My Baby Twins

My Baby Twins
BAB 6



Bian dan Armed sudah berada di apartemen, tepatnya apartemen milik Armed. Sedari tadi Bian hanya berguling-guling di sofa sambil memandang ponselnya.


"Arrgghhhh sial!! Ini semua gara-gara Lo Med!" Umpat Bian.


Merasa namanya di sebut-sebut Armed menoleh ke arah Bian yang berada di depannya.


"Ko gue?" Ucap Armed.


"Ya iyalah elo! Gara-gara Lo momi marah sama gue!" Teriak Bian.


"Derita Lo sih itumah." Gumam Armed pelan.


"Ngomong apa Lo barusan!" Tukas Bian.


"Nggak! Itu ada cicak buang air." Ucap Armed asal.


Drttt.. drrttt..


Bian menoleh ponselnya yang bergetar. Dilihatnya sudah tertera 'pacar dunia akhirat'


Bian menatap horor ponselnya, sesekali ia menolah pada Armed yang hanya menaikkan sebelah alisnya.


"Udah, angkat aja! Daripada Lo di lempar ke selokan," ucap Armed enteng.


Bian menghela napasnya, kemudian ia menggeser ikon hijau di ponselnya.


"Hall...."


"HYAAA BOCAHH TENGIIIKKKK!!! CEPAT KAU PULANG!!!!!" Teriak sang momi.


Ya, 'pacar dunia akhirat' adalah nama nomor momi Bian di ponselnya.


"I...iya..mom Bian pulang...." pasrah Bian.


Tut.


Huh...


Bian menghela napasnya kasar, kemudian ia mengambil jaketnya yang terdampar di sofa.


"Gue pulang."


Bian berjalan lunglai keluar dari apartemen Armed. Sebenarnya ia juga memiliki apartemen, hanya saja ia lebih suka merepotkan Armed ketimbang pulang ke apartemen nya sendiri. Bian selalu berfikir, kalo bisa merepotkan kenapa harus sendirian.


Bian menjalankan mobilnya dengan sangat lambat, bahkan kerap kali para pengendara di belakang Bian menyalakan klakson nya.


"Woy!!! Mobilnya bagus, tapi jalannya lambat banget!!" Teriak seorang supir angkot.


Bian tak ambil pusing, ia menggeserkan mobilnya ke sisi agar pengendara yang ada di belakangnya bisa maju.


Sumpah demi apapun Bian lebih baik melihat Doger monyet dari pada bertemu mominya yang sangat menyeramkan jika sedang marah. Apalagi saat ini ia ketahuan ikut demo.


Drtt... Drrttt...


Lagi dan lagi ponsel Bian bergetar. Dan tentu saja sang momi yang terus menelpon. Pasalnya sudah hampir satu jam tapi Bian belum sampai ke rumah. Jika di tempuh perjalanan normal, maka perjalanan seharusnya hanya 30 menit.


"BIAAAAAAANNNNN!! KAMU MAU BIKIN MOMI DARAH TINGGII!!" Teriak momi Mona.


"Macet mom, sabar yah cantikku, cintaku, sayangku, bidadari ku...."


"Kalo dalam 15 menit kamu gak nyampe rumah, siap-siap aja kamu tidur di kandang ayam."


Tut.


"Huh, gak ada ancaman yang lebih bagus apa." Gerutu Bian sambil menginjak pedal gasnya.


Tak sampai 15 menit Bian sudah sampai di rumahnya. Bian langsung masuk ke dalam rumahnya.


"Assalamualaikum, mom Bian pulang...." Ucap Bian sedikit berteriak.


Bian celingak celinguk, ia mencari keberadaan mominya.


"Momi kemana yah...." Gumam Bian.


"Aaahhhhh, awssss sakittt.... Mom sakittt... lepasss...." Teriak Bian saat telinganya di jewer sang momi.


"Masih berani ikut-ikutan demo hah?" Galak Mona pada Bian.


"I..itu... Iya mom, Bian kapok...." Ucap Bian memohon.


"Mom, plis lepas yah.... Sekaya apapun momi, momi gak akan bisa nyambungin telinga Bian kalo putus." Ucap Bian memohon kembali.


Huh... Bian mengusap-usap daun telinganya yang terasa panas, ini sangat memerah. bahkan saat


"Bian, kamu itu anak momi satu-satunya, momi bukan membatasi kegiatan kamu. Tapi, kamu jangan pernah lakukan hal-hal yang bisa membahayakan kamu. Momi khawatir bian, momi takut kamu kenapa-kenapa hiks hiks...."


