
"Kalau namaku ... " ucapan Langit terpotong.
"Langit Devano Galaxy," jawab wanita itu tersenyum.
"Waww ... Amazing," Langit mengangkat kedua tangannya dengan wajah berbinar.
"Kenapa kamu bisa tahu namaku? Oh iya, kamu juga sepertinya mengenalku, apa kamu satu kampus denganku?" tanya Langit seraya menatap Aqila dengan tatapan menggoda.
Aqila balik badan sambil memunggungi Langit yang masih berdiri di posisinya. "Iya, kita satu kampus bahkan satu kelas," ucap Aqila tersenyum.
"Hah? Satu kelas? Jangan bercanda! Aku tidak pernah melihat kamu di kelasku." Langit tergelak.
"Iya, kamu tidak mengenaliku karena yang kamu lihat hanya fisik," ucap Aqila yang melangkah meninggalkan Langit yang masih memasang wajah bingung.
"Eh tunggu!" Langit lari mengejar Aqila.
"Ada apa lagi?" tanya Aqila yang terus berjalan dengan Langit yang terus mengikutinya.
"Berhenti sebentar kenapa sih?"
Langit menarik pergelangan tangan Aqila hingga reflek gadis itu balik badan dan membentur tubuh pria tersebut.
Tatapan keduanya bertemu, dalam hitungan detik mereka kini saling tatap begitu dalam hingga akhirnya mereka tersadar dengan suara adzan yang berkumandang dari masjid di sekitar Danau tersebut.
"Sudah magrib, aku mau pulang." Aqila mencoba melepaskan pergelangan tangannya dari genggaman tangan Danis.f
Aqila pun melangkahkan kakinya menjauh dengan Langit yang masih menatap punggung gadis itu seraya terus menarik kedua sudut bibirnya dengan lengan yang ia lipat di dada.
"Gadis yang sangat cantik, tapi sepertinya di kelas tidak ada yang lebih cantik dari Pelangi. Kalau memang dia satu kelas denganku, lalu kenapa aku tidak bisa melihatnya selama ini? Padahal Pelangi masih kalah cantik."
Langit terus bermonolog dirinya sendiri, hingga akhirnya suara dering ponselnya mengagetkan pria itu, dan saat ia menatap layar, seketika ia memasang wajah kesal.
"Ada apa?" tanya Langit dengan suara ketus.
"Iya, maaf. Tadi aku ketiduran di rumah sakit sampe aku lupa kalau kita janjian di sana," ucap Pelangi.
"Kamu tau nggak?"
"Nggak," jawab Pelangi cepat.
"Tunggu dulu, dengarkan kenapa sih?" Langit semakin kesal.
"Lah, kenapa aku yang salah? 'Kan kamu nanya?"
"Terserah kamu deh! Yang jelas aku marah ya! Aku nunggu kamu seharian di Danau ini, tapi kamu malah tidak datang ke sini. Aku kesel sama kamu pokoknya titik."
Langit hendak mematikan ponselnya, akan tetapi, seketika ia teringat pada Aqila hingga membuat pria itu mengurungkan niatnya dan berinisiatif untuk menanyakan tentang Aqila pada sahabatnya tersebut.
"Eh tunggu dulu!" cegah Langit agar Pelangi tidak mematikan ponselnya.
"Kenapa? Katanya kesel?" tanya Pelangi dari seberang.
"Aku memang kesel, cuma aku lagi butuh informasi dari kamu, nanti setelah ini aku kesel lagi. Tenang saja," ucap Langit dengan santainya.
"Cih ... ! Mana ada ngambek di jeda dengan kebutuhan? Setelah itu ngambek lagi! Dasar aneh!" umpat Pelangi kesal.
"Heh, sesama orang aneh tidak boleh saling menghina! Aku begini karena nular dari kamu tau nggak," ucap Langit menahan kekesalan.
"Nular nular ... memangnya aku Virus?"
Pelangi mendesah. "Sudah katakan! Apa yang ingin kau tanyakan padaku? Memangnya informasi apa sih yang kau butuhkan?" Pelangi menyerang Langit dengan beberapa pertanyaan.
"Hmmm ... "
"Tadi pas aku nunggu kamu, aku bertemu dengan seorang yang katanya teman kelas kita," ucap Langit.
"Siapa?" tanya Pelangi penasaran.
"Aqila."
"Aqila? Aqila siapa? Perasaan di kelas nggak ada yang namanya Aqila," ucap Pelangi dengan nada suara bingung.
"Itu dia, makanya aku bingung. Tapi kata dia, kita itu sekelas, hanya saja aku tidak bisa melihat dia karena aku hanya melihat wanita dari segi fisik," ucap Langit yang masih terus mencoba mengingat-ingat wajah teman kelasnya.
"Dia bilang begitu sama kamu?" tanya Pelangi bingung.
"Iya, dia bilang seperti itu."
Pelangi lama terdiam, hingga membuat Langit mengerutkan kening. "Sweet girl, kamu masih di sana?" tanya Langit.
"Iya, aku masih di sini. Aku hanya berpikir, apa mungkin yang kamu maksud itu Hujan ya? Soalnya di kelas yang terlihat aneh itu cuma Hujan."
Deg
"Hujan?"Langit terkejut.
"Gadis culun yang hanya berteman dengan buku?" tanya Langit dengan wajah terkejut.
"Iya, memangnya siapa lagi? Semuanya tidak ada yang terlihat aneh dari segi fisik kecuali dia."
"Nggak mungkin ah, Aqila sangat cantik, bahkan lebih cantik dibandingkan kamu," ucap Langit.
"Cih! Kamu lagi mengejekku?" tanya Pelangi.
"Bukan begitu, Sweet girl! Aku serius ini, maksudku di kelas kita, kamu yang paling cantik, tapi sungguh dia sangat cantik dan aku pertama kali melihatnya tadi.
"Jadi menurut aku, mana mungkin dia Hujan? Langit bumi tau nggak."
"Hujan memang cantik, tapi kecantikannya itu terhalang dengan kacamata tebalnya dan rambutnya yang sangat aneh."
"Ya sudah, kalau begitu aku akan lihat wajah Hujan dengan teliti jika kita ketemu, aku akan menyuruhnya untuk buka kaca mata."
"Eh, kamu ada foto Hujan Nggak?" tanya Langit penasaran.
"Nggak ada, ngapain aku nyimpen foto dia? Foto kamu aja aku nggak punya!" ucap Pelangi.
"Tapi sepertinya kalian akan jodoh deh, seperti Papa dan Mama contohnya. Sky dan Rainy. Langit dan Hujan."
"Apa sih? Ngaco!" Langit mematikan ponselnya tanpa menunggu ucapan Pelangi selanjutnya.
"Tapi apa benar ya? Aqila itu Hujan?"
Langit masih berdiri di posisinya hingga ia menyadari bahwa sekitarnya sudah gelap.
...🌷🌷🌷🌷🌷...
...TBC...