My Baby Twins

My Baby Twins
Chapter 44



"AAALLEXXX." teriak bram  membuat Alex menatap mereka dan kaget.


"AULIA APA-APAAN KAMU HAH. APA PANTAS SEORANG SEKRETARIS MENGGODA ATASANYA” teriak bram dengan marah.


“sayang ini gak seperti yang kamu Liat. aku bisa jelasin semuanya.” ujar Alex melangkah mendekati Karin.


Karin hanya menatapnya datar dan berlalu melewati Alex. menatap tajam wanita yang tersenyum sinis itu.Karin menyeringai menatap wanita itu. Tanpa di jelaskan dia cukup mengerti apa yang terjadi.


“sayang please dengerin aku yang. Ini gak kayak kamu pikir yang." ujar Alex menahan tangan Karin . Membuat Karin menatapnya datar. Karin melirik bram.


“ bang bisa bawa Avaro juga Alisha keruangan abang. Jangan sampai mereka kesini. Karna aku yang akan kesana nanti.” ujar Karin .Bram menganggukkan kepalanya. Segera dia menggendong Avaro juga Alisha.Avaro  menatap tajam wanita yang tersenyum miring itu.


“tante jangan harap bebas gitu aja. Jangan senyum gitu. Avaro  jijik liatnya.” ujar Avaro tajam sebelum di bawa keluar ruangan. Setelah mereka pergi Karin menatap Suaminya itu.


“aku bisa jelasin yang. Bukan aku yang mulai yang. Sungguh.” ujar Alex memelas. Tubuhnya sudah panas dingin saat ini.  Karin menatapnya lalu tersenyum.


“Aku tau kenapa kamu bisa kayak gini.” Karin mengelus pipi Alex . membuat Alex memejamkan matanya.


“Kamu tunggu di ruangan pribadi itu ya. Aku masih ada urusan sama wanita ini.” ujar Karin lembut. Alex menggelengkan kepalanya.


“bantu aku yang. Dia biar di urus security.” Ujar Alex serak.


“oke, aku hubungi bang bram dulu ya biar dia yang ngurusnya.” ujar Karin lalu menghubungi bram. Tidak lama bram datang. Dengan masih menatap tajam Alex.


“bang sebaiknya seret wanita ini keruangan abang. Dan suruh Renata Sisil juga Rhiana ke kantor. Bilang aku minta mereka urus wanita ini.”


“kenapa hanya wanita ini dek. Suami kamu itu juga perlu di kasih pelajaran.” ujar bram ketus.


“wanita itu kayaknya nyampurin sesuatu di minuman mas Al bang. Abang bisa liat gelas di atas meja itu. Juga mas ken yang sekarang.” jelas Karin .Bram menatap Alex lalu mengangkat sebelah alisnya.


“B******t. Lo bakal abis sama gue. Sekarang lo ikut gue.” ujarnya geram dengan cepat dia menarik wanita itu keluar dari ruangan. Alex langsung mecium Karin kasar.


“sayang please bantu aku.” ujarnya parau. Karin hanya menganggukan kepalanya. Sementara di ruangan bram. Avaro  dan Alisha menatap tajam wanita yang duduk angkuh itu.


“uncle kok tante ini gak takut ya sama Avaro .” bisik Avaro membuat bram terkekeh.


“abang kurang galak kali bang makanya dia gak takut.” bisik Alisha pula.


Braakk…


“MANA YANG BERANI GANGGU BANG ALEX” teriak Rhiana menggelegar membuat mereka yang di dalam ruangan kaget.


“astaga aunty. Alisha kaget nih. Untung Alisha udah makan tadi jadi gak terkejut. Ujar Alisha sambil mengelus dadanya.Bram yang mendengar hanya geleng kepala. Alisha dan bahasanya sungguh hampir sama dengan Karin .


“ohh ini wanita yang mau macem-macem ama bang Alex.” sinis Renata.


“kayaknya sih gitu. Dih lagaknya sok banget lagi.” sinis Sisil


“ho oh aunt y. Dari tadi tante gaya cabe ini nih gak takut sama Avaro .” ujar Avaro bersedekap dada. sambil duduk dimeja kerja bram di sampingnya Alisha juga melakukan hal yang sama. Sementara bram duduk di kursinya menatap ketiga wanita itu malas.