Drama apa lagi ini ini tuhan. Batin Bian prustasi.


"Iya mom, maafin Bian yah." Ucap Bian.


"Bian, momi sudah tua...."


Bian menaikkan sebelah alisnya,Jangan bilang kalo momi mau nyuruh gue nikah. Batin Bian.


"Kamu urus perusahaan yah, momi cape."


"Tapi mom...."


"Perusahaan atau menikah!" Ucap Mona penuh penekanan.


"Perusahaan mom." Jawab Bian cepat. "Good, itu baru putra momi." Ucap Mona sambil tersenyum lalu beranjak pergi, tapi


sebelum itu.


"Momi cape, mau arisan."


"Orang kalo cape, ya istirahat. Lah ini, arisan? Emang enak gue limited edition tingkat kelurahan." Gumam Bian.


"Ko perasaan gue gak enak yah, entah itu perusahaan atau menikah...." Gumam Bian lagi.


"Ah, bodo amat deh. Gimana nanti aja, yang terpenting sekarang gue harus kasih si Armed pelajaran karena udah bikin calon anak gue nangis." Ucap Bian.


"Kayaknya omongan gue ke kabul deh, dapet janda anak dua he he he." Ucap Bian terkekeh.


Ia kemudian merebahkan tubuhnya di sandaran sofa sambil tersenyum.


Di setiap pojokan para maid menatap horor pada Bian. Mereka merasa aneh dengan sikap Bian yang terus tersenyum.


"Tuan muda kenapa yah?" Ucap seorang maid.


"Lagi jatuh cinta kali." Jawab rekannya.


"Makin hari, makin aneh aja kelakuannya."


"Ekhmm, kalian mau kerja atau ngegosip!" Tegus pak So kepala pelayan di rumah MUSAGARA.


"Maaf pak," jawab mereka sambil menunduk.


"Lanjutkan pekerjaan kalian!"


"Siap pak."


Bian melangkahkan kakinya keluar dari rumah. Tapi sebelum itu.


"Bian, kamu mau kemana?" Tanya Mona.


"Apartemen Armed mom." Jawab Bian apa adanya.


"Oh, yaudah." Ucap Mona.


Biar berdecak sebal saat melihat stayle mominya yang sudah seperti anak perawan. Bagaimana bisa di usianya yang kini sudah 45 tahun mominya masih begitu cantik dan terlihat muda. Bahkan tak ayal, sang momi kerap kali di dekati oleh pria-pria yang seumuran dengannya.


Bian melajukan mobilnya, berbarengan dengan mobil yang di tumpangi mominya yang meluncur ke tempat arisan.


Tanpa mengetuk pintu atau memencet bel, Bian langsung masuk saja ke dalam apartemen Armed.


"ARMEDDDDDDDD!!!" Teriak Bian.


Armed yang baru saja memejamkan matanya seketika langsung terlonjat kaget mendengar teriak Bian. Siapa lagi yang mengetahui kode apartemen selain Bian.


Dengan malas Armed membuka pintu kamarnya.


"Ap...."


BUGHHH


"****..." Umpat Armed.


"Bi, Lo kena...?"


"BUGHH


"****...."


Baru saja Bian akan melayangkan pukulan kembali, Armed buru-buru menangkis tangan Bian.


"Bi, Lo kenapa? Lo kerasukan?" Cerca Armed sambil menangkis pukulan-pukulan yang di berikan oleh Bian.


Namun, bukannya menjawab Bian malah terus melayangkan beberapa pukulan.


"BIAAAAANN!!!" Teriak Armed sambil melayangkan sebuah pukulan.


"BUGHHH...."


"LO KENAPA HAH? TIBA-TIBA MUKUL GUE?" Teriak Armed.


Bukannya menjawab, Bian malah berlalu pergi menuju dapur. Ia mengambil dua botol air, satu untuknya satu lagi untuk Armed.


Armed menerima botol air yang di berikan oleh Bian, kemudian mereka duduk bersandar di sofa.


"Lo kenapa sih?" Tanya Armed lagi.


"WHAT? CALON ANAK?" Pekik Armed.


"Anak yang mana?"


"Menurut Lo!"


Armed kemudian berpikir keras, sehingga ia teringat akan kedua bocah kecil yang berada di restoran.


"Maksud Lo dua bocah yang ada di cafe tadi?"


Bian mengangguk.


"Tapi bi, gue ngelihat bocah yang cowo kaya mirip Lo waktu kecil." Ucap Armed tiba-tiba.


