
Setelah kabar Arin yang diculik. Kini Alex Bram Arbiyan Jack serta Daffa tengah sibuk melacak keberadaan Arin. Banyak cara mereka lakukan untuk menemukan keberadaan Arin. Sementara Karin yang ditemani Sisil, Rhiana dan Renata berada di rumah Karin. Mereka menjaga Avaro, Alisha dan juga Arkana. Bahkan ada mama Nissa juga mami Dewi. Semua sibuk dan harap cemas menanti kabar. Karin bahkan harus menenangkan Arka yang menangis mencari mamanya. Avaro dan Alisha juga mencoba menghibur Arkana. Meski mereka tidak tau apa yang terjadi.
“aunty..hikss arka mau mama aunty hikss.” isak Arkana dalam pelukan Karin. Karin mengusap lembut puncak kepala Arkana.
“iya sayang mama lagi disusul papa. Dean jangan nangis dong. Nanti kalo mama pulang Dean nangis. Aunty di marah mama gimana?”Arkana mendongak.
“Memang mama marahin aunty ya kalo Arka nangis?” tanyanya polos sambil terisak. Karin menganggukan kepalanya.
"iya nanti mama papa Dean marah. Kalo Dean nangis gini. Makanya jangan nangis lagi yaa.” bujuk Karin kemudian menghapus air mata di pipi Arkana. “Dek Arka jangan nangis lagi ya. Mending main yuk sama abang. Kita main mobil-mobilan aja yuk.” ajak Avaro sambil mengelus kepala Arkana seperti yang di lakukan Karin. Membuat Karin tersenyum kecil.
“bener tuh kata abang. Kita main aja yuk. Nanti kalo mama dek arka pulang bunda pasti bilang.” sambung Alisha juga membuat Arkana menganggukkan kepala.
Alisha dan Avaro segera menarik Arkna menuju ruang bermain mereka. Karin yang melihatnya hanya tersenyum. Dia segera ke ruang tamu dimana mereka semua berkumpul.
“gimana rin udah ada kabar dari abang?” tanya Karin setelah sampai di ruang tamu dan duduk di sebelah Sisil.
“belum, ini gue udah coba nanya bang biyan, cuma belom ada kabar juga.” Jawab Renata.Karin manggut-manggut sambil berfikir.
“kira-kira kemana ya dia bawa Arin.” gumam Karin sendiri yang masih terdengar. Tapi mereka hanya menghela nafas. Mereka terdiam cukup lama. Menjelajahi pikiran masing-masing.
“apa jangan-jangan kak Arin di bawa jauh dari sini yaa.” gumam Rhiana.
“bisa jadi. tapi kita berdoa aja dia gak di bawa jauh dari sini. Mami khawatir terjadi sesuatu. meski mami baru kenal Arin , baru sehari mami ngajak Arin . Tapi mami udah sayang sama dia.”lirih mami Dewi.
“bahkan mama juga berharap sama kayak mama kalian. Apa lagi ngeliat Arkana yang nangis gitu. Mama jadi gak tega.huft.”
“kemana kak Arin diculik. Kalo ketemu bakal Sisil gebukin tuh orang.” ujar Sisil dengan emosi.
“Udah gitu kita lempar ke laut buat makan hiu. Biar tambah di cabik-cabik tuh penculik.” tambah Renata dengan menggebu-gebu.
“Astaga jangan-jangan dia bawa ke sana.” teriak Karin membuat mereka kaget. Bahkan mereka langsung mengelus dada.
“Biasa aja dong lo. Pake teriak segala.” omel Renata.
“tau nih kak Karin. Mana aku di samping gini. Pekak nih kuping kak.” dumel Sisil yang dibalas cengiran Karin.
“sayang kamu teriak tadi kenapa?” tanya mami langsung.
“aku baru inget tempat yang mungkin bakal di pake si steven. Kalo ini bener Sandra yang nyulik sih.” kata Karin membuat mereka langsung menatapnya serius.
