Love You, Om!

Love You, Om!
Segalanya



Beberapa hari kemudian.


"Langit? Beberapa hari ini kenapa kamu terlihat murung, Nak?" tanya Catherine yang kini melangkah mendekati sang putra yang sedang duduk di balkon dengan wajah melamun.


Pria itu lebih banyak menghabiskan waktu di kamar, sejak kejadian di malam itu, Hujan menghilang tanpa kabar hingga membuat pria itu frustasi karena tidak bisa menemukan orang yang bisa membuatnya nyaman saat suasana hatinya sedang gelisah.


Langit menoleh, lalu menatap sang Mommy yang kini duduk di kursi seberangnya. "Boleh Langit Jujur pada Mommy?" tanya Langit seraya menatap Chaterine dengan wajah tanpa semangat.


Chaterine pun mengembangkan senyumnya. Lalu mengangguk sebagai jawaban pada putranya tersebut.


"Aku ingin menolak pertunanganku dengan Pelangi, Mom! Tapi aku tidak ingin mengecewakan Daddy," ucap Langit seraya menatap Catherine dengan wajah lesunya.


"Apa?" Catherine terkejut.


"Tapi kenapa Sayang? Bukankah kamu memang mencintai Pelangi?" tanya Catherine dengan wajah bingungnya.


"Iya, Mom! Aku memang mencintai Pelangi, tapi Pelangi mencintai orang lain." Langit menatap Catherine lekat tanpa berniat ingin mengalihkan tatapannya dari orang yang telah melahirkannya itu.


"Tapi bagaimana dengan rencana pertunangan kalian, Daddy pasti ...,"


"Aku tidak akan memaksa Langit jika Langit tidak ingin menjalin hubungan yang lebih serius dengan Pelangi."


Deg


Baik Langit maupun Catherine terkejut mendengar suara dari seseorang yang tiba-tiba terdengar di tempat itu.


"Daddy?" ucap Catherine dan Langit bersamaan, ketika keduanya menoleh pada sumber suara tersebut.


Devan melukis bibirnya hingga melengkung berbentuk bulan sabit. Pria itu kini melangkah dan duduk di kursi yang berada di antara Langit dan Catherine.


"Apa Daddy tidak akan marah jika aku menolak perjodohan ini?" tanya Langit terkejut.


Devan tersenyum mendengar pertanyaan putranya. "Jika Daddy dulu bisa mendapatkan Mommymu dengan cara yang tidak baik menurut semua orang, tapi Daddy selalu tahu, bahwa Mommymu adalah yang terbaik untuk Daddy."


Langit mengerutkan kening mendengar pernyataan sang daddy. "Maksud Daddy cara tidak baik?" tanya Langit dengan wajah penuh selidik.


"Jangan ajari Langit macem-macem!" Catherine menatap Devan kesal, lalu beranjak dan melangkahkan kakinya meninggalkan tempat tersebut.


"Sudah lupakan saja, intinya Daddy akan selalu mendukung apapun yang menjadi kebahagiaanmu. Kamu sudah besar dan bisa mengambil keputusanmu sendiri," ucap Devan.


"Daddy tidak marah?" tanya Langit dengan wajah ragu.


Devan menatap putranya lekat. "Tidak! Untuk apa Daddy marah? Yang akan menjalani pernikahan dengan Pelangi itu kamu, bukan Daddy. Daddy menjodohkanmu dengan Pelangi karena kata Mommymu kebahagiaanmu adalah dia."


Langit menghela nafas berat. "Aku tidak akan bahagia jika hidup dengan seseorang yang hatinya sudah dikunci untuk orang lain, Dad!" Langit menatap ke arah halaman dengan tatapan kosongnya.


Sementara Devan terus menatap wajah sang putra yang terlihat tertekan. "Apa kamu sedang memikirkan sesuatu?" tanya Devan penuh selidik.


Langit menganggukkan kepalanya. "Aku kehilangan Hujan karena waktu itu, Dad! Dia pergi entah kemana?"


Devan mengerutkan kening karena putranya tersebut membicarakan gadis lain, padahal mereka masih membahas tentang pertunangan dengan Pelangi. "Apa kamu mencintainya?" Devan menatap putranya lekat.


Langit menggeleng-gelengkan kepalanya. "Aku tidak tahu, Dad! Tapi hanya dia yang mampu membuatku lupa pada Pelangi."


"Saat bersama Hujan aku merasa damai dan bisa melupakan segala sesuatu yang menjadi beban pikiranku." Langit tersenyum dengan mata yang memancarkan kerinduan.


"Memangnya kamu pernah punya beban?" Devan sengaja mengalihkan pembicaraan untuk membuat sang putra kesal.


"Daddy ... !" Seketika Langit mengalihkan tatapannya pada Devan.


"Ya sudah, kamu tidak perlu khawatir. Daddy akan membatalkan pertunangan kalian, jika kalian tidak bahagia dengan perjodohan ini." Devan tersenyum.


"Terima kasih, Dad!"


Devan menganggukan kepalanya sambil tersenyum tipis. Lalu, beranjak dan meninggalkan putranya tersebut.


___________


Setelah berbicara dengan Langit, Devan langsung melangkahkan kakinya menuju restoran mengajak Sky bertemu.


Kini kedua pria paruh baya yang bersahabat itu berada di ruang VIP dan saling tatap dengan wajah yang penuh keseriusan.