Sontak saja Bian menoleh pada Armed. "Mana ada, sedari kecil gue tinggal di Surabaya. Dan kita pindah kesini pas papi udah meninggal." Sanggah Bian.


"Iya juga sih." Ucap Armed membenarkan.


Di tempat lain, tepatnya di cafe milik Nara. Si kembar saat ini tengah tertidur pulas.


Nara membuka buku pelajaran kedua anaknya, ia memeriksa pr anak-anaknya. Nara tersenyum saat melihat tugas yang kerjakan oleh anaknya benar. di


"Kalian sangat pintar," gumam Nara.


Nara membereskan buku-buku milik anaknya, meski usianya baru lima tahun tapi mereka berdua sangatlah cerdas. Meski si kecil Vina tak secerdas Vino. Bahkan di usianya yang baru lima tahun, mereka sudah masuk SD. Bukan tanpa


alasan, tentu karena kepintarannya.


Setelah selesai mentata buku anaknya, Nara menghampiri kedua anaknya yang tidur. Setelah itu ia keluar dari dalam ruangan. Ia pergi ke dapur untuk membuatkan menu spesial untuk tamunya. Dan tak lama, tamu yang Nara tunggu sudah sampai.


"Naraaaaa..." Pekik Arshi sambil memeluk Nara, untung saja Nara sudah antisipasi bertemu di halaman belakang cafe. Halaman belakang cafe adalah area tamu VIP yang hanya bisa di masuki oleh orang-orang tertentu. Tamu yang masuk ke sini adalah tamu-tamu yang akan mendapatkan pelayanan spesial dari pihak cafe, dan tentunya tidak akan mengecewakan.


"Kau ini selalu saja berteriak..." Ucap Nara sambil membalas pelukan Arshi. Arshi adalah sahabat Nara yang sama-sama berprofesi dokter.


"Ck, Nara asal kamu tahu, dokter George benar-benar galau saat kamu pergi. Bahkan dia semakin dingin." Tutur Arshi.


"Kenapa tidak kamu coba saja untuk meruntuhkan gunung es nya!" Ucap Nara sambil menggoda Arshi.


Arshi terdiam. "Aishh, entahlah. Mending cari yang pasti-pasti saja." Ucap Arshi.


"Lagian dia hanya menyukaimu bukan menyukaiku." Ucap Arshi.


Nara tersenyum, ia tahu sudah sejak lama Arshi menyukai dokter belasteran indo-australia itu. Hanya saja semesta belum berpihak kepadanya.


"Eh, si kembar mana?" Tanya Arshi.


"Mereka sedang tidur siang. Beberapa jam yang lalu mereka menangis." Ucap Nara yang berujung menceritakan kronologi kejadian nya.


Brak!!


Arshi menggebrak meja dengan sangat keras. Bahkan Nara sampai terkejut mendengar gebrakan itu.


"Ar...."


"Sialan! Siapa yang berani buat keponakan gue nangis. Awas aja kalo gue sampe ketemu sama dia, siap-siap aja dia di serang pasukan gue." Ucap Arshi sambil menggerakkan giginya.


Nara begitu merinding mendengar ucapan Arshi, yang di maksud pasukan oleh arsi ialah seperangkat pisau bedah yang tajam nya luar biasa alaihim gambreng.


"Udahlah Ar, mereka gak papa ko." Ucap Nara sambil terkekeh. Arshi itu sangat terkenal dengan kegalakannya di rumah sakit. Bahkan saat ini Nara tengah membayangkan dokter George yang dingin dan sedikit arogan bahan sorot matanya terkadang menyeramkan di sandingkan dengan Arshi yang galak dan sedikit tomboy.


Sesat Nara terkekeh kemudian meeubah kembali ekspresi nya. "Lo kenapa Nar?" Tanya Arshi.


Nara menggeleng, lalu tertawa terbahak-bahak.


"Aneh lu!"


"Gue cuma bayangin, kalo dokter George yang dingin, arogan dan menyeramkan bersenandung sama Lo yang galak plus tomboy!" Ucap Nara sambil tertawa.


Srek!


"Sialan Lo!" Umpat Arshi sambil memotong stiknya dengan pisau bedah.


Glek. Nara menelan salivanya kasar.


"Lo gak berubah yah, kemana-mana selalu bawa pisau bedah." Ucap Nara bergidik.


"Ck..."


