My Baby Twins

My Baby Twins
Chapter 37



Pagi hari Karin terbangun lebih dulu. Karin bisa merasakan pelukan Alex yang erat dari belakang. Semalam mereka tidur di sofa ruangan Avaro. Karin melepaskan pelukan Alex.Di tatapnya pria yang tengah tidur lelap itu. Mungkin Alex begitu lelah. Semalaman dia harus bulak balik rumah dan rumah sakit untuk mengambil keperluan anak dan istrinya itu. Setelahnya menjaga Avaro yang terbangun di malam hari dan merengek ingin minta gendong ayahnya itu. Untung Alisha maupun Arkana tidak terganggu dengan kelakuan abang mereka itu.


Karin bangun dari tidur dan menatap ruangan putranya. Di sana juga ada Rhiana, Renata juga sisil. Bahkan ada daffa dan bram yang memilih untuk berada di rumah sakit. Mereka tidak ingin pulang dan akhirnya ruangan Avaro penuh dengan kasur lipat yang dibeli bram semalam. Tiga kasur yang memenuhi ruangan Avaro. Membuat Karin menggeleng kepala.


“bundaa.” panggilan Alisha dari atas kasur  Avaro mengalihkan Karin. Dia tersenyum menatap putrinya yang baru bangun dan tengah mengucek matanya itu.Dengan melewati mereka yang tidur dia menghampiri putrinya itu.


alisha merentangkan tangan pada Karin. Karin dengan sigap menggendong putrinya itu.


“anak cantik udah bangun hmm, nyenyak banget yaa boboknya.” ujar Karin dengan menciumi pipi Alisha. Alisha  terkekeh


"bundaa geli..bundaa.” rengeknya membuat Alisha tertawa pelan.


“bun abang kenapa sih pake begituan.” Alisha menunjuk selang infus Avaro.


“abang sakit makanya pake kayak gitu.”


“Kemarin abang nangis bun pake gitu. Ica kasian deh liatnya.” celoteh Alisha membuat Karin tersenyum miris. Jelas pasti putranya menangis. Dia tau bagaimana rasa jarum yang menusuk lengan putranya itu.


“bun, Alisha laper.” rengek Alisha membuat Karin tersenyum.


“Alisha mau makan apa hm?” tanya seseorang membuat Karin membalikan badan. Ternyata Alex sudah bangun dan berada tepat di belakang Karin. Alex mencium puncak kepala Alisha lalu mengelus pipi putrinya itu. Dengan satu tangan yang merangkul pinggang Karin. Alisha berpikir dengan jari yang di dagunya. Kelakuan Alisha itu membuat Alex maupun Karin tersenyum geli.


“Alisha mau nasi goreng bunda.” Katanya setelah lama berpikir.


"Kalo gitu bunda harus pulang dulu dong.”kata Karin membuat Alisha cemberut.


“bunda gak boleh pulang di sana ada om jahat.” ucapan Alisha membuat Karin maupun Alex menatap sendu putri kecil mereka. Meski Alisha tidak seperti Avaro tapi mereka tau pasti Alisha maupun Arkana akan mengalami trauma Juga.


“Alisha tenang aja ya om jahat udah ayah usir. Jadi rumah kita udah aman sekarang. Bahkan opa juga udah jagain rumah kita.” jelas Alex memberi pengertian pada Alisha.


“beneran yah, om jahat gak akan ke rumah lagi?”Karin dan Alex mengangguk.


“gak akan ada yang berani ganggu kita lagi Sayang. Ayah janji Alisha, abang juga bunda aman di sana.”


“tapi ada aunty yang akan ngehukum om jahat itu. Kita akan pukul mereka kalo mereka dateng.” kata Renata yang duduk menatap Alisha dalam gendongan Karin.


“kayak aunty pukul mereka yaa?” tanya Alisha polos membuat Renata membelalak mata. Seingatnya Alisha ditutup matanya hingga tidak melihat kekejaman Renata.