“gimana kakak bisa yakin tempat itu yang mereka pakek kak?” tanya Renata.
“aku kenal steven cukup lama. Ada satu tempat yang aku yakin Arin bisa di sana dan jika benar kak Sandra kerja sama dengan steven aku curiga sama tempat itu.” jelas Karin. Sementara Renata langsung sibuk dengan ponselnya. Hingga layar ponsel menampilkan wajah Bram.
“Kenapa deh kita lagi sibuk nih." Kata Bram dari sebrang sana.
“bang lo lebih baik ngomong sama Karin deh.” Renata memberi ponselnya pada Karin. Karin mengambil ponsel dan bisa melihat Bram yang sibuk. Bahkan dia tidak terlalu menatap layar ponselnya. Sementara di sana terlihat mereka tengah sibuk dengan ponsel dan laptop di hadapan mereka. Karin diam memperhatikan mereka. Dia tidak mau bicara jika tidak ada yang menatap ke ponsel.
Hening.
Bahkan Renata sempat mecebik melihat layar ponselnya yang hanya menampilkan kesibukan para pria itu.
“Hallo. Karin mau ngomong nih. Bisa sih merhatiin layar ini dulu.” omel Renata.
“Ngomong aja kita denger kok.” suara Jack terdengar meski wajahnya tidak ada dilayar.
“bang Biyan mana. Kita ngomong sama bang biyan mana. Kita ngomong sama dia aja.” kata Renata lagi.
“Ngomong aja Rin. Kalo gak penting diem dulu ya. Tolong. ini lagi sibuk semua rin. Abang juga lagi gak mau ngomongin yang lain dulu.”
“ck ya udah deh. Karin matiin tuh ponsel kita aja yang langsung ke sana. Kalo bener Arin di sana.” kata Renata dengan merebut ponsel di tangan Karin dengan kesal. Dia langsung mematikan ponsel meski mereka yang di sana terdiam mencerna perkataan Renata tadi.
Alex yang sadar akan ucapan Renata langsung menyambar ponsel di meja itu. Tapi sayang Renata sudah memutuskan sambungannya.
“aunty jaga anak-anak ya. Kita mau ke kantor mereka dulu.” kata Renata sebelum masuk ke mobil.
“gue kira kita langsung kesana tadi.” kata Sisil sambil menyandarkan tubuhnya karena Renata sudah membawa mobil dengan kecepatan maksimal.
“lo mau mati mah jangan ngajak kita kali ren.”
“Walau kesel gue masih ingat nyawa. Apa lagi cerita Karin tentang steven.” jawab Renata.
“lo bilang masih mau idup kenapa bawa mobil kebut gini wooyy." pekik Rhiana karna Renata yang mengendarai mobil masih kecepatan tinggi. Di tempat Alex dan lain mereka menggeram karna Renata tidak juga mengangkat telpon.
“Bram telpon Sisil, daffa telpon Rhiana sekarang. Gue juga bakal nelpon Karin.” perintah Alex. Mereka pun segera menghubungi Sisil Rhiana dan Karin. Ponsel Sisil dan Rhiana yang berbunyi bersamaan membuat Renata menatap dari kaca.
“pasti mereka kan yang nelpon?” tanya Renata yang di anggukan mereka.
“gak usah di angkat. Biar mereka mikir dulu.” kata Renata santai sambil melirik Karin yang dia menatap keluar sejak tadi.
Renata paham kenapa Karin diam. Pasti dia mengingat kembali apa yang di alaminya dulu. Sidak lama ponsel Karin berbunyi menampilkan nama Alex. Karin mengangkatnya dengan tidak semangat.
“hallo. sayang kamu di mana sekarang?”
“ lagi di jalan mas”
"Kalian di mana. Jangan aneh-aneh yang. Inget kamu lagi hamil. kasih tau mas di mana tempat Arin disekap biar kami yang kesana.” ujar Alex dengan suara yang sangat khawatir.
“Ren kita mau kemana ini?” tanya Karin meski ponsel masih di telinga. Dia menatap Renata yang mendengus kesal.
