Love You, Om!

Love You, Om!
Tidak Ingin Mengganggu



"Awan? Dari semalam kamu di sini?"


Arnold terkejut saat menatap sahabatnya yang kini berdiri dengan keadaan sangat kacau. Wajah pucat, rambut dan pakaian yang mulai mengering.


Arnold datang pagi-pagi ke rumah Rainy untuk mengantar Star untuk mengambil perlengkapan sekolahnya, gadis kecil itu selama beberapa hari menginap di rumah Arnold dan Arumi.


"Iya, aku di sini semaleman. Aku nunggu maaf dari Sky dan Pelangi," jawab Awan dengan wajah sendunya.


"Apa?" Arnold terkejut saat mengetahui kekonyolan sahabatnya tersebut.


"Kamu sudah gila? Jadi semalaman kamu kehujanan hanya untuk minta maaf?" tanya Arnold seraya menggeleng-gelengkan kepalanya tidak percaya.


"Aku bingung harus apa, Ar! Pelangi dijodohkan dengan Langit karena Sky kecewa padaku," ucap Awan dengan wajah sendunya.


Arnold yang masih menggenggam tangan Star, ia menoleh pada sang keponakan. Lalu, tersenyum dan menjongkokkan sedikit tubuhnya hingga wajah pria itu dekat dengan wajah keponakannya tersebut.


"Star Sayang, kamu masuk duluan ya! Om Arnold ingin bicara sama Om Awan dulu!" Pria itu membelai pipi keponakan kesayangan tersebut.


"Iya, Om!" Star menganggukkan kepalanya patuh, lalu lari masuk ke dalam rumah tersebut.


Setelah itu, ia kini manatap Awan dengan senyum tipisnya. "Sekarang pergilah, biar aku yang bicara sama Sky!"


Awan menggeleng-gelengkan kepalanya. "Aku akan tetap di sini," jawab Awan.


"Pulang! Atau aku tidak akan pernah membantumu!" ancam Arnold hingga membuat pria itu memejamkan matanya dan mengangkat kepalanya seraya menatap Arnold yang kini berdiri tegak dengan tangan yang di masukkan pada saku celananya.


"Baiklah, aku akan pulang." Awan pasrah.


Arnold pun mengembangkan senyumnya, lalu menatap sahabatnya yang kini masuk ke dalam mobil dan menyalakan mesin mobilnya untuk meninggalkan rumah tersebut.


Setelah itu, Arnold melangkahkan kakinya menuju pintu utama, lalu ia melangkah menuju ruang keluarga saat ia melihat Sky dan Rainy duduk di sana dengan wajah yang sama-sama melamun.


Tidak lama kemudian, Pelangi keluar kamar dengan Star yang sudah mengambil barang-barangnya yang ketinggalan.


"Pelangi, kamu antar Star ke sekolah ya! Nanti pulangnya biar Arumi yang jemput!" Arnold tersenyum lembut.


"Baik, Om!" Pelangi menganggukkan kepalanya.


"Ayo Dek!" Pelangi menarik pergelangan tangan Star, lalu melangkahkan kakinya menuju pintu keluar dengan Arnold yang menatap keduanya hingga bayangan mereka menghilang di balik pintu.


"Kalian bukan anak kecil lagi! Apakah masa lalu kalian tidak bisa dijadikan pelajaran untuk menata hidup kalian agar lebih baik?" tanya Arnold dengan tatapan wajah datar tanpa ekspresi.


Sky yang mendengar ucapan Arnold, pria itu mengalihkan pandangannya, seakan enggan untuk menatap wajah sang kakak ipar.


"Aku hanya ingin Rainy mengerti bahwa Awan bukanlah yang terbaik untuk Pelangi," jawab Sky.


Arnold pun menghela nafas mendengar jawaban sang adik ipar, pria itu kini menatap wajah Sky dengan wajah lelahnya.


"Aku bukan ingin membela Awan ataupun Rainy, tapi seandainya aku tahu kamu tidak pernah berubah, maka dulu aku tidak akan pernah mengabulkan keinginan Awan untuk menyerahkan Rainy padamu," ucap Arnold Seraya menatap adik iparnya dengan begitu lekat.


Seketika Sekai menoleh pada Arnold serta menatapnya dengan tatapan yang begitu tajam.


"Jika kamu lupa dengan pengorbanan Awan di masa lalu, maka aku akan mengingatkannya lagi, Awan rela menyakiti dirinya sendiri hingga bertahun-tahun karena kehilangan Rainy, dan sekarang Setelah dia menemukan cinta barunya, Apakah kamu tega untuk membuat dia trauma kembali?"


"Jika memang dia mencintai Pelangi, Lalu kenapa dia menyakiti putriku dan mempermalukannya di depan umum?" tanya Sky seraya menatap Arnold dengan begitu seriusnya.


Arnold pun tersenyum tipis mendengar ucapan dari sang adik ipar. "Dia hanya tidak ingin mengganggu rumah tanggamu dengan Rainy, Tapi saat Pelangi pergi, dia merasa kehilangan hingga luka yang pernah Rainy berikan pada Awan kini kembali dia rasakan karena Pelangi."


"Jika kamu memang masih punya hati dan tahu bagaimana caranya berterima kasih, Kamu tidak akan pernah menjadi penghalang diantara awan dan putrimu sendiri," ucap Arnold.


"Awan tidak mencin ... "


"Awan sangat mencintai Pelangi, apakah kamu tidak bisa lihat kalau dia rela kehujanan semalaman hanya untuk menunggumu dan Pelangi keluar?"


"Jangan pura-pura buta, Sky! Aku tahu kamu bisa melihat semuanya, tapi kamu dibutakan dengan rasa cemburu hingga kamu tidak bisa melihat kebaikan Awan yang sangat tulus untuk Putrimu—Pelangi."


Sky terdiam mendengar ucapan kakak iparnya tersebut. Ia menatap Arnold dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. Sementara Rainy memilih diam dan tidak menyela ucapan sang kakak dan suaminya.


"Kalau begitu aku pamit pulang! Pikirkan ucapanku tadi!" ucap Arnold menahan emosi.


"Jika aku menerima Awan, lalu bagaimana dengan Devan?" tanya Sky.


"Jika kamu merestui hubungan mereka, maka aku sendiri yang akan mendatangi Devan untuk minta maaf. Aku tahu Devan seperti apa, aku yakin dia mengerti," ucap Arnold.


Setelah itu, Arnold melangkahkan kakinya menjauh dari ruang keluarga tersebut, lalu melangkah menuju pintu utama untuk berangkat ke kantornya.