“udah deh abang serahin sama kalian aja. Terserah deh tadi juga Karin nyuruhnya kalian bebas buat ngerjain ondel-ondel ini.” kata bram. Membuat Sisil , Renata dan Rhiana menyeringai senang.


“oke lets start the game guys.” ujar Renata lalu mendekati wanita itu yang mulai cemas. Hilang sudah rasa angkuhnya tadi. Karna ketiga wanita itu menatapnya tajam dan dingin. Avaro  dan Alisha hanya duduk diam sambil memakan es krim yang baru di ambilkan bram dari kulkas yang ada di ruangannya.


“AUNTY  FIGHTING ABANG DUKUNG"


"ICA JUGA DUKUNG AUNTY, AYO AUNTY SEMANGAT.” sorak mereka senang.


 


Karin dan Alex  masuk ke ruangan bram. Mereka membelalak mata, bagaimana tidah. Wanita bernama Aulia itu tengah duduk di kursi dalam keadaan terikat. sementara kedua anaknya dengan asik melukis wajah Aulia. Entah dari mana  mereka mendapatkan lipstik merah itu.


“ih dek ini jelek dek. Di buletin aja pipinya.”


“abang kalo cuma kek gitu gak bagus. Di tebelin gini aja.” Alisha dengan lipstick di tangannya tengah membuat bulatan tebal di pipi Aulia. Sementara ketiga wanita yang dipanggil Karin tengah asik tertawa menatap kedua ponakannya itu. Juga bram yang sudah terpingkal-pingkal.


“astaga sayang. Kenapa kamu sentuh dia nak. Abang juga Ica mandi sekarang nak. Bunda gak mau kalian kena virus ondel-ondel gitu.” ujar Karin histeris membuat Alex  melongo sementara yang lain makin terbahak.


“nanti deh bun mandinya. Nanggung ini, abang lagi seru buat badut ini.” ujar Avaro tanpa menatap Karin.


“heh kalian disuruh berantas wanita itu kenapa malah diem!" kata Karin kesal. Karin duduk di sofa di ikuti Alex di sampingnya.


“niatnya gitu kak. Cuma pas Avaro gak sengaja liat lipstik yang jatoh dari tuh cewek. Dia minta buat mainan mereka dulu deh.” jelas Renata disela tawanya.


“astaga kalian yaa, nak udah yaa nanti  kalian kotor loh sayang.” bujuk Karin. Avaro dan Alisha cemberut dan mendekati ayahnya.


“nanti deh yang.” jawab Alex  santai membuat Karin mendelik sebal. Lalu menatap tajam wanita yang duduk dalam keadaan terikat itu.


“kamu bosan hidup apa gimana sih. Berani amat ganggu suami saya hah.” kata Karin dingin. Sementara aulia tetap dengan mode angkuhnya.


“ck percuma kali kil. Dia dari tadi juga di omongin gitu terus lagaknya.” Kata Rhiana.


“aku udah cari tau latar belakang tuh pelakor kak. Dia dari keluarga yang sederhana. Bapaknya kerja jadi karyawan di kusuma. Ibunya sama tuh kayak kerjaan dia gitu.” jelas Sisil.


“maksudnya sekertaris?” tanya bram. Sisil menatapnya jengah.


“bukan, emang dia sekertaris gitu?” tanya Sisil balik dengan menaikan sebelah alisnya.


“iya sekertaris baru Alex ." jawab bram.


“jadi ibunya pelakor juga gitu maksudkamu sil? tanya Renata.


"hooh. Pelakor kelas berat malahan. Udah jadi istri siri bos." jawab Sisil membuat Aulia melotot tajam.


“jangan asal bicara lo.” Bentaknya membuat Karin tersenyum sinis.


“pantesan dia jadi pelakor. Biar apa kamu goda suami saya heh. Mau hartanya kamu. Masih kurang ibu kamu yang jadi pelakor heh.” kata Karin sinis.


AuLia menatap tajam Karin.


“Dasar janda. Lo pikir gue gak tau heh. itu dua anak haram lo kan.” ujarny sinis.


Plakk


Bukan Karin yang menampar. Itu Alex yang menamparnya.