“memang aunty mukul gimana ca.” tanya Rhiana yang juga menatap Alisha. Karin ,Alex dan Alisha menatap mereka yang ternyata sudah bangun. Hanya saja bram dan daffa memilih tiduran di banding duduk bersila di kasur tempat mereka tiduri itu.


“bun turunin Alisha bun.” pinta Alisha, Karin pun menurunkan Alisha. Lalu Alisha menghampiri para aunty dan unclenya.


Alex bahkan menatap tajam adiknya yang sudah meneguk ludahnya sendiri.Dia meringis menatap ponakannya itu. Memperagakan semua yang di lakukannya. Sementara bram sudak  meringis kesakitan. Bukan tanpa alasan, itu karna Alisha memperagakan dengan sungguhan. Meski tubuhnya kecil jika terus memukul seperti itu tetap saja sedikit sakit.  Hingga akhirnya Alisha lelah sendiri dan duduk di perut bram.


“astaga Alisha ganas ih. Badan uncle sampe sakit semua.” ucapan absurd bram membuat Karin menatap tajam abangnya itu.


Pletakk


Pukulan kuat di kepala bram membuat bram meringis. Dia hendak membalas orang yang menjitaknya kuat jika saja tidak tau siapa yang memukulnya itu.


“ngomong sama anak kecil itu yang bener. Jangan sampe otak omes bang bram ke tular ke Alisha.” omel sisil membuat semua terkekeh.


“ya ampun sil belom nikah loh kita, udah main KDRT aja.” gerutu bram sambil mengusap kepalanya. Sisil mendelik kesal.


“gila ya kamu bang. Mending minta periksa gih sama bang daffa siapa tau otaknya ke geser.”


“otak aku emang ke geser kok. Kan kamu yang buatnya ke geser karna cinta kamu.” goda bram membuat sisil menatap tajam  bram.


“ kayaknya otak abang itu perlu di cuci pake sabun colek di banding deterjen. ato perlu masukin ke mesin cuci.” Bram terkekeh mendengar ucapan Sisil.


“udah deh kalian jadian aja kenapa sih.” seru Rhiana membuat sisil menatap malas.


“ewh, males banget deh. abang gak mau jadian juga kok sama sisil.” ujar bram santai. Membuat semua menatapnya heran. Bahkan sisil tanpa sadar menatap bram dengan tatapan antara senang juga sedih. Entahlah sisil bahkan tidak tau kenapa mendengar ucapan bram. Ada sedikit rasa sedih di hatinya.


 “maunya langsung halalin aja. Biar Alisha punya adek, ya ga sil.” lanjut bram santai menatap sisil lalu Alisha. Alisha yang ditanya manggut-manggut.


“memang aunty sil mau sama uncle bram?” tanya Alisha polos membuat mereka terbahak.


“yaelah bukan dibantuin malah nyindir juga.”


“makanya usaha bram biar sisil luluh.”celetuk daffa.


“udah usaha kali daf. Kalo gak usaha mah. Gak mungkin bisa buat mukanya merah gitu.” goda bram.


“idih males banget gue sama dia. Udah tua jomblo karatan gitu. Semuanya juga karatan pastinya.”  celetuk sisil tanpa sadar. Bram pun menurunkan Alisha dari perutnya dan bangun. Dia memegang tangan sisil membuat sisil menatap bram heran.


“dari pada kamu cuma ngebayangin mending kita coba. Biar tau karatan nggaknya.” celetuk bram dengan menaik turunkan alisnya. Perkataan bram membuat mereka terbahak di tambah wajah sisil yang sudah memerah itu.


“BRAM DASAR JOMBLO KARATAN, JOMBLO MESUM.” teriak sisil membuat semua terbahak. Bram dan segala keabsurdanya jika bersama sisil. sungguh pemandangan yang sangat menghibur semuanya. Semenjak bram bertemu sisil rasanya tidak akan ada hentinya mengganggu sisil. Seperti sudah menjadi hobi barunya