My Baby Twins

My Baby Twins
BAB 1



**Riuh dan ricuh begitulah gambaran para mahasiswa dari berbagai universitas di kota Jakarta. Baik negeri maupun swasta kini berbaur menjadi satu untuk mewujudkan sebuah keadilan untuk seluruh rakyat Indonesia.


Buruh tani mahasiswa Rakyat miskin kota Bersatu padu rebut demokrasi Gegap gempita dalam satu suara Demi tugas suci yang mulia Hari-hari esok adalah milik kita Terciptanya masyarakat sejahtera


Terbentuknya tatanan masyarakat Indonesia baru tanpa orba Marilah kawan


Mari kita kabarkan


Di tangan kita tergenggam arah bangsa


Marilah kawan


Mari kita nyanyikan


Sebuah lagu


Tentang pembebasan.


Di bawah kuasa tirani


Ku susuri garis jalan ini


Berjuta kali turun aksi


Bagiku satu langkah pasti


Semula semuanya baik-baik saja, para mahasiswa begitu tertib dan terus menyanyikan lagu pembebasan yang di populerkan oleh marjinal, ciptaan Safi'i kemanan. Hingga sebuah tragedi terjadi, tiba-tiba saja terjadi kericuhan.


Dor!


Dor!


Dor!


Berkali-kali gas air mata di tembakkan. Para mahasiswa yang tidak terima di berikan tembakkan gas air mata berusaha berontak melawan aparat, ada juga yang berlari kocar-kacir Karena tak ingin terkena imbas dari gas air mata itu.


Sedangkan di bawah pohon rindang, tepatnya berada di antara kerumunan para mahasiswa, ada seorang pemuda yang tengah tertidur dengan pulas nya. Bahkan ricuh dan tembakan gas air mata saja tak dapat membangunkan dirinya.


"Bian bangun woy!! Molor aja lu!! Bian bangun!!!"


Armed sangat panik, apalagi beberapa orang mahasiswa terlihat berlari dan meloncat tanpa melihat arah jalan mereka. Yang ia takutkan adalah temannya akan terinjak oleh mahasiswa yang lain.


"Astagfirullah, gue tinggal kali yah." Ucap Armed prustasi.


"Bian!! Bangun woy!!!" Teriak Armed tepat di telinga Bian.


"Astagfirullah, janda anak dua. Emaknya cantik." Latah Bian.


"Janda Mulu otak lu!" Tukas Armed kesal.


Bian hanya diam saja, ia masih mengumpulkan nyawa nya yang berceceran di antara para penghuni bumi. Sesekali ia mengucek matanya.


"Ini ada apa sih rame banget, lagi konser yah?" Ucap Bian double O N.


Armed menepuk dahinya pelan. Kalau saja Armed bukan sahabat baiknya dan orang yang sangat berjasa dalam hidupnya, sudah ia pastikan kalau ia akan meninggalkan Bian sekarang juga.


"Bi, oleh amnesia apa double O N? Oon ko gak tahu tempat sih." Ucap Armed asal.


Dor!


Dor!


Seketika Bian melebarkan bola matanya, ia sekarang sadar bahwasanya mereka tengah mengikuti kegiatan demo di gedung DPR.


Astaga, jadi gue gak mimpi. Perang dunia ketiga sudah di mulai. Batin Bian.


"Med, lari Med!!" Teriak Bian.


Mereka berdua berlari, tapi sayangnya mereka berlawanan arah.


Kericuhan masih terjadi di antara para mahasiswa, mereka bersitegang dengan para aparat keamanan. Saling dorong mendorong, bahkan acapkali Bian terjatuh karena tersenggol oleh para mahasiswa yang sedang berlari menghindari gas air mata atau kejaran pihak aparat keamanan.


Sampai akhirnya ia bisa terbebas dari kerumunan para mahasiswa, ia tidak tahu sejauh mana ia berlari saat ini. Yang jelas, di perjalan dan di tengah kericuhan. Ia membuang jas almamater nya agar tak di sangka mahasiswa jika ia berhasil keluar dari kerumunan itu.


