
**Menjadi seorang ibu tunggal bukan lah hal yang mudah. Tapi meski demikian, Narapati tetap menjalani kehidupannya dengan ikhlas. Termasuk ia harus merelakan karirnya di dunia kedokteran dan memutuskan untuk resign dari rumah sakit. Semua itu ia lakukan untuk kedua putra-putri kembarnya yang saat ini sudah menginjak usia lima tahun.
Satu tahun yang lalu ia memutuskan untuk berhenti. Bukan tanpa alasan ia berhenti, saat itu anaknya tengah demam tinggi dan ia tidak bisa pulang karena ada jadwal operasi di rumah sakit. Maka dari itu, ia memutuskan untuk berhenti dan ia tak ingin anaknya merasa jika sang bunda lebih mementingkan pekerjaannya di bandingkan mereka. Terlebih lagi, mereka berdua hanya memiliki dirinya.
Selama SMA ia tinggal di luar kota, tepatnya di Surabaya. Orang tua Nara sangat sibuk, mereka bahkan jarang berkomunikasi. Klimaksnya saat kedua orang tua Nara tahu jika Nara memiliki anak, mereka benar-benar melupakan Nara. Bahkan, mereka tak pernah menghubunginya lagi.
Tepatnya enam tahun yang lalu, saat itu Nara berusia 18 tahun. Di usianya yang sangat muda ia sudah memasuki semester 5 di kampusnya. Nara adalah siswi yang pintar, ia melewati masa SMP hanya satu tahun, dan masa SMA dua tahun. Saat itu ia akan memperkenalkan pacarnya yang selama ini ia sembunyikan identitasnya. Dan tepat di hari itu juga, semuanya hancur. Baik orang tua Nara maupun orang tua sang kekasih mereka menolak hubungan keduanya. Alasan mereka adalah karena mereka merupakan rival bisnis.
Hati Nara benar-benar hancur, tak lama kemudian ia mendengar sang kekasih kecelakaan dan tak dapat di selamatkan.
Bahkan, untuk hadir di pemakaman nya saja ia tak diizinkan oleh orang tuannya.
Selama berhari-hari ia mengurung dirinya di kamar, sampai akhirnya ia harus kembali lagi ke Surabaya untuk melanjutkan studi nya. Namun, kejadian naas menimpa nya. Kejadian yang menghadirkan vino dan Vina di dalam hidupnya.
***
Hari ini merupakan hari kematian Arga yang ke 6 tahun, Nara mengurung dirinya di ruang kerjanya. Setelah memutuskan resign ia kembali lagi ke Jakarta dan membangun sebuah caffe dan Distro. Tak ada yang tahu tentang kepulangan Nara, bahkan keluarga nya sendiri pun sudah tak menganggap Nara lagi. Saat ini mereka tengah sibuk mengurus bisnisnya, bahkan beberapa kali ia melihat di berita jika hari ini adalah hari pengangkatan CEO baru yang tak lain adalah adiknya yang hanya berselisih 1 tahun dengannya.
Nara menghela napasnya, ia membaca berita tentang pelantikan CEO di Bramasta company.
"Ternyata kalian benar-benar melupakan ku." Gumam Nara.
"Bahkan kalian tak pernah menyinggung keberadaan ku," ucapnya lagi.
Brak!
Brak!
"Mamaaaa!!!" Teriakan dua orang anak kecil yang berbeda gender begitu nyaring terdengar di telinga Nara.
Nara buru-buru mengahapus air matanya. Kemudian ia menampilka senyum manisnya untuk menyambut kedua anak-anaknya.
"Anak mama udah pulang? Gimana sekolahnya hm?" Tanya Nara sambil mengecup pipi kedua anaknya.
Cup.
Cup.
"Mah, vino dapat nilai seratus," ucap vino berbinar sambil memperlihatkan buku tugasnya.
"Vina juga dapet nilai celatrus," ucap Vina belepotan.
"Seratus Vina." Tegus vino.
"Iya celatrus vino," jawab Vina sambil mengerucutkan bibirnya sebal.
"Lagian kamu ngomongnya salah." Ucap vino.
"Telselah, pokonya nilai Vina celatrus." Final Vina tak ingin di sanggah.
Nara tersenyum melihat kedua anaknya, vino yang sudah lancar berbicara dan Vina yang masih belepotan dalam hal berbicara.
"Wah, anak mama ternyata sangat pintar." Ucap Nara berbinar.
"Iya dong, two V gitu loh." Ucap mereka berdua.
"Sudah sana ganti baju kalian!" Titah Nara
pada kedua anaknya.
"Siap bos!" Ucap mereka serempak.
Kemudian mereka berdua berjalan ke kamar yang ada di ruang kerjanya.
"Mama kayaknya lagi sedih deh," ucap vino.
"Kita halus hibul mama," ucap Vina.
"Tapi gimana?" Tanya vino pada saudari kembarnya.
"Ya mana Vina tahu, vino kan Abang. Halusnya vino yang yang milik." Ucap Vina sewot.
"Ko jadi vino?" Ucap vino tak terima.