"kita ke kantor bang Alex. Bilang mereka suruh tunggu di luar.” jawab Renata.
“mas denger kan kata Renata!”
“ oke kita tunggu di depan. Bilang sama Renata jangan ngebut. Inget kandungan kamu sayang.”
“hemm..ya udah byee.” Karin memutuskan sambungannya. Pikirannya sedang kacau. Pundak Karin di tepuk dari belakang.
“kakak tenang aja jangan kawatir." Kata Rhiana yang hanya dibalas anggukan.
“Ren pelan-pelan aja bawa mobilnya. Ingat kak Karin lagi hamil.” ujar Rhiana mengingatkan membuat Renata menepuk jidat dan mengurangi kecepatan mobilnya. Mereka sampai di depan perusahaan Alex. Di sana bahkan mereka melihat Alex dan yang lain berdiri dekat mobil masing-masing. Renata menghentikan mobilnya tepat di dekat mereka. Alex langsung berlari menuju mobil itu dan sementara mereka turun dari mobil.
“sayang kamu gak kenapa-kenapa kan?” Tanya Alex memeluk Karin.
“iya aku baik-baik aja mas. Lebih baik kita ke sana sekarang. Karna kalau benar Arin di sana. Pasti dia dalam bahaya sekarang.” kata Karin setelah melepas pelukan Alex.
“kamu tau dari mana Karin?” tanya Jack.
“kalian udah tau siapa penculiknya?” tanya Karin tanpa menjawab pertanyaan Jack.
“yaa kami baru tau kalau Sandra yang nyulik Arin.” jawab bram.
“kalau gitu kita ke Gudang kosong deket pelabuhan sekarang.” kata Karin mulai panik.
“tapi dari mana kamu tau dek?” Arbiyan yang bertanya sekarang.
“karna itu tempat yang sering steven datangi. Dulu aku sering melihat dia di gudang itu. Dari situ aku sering mengikuti dia, disana ia sering membunuh wanita. Dia gila, aku gak mau Arin sampai di siksa juga.” kata Karin dengan histeris. Kembali ingatannya saat melihat steven melukai tubuh wanita yang dibawanya kesana. Membiarkan wanita berteriak kesakitan dan steven yang tertawa bahagia karena berhasil menyakiti wanita yang ia bawa .
Alex yang melihat Karin histeris segera memeluknya lagi. Karin bahkan sudah menangis sekarang.
"kita kesana sekarang. Jack lo sama Renata bawa mobil Renata. Jangan biarin Renata yang bawa mobil. Rhiana sama Sisil naik mobil lagi. Karin biar sama abang. Bram Arbiyan sama daffa kalian bawa mobil daffa aja. Kita gak bisa sendiri-sendiri sampai disana.” Jelas Alex membuat mereka paham. Mereka langsung menuju mobil masing-masing. Menuju tempat yang Karin curigai. Karin bahkan hanya diam menatap keluar lagi. Pikirannya melayang memikirkan yang terjadi pada Arin. Alex yang melihat menggengam tangan Karin. Membuat Karin menatap Alex.
"semua akan baik-baik aja sayang. Jangan khawatir. Aku yang akan memastikan semuanya. Dan aku mohon nanti jangan pernah jauh dari aku sayang. Kita gak tau apa yang mereka rencanakan.” ujar Alex lembut.
“hem..aku berharap steven gak ngelakuin sesuatu sana Arin mas. karna kalau Arin terluka. Aku akan membuat steven menyesali semuanya.” ujar Karin menatap lurus ke depan. Alex hanya menghela nafas. Meski dia gak tau apa yang terjadi sebenarnya. Apa yang Karin lihat hingga Karin gemetar, tapi Alex yakin. Karin melihat hal mengerikan yang membuatnya seperti sekarang. Pandangan kosong meski Alex tau Karin bukan sosok yang seperti biasanya. Ada yang berbeda dari Karin semenjak kabar Arin diculik. Apa lagi kemunculan Sandra kembali.