Hos hos hos,, napas Bian begitu bergemuruh. Setelah bertahun-tahun kuliah, ini pertama kalinya ia mengikuti demokrasi bersama teman-temannya.


"Ah sial, harusnya gue gak ikut demo. Kalo mami tahu, uang jajan gue bisa-bisa di potong." Gumam Bian.


Bian melirik penampilannya di sebuah kaca salah-satu cafe, penampilannya sangat acak-acakan saat ini. Ia bahkan terlihat seperti gembel yang mengemis makan.


Bian merongoh saku celananya, untung saja ia berhasil memindahkan ponselnya dari saku almet ke saku celana. Ia menelpon seseorang untuk membelikannya pakaian. Bukan karena ia tak ada uang, hanya saja ia malu jika masuk ke dalam mall dengan penampilan seperti sekarang.


Bayangkan saja, kaos putih yang di padukan dengan celana jeans hitam itu penuh dengan debu dan sangat lecek, bahkan ada beberapa bekas injakan. Belum lagi tragedi ia setengah tercebur ke dalam got.


"Halo?" Ucap Bian.


"Bawain gue pakaian ke alamat xx, pastikan mami tidak tahu!"


"Ah, iya sebentar. Dan bawakan pakaian juga untuk Armed."


"Armed kau butuh--,"


Bian mematung, ia menatap ke arah sekitarnya. Dimana Armed? Pikirnya.


"Ah, sudah lupakan! Bawakan saja pakaian untuk ku!" Titah lagi Bian pada orang itu.


***


Jika dilihat dari umurnya, Bian saat ini berusi 26 tahun. Ia sebenarnya sudah menyelesaikan studi nya, ia seorang mahasiswa panca sarjana. Hanya saja, ia menangguhkan sidangnya dengan cara mensogok para dosen. Jika orang lain berusaha untuk lulus, maka beda hal nya dengan Bian, dia berupaya agar tidak lulus.


Alasannya hanya satu, sang momi yang merupakan seorang ibu tunggal selalu mendesak Bian agar segera menikah.


Ia teringat akan percakapan nya beberapa hari yang lalu bersama sang bunda.


"Bian


apa


kau


punya pacar?"


"Bian kapan kamu mau ngenalin ke momi calon istrimu?


"Apa perlu momi mencarikan jodoh untukmu?"


"Bian, kapan kamu lulus?"


"Bian, apa kamu tidak punya pacar?"


"Bian, apa kamu gay?"


"Astaga anaku gay?" Pekik histeris Momi Mona.


"Mom, Bian bukan gay!" Bantah Bian. Selama ini Bian selalu diam jika sang momi membicarakan perihal pacar atau jodoh. Namun, tidak dengan saat ini. Harga dirinya sebagai laki-laki merasa di ragukan.


"Yaudah, bawa dong pacar kamu ke sini. Kenalin ke mama." Ucap momi Mona.


"Temen-temen momi udah pada punya cucu Lo, cuma momi doang yang belum," ucap Mona sendu.


"Iya mom, nanti Bian cariin janda anak dua. Biar momi langsung punya cucu!" Jawab Bian asal, lalu berlari pergi. Sudah di pastikan jika ia masih di tempat itu, ia akan terus di beri ceramah sampai subuh.


"BIAANNNN!!!" Terika Mona pada anak semata wayangnya.


Pertanyaan seperti itu benar-benar membuat Bian mati rasa, jangankan calon istri pacar saja ia tak punya.


Selama menempuh pendidikan di kampusnya, tidak ada satu pun orang yang mengetahui siapa Bian sebenarnya. Hanya beberapa teman dekat Bian saja yang tahu siap Bian, dan berasal dari keluarga mana dia. Yang diantaranya, Armed, Jodi, dan Samuel.