“jangan pernah kamu berani bilang anak saya anak haram. Mereka anak kandung saya. Perlu kamu ingat satu hal. Kamu sudah mau menghancurkan rumah tangga saya. Maka saya gak  akan buat kamu tenang. Tunggu dan lihat apa yang akan terjadi pada kamu dan keluarga kamu.” ancam Alex  dengan tatapan mematikannya. Membuat Aulia ciut di buatnya.


"bun anak haram apaan sih?” tanya Alisha heran. Karin menatap putrinya itu kaget. Mereka juga menatap Alisha .


“Ica gak perlu tau ya nak. Itu kata-kata yang gak pantes di ucapin. Alisha liat ayah marah sama dia kan. Itu karna kata-kata itu gak pantes di ucapin. Ica jangan pernah ngucapin kata itu lagi yaa.” kata Karin lembut. Alisha hanya manggut-manggut. Sisil bangun dari sofa mendekati Aulia menyeret kursi ke dekat sofa itu. Menghadap tepat ke mereka.


“ini ada yang mau bawa Ica sama Abang pergi dulu gak?” tanya Sisil menatap mereka satu persatu.


“ya udah kalian urus nih cabe kurang belaian. Kakak yang bawa Avaro sama Alisha keruangan mas ken. Sekalian mau di bersihin takut ada virus cabe giling ini. Ewh, jijik banget kalo anak aku ketempelan virusnya.” ujar Karin sambil bangun dari duduk. Alex  dan yang lain hanya terkekeh geli mendengar ucapan Karin.


“Abang ica sini ikut bunda nak. Kita bersihin kuman yang nempel sama kalian yuk.” ajak Karin.


Alisha dan Avaro menganggukan kepalanya. Mereka mendekati Karin dan menggandeng tangan Karin.


“eh bentar dong bun. Mumpung nanti abang mau mandi.” Avaro mendekati wanita itu.


“aunty sil gendong.” pintanya.Sisil menggendong ponakannya itu.  Avaro meminta mendekat pada Aulia.


Menarik rambutnya dan mengikat asal.


“nah ini baru pas tante jadi makin oke.”katanya riang. Baru turun dari gendongan sisil yang sudah terbahak akibat ulah ponakannya ini.


“eitt tunggu bentar. Aunty Rhiana pinjem ponsel.” pinta Alisha, Rhiana langsung memberikannya pada Alisha. Beberapa kali Alisha mengambil foto Aulia.Dia tetsenyum puas melihat hasilnya.


“ck ck ternyata Alisha punya bakat juga ya.”gumamnya terkekeh geli.Sementara yang lain hanya menatap Alisha heran.


“dek buat apa kamu foto ini tante cabe gilingan?" tanya Avaro heran. Jelaslah adeknya tiba-tiba moto itu tante.


“abang inget gak aku diajarin oma Dewi sama oma nissa. Sekarang aku mau masukin foto tantenya ke med..med apa ya duh Ica lupa.” katanya sambil mengetuk jurinya di keningnya.


“medsos sayang. Emang Alisha bisa mainnya?” tanya Alex  heran. Alisha menganggukan kepalanya cepat.


“ho oh yah. ica diajarin buat kirimnya.Kalo kata oma nissa kirim begitu biar viral gitu deh. Lumayan Alisha sama abang bisa terkenal nanti.” Ujarnya dengan terhekeh. Jarinya masih aktif memainkan ponsel Rhiana. Sementara mereka hanya melongo melihat aksi Alisha.


“kayaknya aku perlu deh ngecek kalo mama sama mami lagi sama mereka mas.” ujar Karin geleng kepala.


“oke selesai. Jadi nanti aunty jangan lupa follow ig Alisha.” katanya sambil memberikan ponsel pada Rhiana.  Rhiana yang penasaran melihat apa yang di lakukan ponakanya itu. Dia membelalak mata.


“wah gilaa, Followers Alisha bukan main.” ujar Rhiana sambil memperlihatkan pada yang lain. Sama halnya dengan Rhiana mereka semua membelalak mata.


“Udah yok bun mandi. Abang gerah bun.” pinta Avaro mengipasi lehernya. Alex yang melihat hanya geleng kepala. Lah ruangan ini ber-AC loh kenapa pula bisa gerah. Merekapun berjalan keluar ruangan itu.


“mas kamu ngapain masih disini ayo keruangan kamu. Inget kamu juga harus mandi biar gak nempel virus itu cabe.” kata Karin dari dekat pintu. Alex segera menyusul istrinya itu keluar ruangan.