"Yakan, vino abangnya Vina." Ucap Vina tak mau kalah.
"Kata mama kita cuma beda 5 menit." Ucap Vino.
Vino berlalu begitu saja meninggalkan Vina
yang masih mengganti pakaiannya.
Baru saja beberapa langkah vino pergi, sudah terdengar rengekan dari adik kembarnya.
"Vino," rengek Vina dengan mata yang berkaca kaca.
"Kenapa lagi?" Tanya vino.
"Anting Vina nyangkut di baju hu hu hu," rengek Vina yang sudah mulai terisak, bahkan air matanya sudah jatuh ke pipi chubi nya.
Meski vino terkesan cuek, tapi ia paling tidak bisa jika melihat adik atau mamanya bersedih. Vino menjadi dewasa sebelum waktunya. Bahkan, mereka berdua kerap kali di ejek Karena di sebut tak memiliki ayah, tapi vino selalu menanggapinya biasa saja, berbeda dengan adiknya yang sering menangis. Namun, jauh di lubuk hatinya ia juga merasakan hal yang sama. Selama ini, vino selalu meminta Vina agar merahasiakan tentang ejekan teman-temannya.
"Vino! Vina! Kalian dimana?" Teriak Nara.
"Vino sama Vina masih di dalem mah." Jawab vino berteriak kembali.
"Cepetan keluar nak, kita makan siang ya," ucap Nara.
"Oke ma," jawab mereka berdua kompak.
"Vina, tadi aku ketemu sama om om ganteng." Ucap vino.
"Hah? Benelan?" Ucap Vina.
Vino mengangguk antusias.
"Gimana kalo kita jadiin dia papa kita, kata Tante Alsi kita halus caliin mama jodoh, bial kita punya papa. Telus, nanti kita gak akan di ejekin teman-teman lagi. Telus nanti mama juga bakalan seneng" Ucap Vina dengan binar penuh harapan. Di dalamnya ada begitu banyak bayangan kebahagiaan.
"Tapi aku gatau siapa om itu." Ucap vino.
Vina mengerucutkan bibirnya lesu. "Yah," ucap Vina.
"Yaudah, ayo kita samperin mama." Ajak Vina sambil menggandeng tangan vino.
Mereka terus berjalan menuruni tangga, karena memang letak ruangan Nara berada di lantai dua. Caffe milik Nara selalu ramai setiap harinya, kesan di caffe itu membuat siapapun yang datang kesana akan merasa sangat nyaman. Desainnya sederhana, tapi tetap terkesan elegan dan mewah.
Tiba-tiba langkah vino terhenti, ia melihat sosok seorang pria yang sama tapi dengan pakaian yang berbeda.
Pria itu baru saja mendudukan dirinya di kursi, di wajahnya ada beberapa luka lebam. Sontak saja Vino langsung menggandeng tangan Vina untuk menghampiri pria itu. Tak lupa, ia juga membawa buku menu di caffe milik mama nya.
Setelah sampai vino langsung memberikan buku menu itu. Pria yang tak lain adalah Bian hanya memandang kedua anak itu. Tiba-tiba vino membisikan sesuatu pada vino, sontak saja Vina langsung berbinar mendengarnya.
"Om, om, kita boleh gak duduk disini." Ucap Vina.
Bian menoleh pada Vina, mata anak itu berbinar dan penuh harap. Bahkan Bian tak mampu untuk menolak nya.
"Boleh dong anak manis," jawab Bian sambil memepersilahkan kedua anak itu duduk di sampingnya.
Banyak orang berlaku lalang disana, sebagian dari mereka begitu terpesona akan ketampanan Bian di tambah dengan kedua bocah kecil di sampingnya. Bahkan kini, ia terkesan seperti seorang hot Daddy.
Sedangkan di ujung sana, Nara panik mencari kedua nak kembarnya tidak ada di ruang makan yang khusus untuk pegawai. parara
"Vino sama Vina kemana yah," gumam Nara panik. Bahkan ia sudah bertanya pada beberapa pegawainya, tapi mereka tak ada yang melihat two V.
"Bu, ibu cari non Vina sama den Vino yah?" Ucap seorang pegawai yang baru selesai mengantar makanan.
"Iya, kamu lihat anak saya gak?" Tanya Nara panik.
"Mereka ada di meja nomor 21 Bu, disana mereka sedang bersama seorang pemuda. Saya pikir ibu tahu," ucap pegawai itu.
"Hah? Bersama orang lain? Terimakasih infonya." Ucap Nara, lalu berlalu pergi ke meja nomor 21.
Sesampai nya disana ia begitu terperanjat melihat kedua anaknya yang tengah tertawa bersama orang asing.
"Vino, Vina, mama cariin." Ucap Nara khawatir.
"Mama." Sahut keduanya turun dari kursi lalu berjalan ke arah Nara.
"Ayo makan, kalian gak boleh telat makan." Ucap Nara, bukan tanpa alasan. Kedua anaknya memiliki riwayat penyakit lambung, sehingga mengharuskan mereka makan tepat waktu.
"Eemmm, tapi..."
Bersambung**..