"Aku ingin membatalkan pertunangan anak kita!" ucap Sky dan Devan bersamaan.


Baik Devan maupun Sky terkejut, namun di detik berikutnya mereka tersenyum.


"Langit tidak mau menikah dengan seseorang yang hatinya telah dikunci untuk orang lain," ucap Devan jujur. "Kamu?"


"Alasan kita sama, jika pernikahan mereka di paksakan, aku takut mereka akan saling menyakiti." Sky pun tersenyum tipis.


"Apakah itu artinya kamu sudah memaafkan Awan?"


Sky mengerutkan kening. "Kamu tahu dari mana tentang Awan? Apa Langit yang menceritakannya padamu?" tanya Sky penuh selidik.


Devan tersenyum tipis tanpa mengalihkan tatapannya dari sahabatnya tersebut. "Tidak, Langit tidak cerita apapun tentang Sky. Aku tahu tentang Awan dari Arnold. Dia beberapa hari lalu datang padaku, tapi aku tidak memperdulikan dia, sampai putraku sendiri yang memintaku untuk membatalkan perjodohan ini."


Sky tersenyum mendengar penuturan Devan, pria itu tidak heran lagi jika Arnold mendatangi Devan, karena Kakak iparnya tersebut merasa bersalah karena pernah menjodohkan Awan dengan Rainy hingga membuat Awan trauma bertahun-tahun dan tidak dekat dengan wanita manapun.


"Meskipun kita tidak jadi besanan, aku harap persahabatan kita tidak akan hancur." Sky tersenyum.


"Pasti, kita akan selalu bersahabat," ucap Devan.


"Ya sudah, kalau begitu aku pergi duluan. Siang ini aku masih ada rapat!" Devan melihat jam di pergelangan tangannya.


Sky menganggukkan kepalanya. Lalu, Devan beranjak dan meninggalkan ruangan tersebut dengan Sky yang menatap langkahnya.


__________


Kediaman Sky.


"Pelangi ... "


Awan kini datang ke rumah gadis itu dan menunggu Pelangi untuk minta maaf. Pria itu setiap hari datang untuk menemui Pelangi meskipun dia tidak mendapatkan sambutan yang ramah.


Saat Pelangi tiba di rumah tersebut, Pelangi langsung melangkahkan kakinya menuju pintu utama setelah memarkirkan mobil. Ia melewati Awan yang berdiri dengan membawa buket bunga ditangannya.


Awan yang melihat Pelangi masih marah, ia langsung menarik pergelangan tangan Pelangi dan memeluknya erat.


Sementara Pelangi memberontak meskipun tenaganya kalah kuat. "Lepas Om!" teriak Pelangi dalam pelukan Awan.


"Tidak, aku tidak akan pernah melepaskanmu sebelum kamu memaafkan aku!" ucap Awan.


"Untuk apa Om Awan minta maaf, bukankah selama ini aku yang ganggu Om?" Pelangi masih memberontak dalam pelukan pria itu.


"Tidak, aku yang selalu menyakiti kamu. Aku akan selalu mendatangiku sampai kamu bisa maafin aku!" ucap Awan.


"Lepaskan!" teriak Pelangi.


"Tidak!"


"Ok aku maafkan!" ucap Pelangi pasrah.


Awan pun tersenyum, lalu melerai pelukannya perlahan. "Kamu benar sudah maafin aku?" tanya Awan dengan senyum yang mengembang.


"Iya." Pelangi menatap Awan dengan wajah datar.


"Om sudah mendapatkan apa yang Om inginkan 'kan? Lebih baik sekarang Om pergi, karena percuma saja Om mendapatkan maaf dariku, semua tidak akan kembali seperti semula," ucap Pelangi.


"Tapi kenapa?" tanya Awan dengan wajah sendunya.


"Aku janji, aku akan berubah. Kita bisa memulai hubungan kita dari awal dan aku juga janji, aku tidak akan pernah nyakiti kamu lagi," ucap Awan sambil memegang pundak Pelangi dan menatapnya lekat.


Pelangi pun melepaskan tangan Awan perlahan dari pundaknya. Lalu, menatap pria itu dengan begitu lekat.


"Aku tahu kita bisa memulai semuanya dari awal. Tapi, aku tidak ingin menyakiti Papa demi Om, yang aku inginkan kebahagiaan Papa, bukan kebahagiaanku sendiri. Jika memang hubungan kita akan membuat Papa marah, aku tidak akan pernah meneruskan hubungan kita. Aku mencintai Om karena Papa, dan aku pergi dari Om juga karena Papa." Pelangi menatap Awan dengan air mata yang mengembun.


Sementara Awan menggeleng-gelaengkan kepalanya karena tidak ingin kehilangan gadis itu. "Tidak. Kita pasti bisa mendapatkan restu dari papa kamu, kamu jangan menyerah sebelum berjuang."


"Maaf, Om! Tapi bagiku, Papa adalah segalanya." Pelangi tersenyum.


Setelah itu, Pelangi balik badan dengan Awan yang menatap punggung wanita itu sendu. "Aku merestui hubungan kalian."


Baik Awan maupun Pelangi terkejut mendengar suara seseorang yang tidak lagi asing bagi keduanya.


TBC


Insya Allah lanjutannya nanti malem ...


menuju tamat ya guys ... 🙃