektrokardiogram di sampingnya yang menunjukkan detak jantung Arin. Dia masih hidup ..
Dengan dada terasa sesak dan hidung yang perih, Arbiyan mendekati Arin lalu duduk di sampingnya. Sebuah cincin yang melingkar di jari manis Arin itu langsung menarik perhatiannya. Tanpa aba-aba satu air mata terjatuh. Arbiyan langsung mengusapnya, ia tidak mau menangis. Tidak di hadapan Arin. Istrinya itu selalu benci melihatnya menangis.
Tarik ... buang .. tarik . buang ..
Arbiyan merasa lebih baik. Dengan seluruh kekuatannya ia mengulas senyum lalu perlahan-lahan menggengam tangan Arin.
Hangat, kehangatan itu menyentuh hatinya. Ia tak mau kehilangan istrinya.
“Arin, sayang,,,” Arbiyan mendengar suaranya begitu sumbang dan serak. Suaranya seakan hamper habis setelah menangis seharian.
Tak ada jawaban. Wajah Arin tetap tenang dengan mata terpejam dan dada naihkturun pelan. satu air mata turun lagi membasahi lututnya. Arbiyan menunduk, tak berani menatap wajah istrinya itu. Ia tetap berusaha berbicara tanpa melihat wajah Arin.
"Kau tidak mungkin meninggalkanku tanpa berpamitan dulu kan? Dan tunggu, bukannya kau meminta liburan ke Korea, memintaku mengantarmu ke Jepang?" Arbiyan memaksa mengangkat kepala dan tersenyum susah payah kearah Arin.
"Kalau begitu bangunlah .. Aku sudah siap. Akan aku sekarang. Apa perlu kita menyewa pesawat Karin, sesuai impiamu dulu? Jujur, walau kau keras kepala ku akui ..” ucapannya menggantung ketika tenggorokannya terasa begitu sakit. Pandangannya jadi buram.
“menyenangkan saat hidup bersamamu. Saat pagi kau akan mengomel jika aku tak mau bangun, kau yang selalu menggndong Arkana kemanapun sambil memasak, kau yang akan tiba-tiba memijatku jika aku lelah.” lanjutnya. Tidak ada jawaban lagi. Wajah Arin masih tidak menunjukhan reaksi apapun. Ia masih tak sadarkan diri.
“Terima kasih.” suara Arbiyan bergetar, tubuhnya juga.
"Terima kasih sudah menyayangiku dan Arkana. Walau ku bilang menyesal bertemu denganmu, sebenarnya aku sangat bersyukur, Arin ... Tidak mudah menjadi ibu dan juga istri untukku. Aku sangat bersyukur bertemu denganmu.”
“Aku dan Arka ingin menghabiskan waktu lebih lama bersamamu.” Lalu tanganya Arbiyan menyentuh perut Arin.
“Aku harap malaikat kecil kita juga bisa bertemu dengan ayahnya, jangan pergi, berjuanglah bersamaku sayang. Kita akan menjadi keluarga kecil yang bahagia, aku akan memperjuangkan kamu, Aku ingin kamu kembali rin.”
Setelah berkata begitu Arbiyan berdiri. Ia mendekatkan wajahnya pada wajah Arin lalu mencium lama keningnya. Air matanya beberapa kali jatuh membasahi kening Arin. Beberapa lama kemudian ia melepaskan ciumannya. Ia berbisik pelan.
“Istirahat lah ... aku akan menemanimu disini. Aku akan selalu menunggu dirimu disini.” Dan tepat beberapa detik kemudian ia merasakan jari tangan Arin yang ada di genggamannya bergerak.
Sangat pelan namun sangat terasa di genggamanya, Arbiyan pun menekan tombol emergeny call yang ada di atas ranjang Arin.
Setelah itu segerombolan dokter dan juga suster berbaju putih masuk, mereka segera mengecek keadaan Arin, Arbiyan masih setia menunggu dengan tubuh yang gemetar.
“Istri anda sudah melewati masa kritisnya, sekarang kita hanya menunggu kapan ia akan sadar. Sungguh keajaiban untuk kami, karena istri anda bisa melewati masa kritisnya” Dokte itu pun berlalu meniggalkan Arbiyan yang kini berjalan mendekati Arin.
“Aku tau kamu gak akan ninggalin aku dan Arka sayang, Hay baby kamu kuat ya di perut mama, Papa selalu nunggu kamu sayang.”Ucapnya seraya mengelus perut arin.