Bian juga terkenal dengan sebutan mahasiswa abadi. Bagaimana tidak, semua teman-teman nya sudah lulus sedangkan ia masih saja betah menjadi mahasiswa, terkecuali Armed. Dia bukan hanya sekedar teman untuk Bian, ia sudah seperti saudara untuknya. Ia besar bersama Bian, Armed adalah anak dari salah satu pekerja di rumahnya Bian, tepatnya sopir keluarga MUSAGARA. Hanya saja, tepatnya sepuluh tahun lalu. Baik ayah Armed ataupun Bian mereka meninggal karena sebuah kecelakaan. Dan pesan terakhir dari ayahnya untuk Armed adalah, ia harus mengabdi pada keluarga MUSAGARA. Dan itu sudah tertanam dalam dirinya sejak dahulu.


***


Bian sudah mondar mandir di dekan pom bensin, ia masih menunggu asisten nya untuk mengantarkan pakaian untuknya. Tiba-tiba seorang bocah kecil laki-laki menumbuk dirinya.


Bian dan anak itu saling memandang, Bian sangat menyukai anak kecil, tapi ia tidak menyukai anak kecil yang menangis.


"Maaf yah pah," ucap anak itu. Kemudian berlalu begitu saja.


"Pah?" Ucap Bian pada dirinya. "Ah mungkin maksudnya pak," ucap Bian lagi.


"Tapi gue bukan bapak-bapak." Ucap lagi Bian geram.


Tiba-tiba ada seseorang yang menepuk bahunya pelan.


"Tuan muda,"


"Astaga, untung gue gak punya riwayat sakit perut." Ucap Bian sambil mengusap dadanya.


Asisten Bian mengerutkan keningnya.


"Emm, mungkin maksud anda jantung tuan." Ucap Rival pelan.


"Ini mulut siapa?" Tunjuk Bian pada mulutnya.


"Mulut anda tuan." Jawab rival.


"Yaudah, terserah gue dong," sahut Bian.


Rival hanya mengelus dadanya perlahan, memiliki atasan seperti Bian harus ekstra sabar. Demi bonus yang besar dan pastinya istri di rumah akan senang.


Bian meraih paperbag dari tangan asistennya itu, kemudian ia masuk ke dalam toilet umum untuk mengganti pakaiannya.


Tak lama, Bian keluar dengan pakaian barunya. Ia memakai celana jeans sobek-sobek di bagian lututnya, di padukan dengan kemeja bergaris berlengan pendek. Tak lupa ia membuka dua kancing teratas kemeja tersebut. Rambutnya ia biarkan acak-acakan tapi terlihat sangat kentara aura badboy nya. Jika cara berpakaian Bian ke kampus adalah culun dan norak, beda lagi jika di luar kampus. Ia akan berpakaian seperti remaja-remaja yang berumur belasan tahun. Apalagi saat ini di tambah beberapa luka di wajahnya karena terjatuh, menambahkan kesan badboy yang melekat pada diri Bian.


Setelah selesai, ia tak lupa memberikan kembali paperbag yang berisi pakaian kotor miliknya. Agar asistennya bisa memasukan pakaian Bian ke loundri.


Setelah masalah pakaian selesai, Bian kini masuk ke dalam salah satu cafe yang letaknya tak jauh dari tempatnya saat ini. Ia juga sudah menghubungi Armed agar membawa mobil milik mereka kesana. Hanya saja Armed masih terjebak di kerumunan para mahasiswa.


Suasana di dalam cafe sangat menyejukkan mata, suasananya begitu indah dan mewah. Meskipun, jika dilihat ornamen-ornamen yang ada di caffe terlihat sederhana.


Bian baru saja akan memanggil pelayan, tiba-tiba saja datang dua orang anak kecil yang membawa buku menu ke arah mereka.


Bian mengambil buku menu itu, sesekali ia memandang ke arah kedua maka kecil itu.


"Nah, itu papah kita. Yang tadi aku bicarakan ke kamu" Bisik anak laki-laki itu.


"Kata mamah, papah kita ganteng. Dan ini benelaan ganteng banget," ucap sang anak perempuan yang masih agak belepotan berbicara nya.


Kedua anak itu terus menatap Bian, bahkan Bian sampai mengerutkan keningnya saat melihat kedua anak itu.


Bersambung**..