"Ini tuh bukti tanda cinta gue sama profesi gue sebagi dokter bedah!" Ucap Nara menirukan ucapan Arshi jika di tanya kenapa selalu membawa pisau bedah.


"Nah, itu Lo tahu." Ucap Arshi.


"Permisi Bu Nara, di luar ada dua pria yang mencari ibu." Ucapa seorang pelayan menghampiri Nara.


"Siapa?"


"Sepertinya mereka dua pria yang tadi Bu."


"Yaudah, biarin mereka masuk."


"Wah, siap gue eksekusi nih." Ucap Arshi.


"Ar, Lo jangan macem-macem yah!" Ucap Nara memberi peringatan pada Arshi. Nara sangat ingat jelas betul, saat mereka di jambret Arshi dengan lincahnya menghajar preman itu dan menakut-nakuti nya dengan pisau bedah, sampai-sampai preman itu lari terbirit-birit.


Bian dan Armed berjalan beriringan menuju dua orang wanita yang ia yakini adalah Nara dan entahlah.


Bian dan Armed mendekat ke arah Nara. Namun, tiba-tiba saja Bian di seret sampai terduduk di sebuah kuesi. Dan dengan lihainya Arshi memainkan pisau bedahnya tepat di depan mata Bian.


Glek.


Nara dan Armed membulatkan matanya.


"Ar...."


"Diem Nar! Biar gue kasih pelajaran cowo gak tahu diri ini."


"Tapi Ar..."


"Stop! Bedebah ini harus di beri pejaran, berani-beraninya dia bikin kedua ponakan ucul gue nangis."


Glek!


Armed menelan salivanya kasar, malihat sorot mata Arshi benar-benar membuat ia takut. Apalagi pelaku yang sebenarnya adalah ia.


Armed melangkah mundur berbarengan dengan teriakan Nara.


"Arshi bukan dia yang bikin duo v nangis, tapi dia!" Ucap Nara panik. Tapi sayang, saking paniknya Nara menyelamatkan satu orang lalu menumbalkan satu orang lainnya.


Arshi langsung menghentikan aksinya, kemudian ia menoleh pada Armed yang perlahan melangkah mundur. Dengan cepat Arshi kembali menyeret Armed.


Bian menghela napasnya lega.


"Temen Lo psikopat yah." Ucap Bian.


"Nyeremin bener tuh cewe." Gumam Bian bergidik. Tapi sedetik kemudian ia menikmati raut wajah Armed yang ketakutan. Bahkan, Bian sampai memvideo Armed yang terus berteriak takut.


"Ar, cukup! Kasihan!" Ucap Arshi.


Akhirnya arshi pun menghentikan aksinya.


"Jadi, Lo berdua mau ngapain kesini?" Tanya Nara pada Bian dan Armed.


Bian menatap Armed dengan horor.


"Gue mau minta maaf sama Lo dan kedua anak Lo, gue bener-bener gak sengaja." Ucap Armed penuh sesal.


"Enak banget yah lo minta maaf, Giman kalo Vino sama Vina jadi trauma sama perlakuan kasar Lo!" Tukas arshi.


Armed menunduk, ia sadar ia salah. Tak seharusnya ia bersikap seperti itu pada anak kecil yang tak tahu apa-apa.


"Nar, gue bener-bener minta maaf atas tindakan Armed. Kalo anak Lo sampe kenapa-kenapa gue janji bakal tanggung jawab." Ucap Bian.


"Termasuk jadi bapak mereka!" Bukan Nara melainkan Arshi.


Sontak Bian berbinar mendengar ucapan Arshi.


"Lo restuin?" Tanya Bian.


"Jangan harap!" Ucap Arshi.


Sontak saja Bian langsung melongo mendengar jawaban Arshi.


"Iya udahlah, lagian Vino sama Vina gak papa ko." Jawab Nara. Meskipun dalam hatinya sedikit tak terima.


"Makasih, Lo baik banget." Ucap Armed.


"Hmm," jawab Nara.


Sedangkan Arshi hanya mencibir saja. Menurutnya Nara terlalu baik.


"Mama...." Panggil Vino dan Vina dengan wajah bantalnya.


Nara tersenyum, lalu melambaikan tangannya pada Vino dan Vina.


"Tante Alsi..." Pekik Keduanya.


"Hallo ganteng,"


"Hallo cantik..."


Arshi memeluk kedua bocah itu, bahkan ia menciumi setiap inci dari wajah Vino dan


Vina.


Arshi melepaskan pelukannya. Kemudian two V mengalihkan pandangannya.


"Papa???"


Bersambung...