Love You, Om!

Love You, Om!
Pangeran Khayalan



Setelah Pelangi selesai mandi dengan tampilan yang rapi, kini gadis itu mencari Rainy untuk berpamitan, dan ia pun berangkat dengan Langit setelah menyalimi mama tirinya tersebut.


Saat dalam perjalanan menuju kampus, Pelangi kini terus tertawa karena keusilan Langit.


Akan tetapi, seketika ia mengehentikan tawanya saat ia tidak sengaja melihat Awan merangkul seorang wanita di depan sebuah mall di kota tersebut.


"Langit, hentikan mobilnya!"


Seketika Langit mengerem mobilnya dan Pelangi pun turun untuk mengejar Awan dan wanita yang bersama pria itu.


"Apa aku salah lihat ya?" Pelangi celingukan mencari pria yang ia yakini adalah Awan.


"Coba aku hubungi deh!" Pelangi mengambil ponselnya. Lalu menekan nomor Awan hingga panggilannya tersambung.


Akan tetapi, pria itu tak kunjung mengangkat ponselnya hingga membuat Pelangi semakin kepikiran dengan apa yang ia lihat.


"Pelangi ... ! Kamu ngapain di situ? Ayo kita berangkat, sebentar lagi kita ada kelas!" teriak Langit yang masih menunggu gadis itu di mobilnya.


Pelangi menoleh, lalu ia melihat jam di pergelangan tangannya hingga membuat Pelangi kesal karena mau tidak mau ia harus pergi ke kampus.


Pelangi kembali ke mobil Langit dengan wajah kesal hingga membuat Langit mengerutkan kening melihat wajah Pelangi yang kini berubah hanya dalam beberapa saat.


"Kenapa Sweety Girl?" tanya Langit seraya mengedipkan sebelah matanya.


"Sudah, jangan banyak tanya! Kita ke kampus sekarang!"


Pelangi terus memanyunkan bibirnya karena menahan kekesalan setelah melihat seorang pria yang ia yakini adalah orang yang cintai sedang bersama orang lain.


*


*


*


Sementara di Mall, Awan bersama Helena—sahabat baiknya sejak kecil, ia menjemput wanita itu dari bandara dan mengajaknya belanja karena wanita itu sudah lama tidak tinggal di Indonesia.


Wanita itu menetap di Swiss sejak kecil. Namun, karena permintaan putrinya yang kini kuliah di Indonesia, ia memutuskan untuk menemani sang putri hingga Sarjana.


"El, kamu mau beli apa lagi?" tanya Awan pada sahabatnya tersebut.


"Nggak ada, semua yang aku inginkan sudah aku beli," jawab wanita itu.


"Oh iya, kenapa kamu nggak nikah sampe sekarang?" tanya Helena yang kini berjalan beriringan dengan Awan seraya mengelilingi mall.


"Aku memutuskan untuk melajang seumur hidup," jawab Awan santai.


Helena melirik sahabatnya sekilas sambil terus berjalan di sampingnya. "Masak sih?" tanya Helena tersenyum.


"Iya! Memangnya kapan aku pernah bohong sama kamu?" Awan terus menatap lurus ke depan.


"Iya deh aku percaya," jawab Helena dengan sudut bibir yang terangkat ke atas.


"El, boleh aku minta bantuanmu nggak?" tanya Awan.


"Bantuan apa?" tanya Helena balik.


Sesekali ia menatap Awan yang terus melangkah di sampingnya. Sementara yang ditatap kini terus melangkah tanpa menoleh sedikitpun pada wanita itu.


"Aku ingin kita pura-pura pacaran di depan seorang gadis bandel yang terus menginginkan aku untuk menjadi suaminya."


"Kenapa kamu nggak terima saja?" tanya Helena bingung.


Awan tersenyum. "Ya nggak mungkin lah, dia seumuran Hujan—putrimu," ucap Awan seraya menarik kedua sudut bibirnya.


"Oh ya?" tanya Helena dengan senyum yang semakin mengembang.


"He'em, kadang aku pusing sendiri ngadepin dia. Mungkin jika dia nyangka kita pacaran, dia nggak bakal deketin aku lagi," ucap Awan.


Helena mengangguk-anggukkan kepalanya. "Memangnya kamu tidak punya rasa sedikitpun padanya?" tanya Helena dengan kening yang mengerut.


"Nggak," jawab Awan spontan. "Bukankah aku sudah bilang padamu bahwa aku memutuskan untuk melajang selamanya?"


"Selain itu dia anak tiri Rainy. Aku tidak ingin Sky salah paham dan mengira aku memanfaatkan putrinya untuk mendekati Rainy."


"Iya juga sih." Helena berpendapat.


"Ya sudah, kalau begitu kamu mau ya bantu aku?" Awan mengehentikan langkahnya sambil menatap wajah Helena penuh harap. Ia mengambil kedua tangan Helena dan menggenggamnya erat.


Helena melipat kedua bibirnya serta menatap mata Awan yang memelas hingga membuatnya tidak tega.


"Hmmm ... ya sudah, deh. Aku mau bantu kamu, lagi pula aku juga tidak punya suami, jadi aman-aman saja!" Helena menerima tawaran sahabatnya tersebut.


"Terima kasih! Ya sudah kalau begitu kamu kerja di rumah sakit milikku mulai besok, kebetulan sekretarisku mengundurkan diri Minggu lalu dan sampai sekarang belum ada penggantinya hingga membuatku kesulitan untuk mengurus rumah sakit sendiri," ucap Awan.


"Tidak. Aku hanya ketemu sekali, kita ketemu waktu aku baru kembali ke Indonesia. Sepertinya dia terlalu sibuk dengan istri dan anaknya. Mungkin dia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan setelah berpisah bertahun-tahun dengan mereka." Awan tersenyum.


"Maksudnya?" tanya Helena bingung.


"Kisah dia itu terlalu rumit untuk ku ceritakan," ucap Awan.


Helena mendesah. "Apa karena itu kamu dah Arnold tidak memberiku kabar tentang pernikahan mereka?" tanya Helena.


"Sudahlah, ngapain kita bahas Arnold? Dia.


sudah bahagia. Kita fokus aja gimana caranya agar Lebah Betina itu menjauh?"


"Lebah Betina?" Helena bingung.


"Iya. Lebah Betina—putrinya Sky itu seperti lebah yang tiap hari kerjaannya hanya menyerangku dengan kelakuannya yang aneh-aneh," ucap Awan dengan wajah jengah.


"Awas, entar kamu bucin. Kamu ingat ya! Jangan sampe suatu saat kamu menyesal jika dia sudah lelah berjuang dan memilih pergi dari hidupmu!" Helena mengingatkan.


"Ya enggaklah, justru aku lega dan akan sangat berterima kasih padamu, jika dia bisa menjauhiku karena pacaran pura-pura kita," ucap Awan.


"Ya sudah, pulang yuk!" ajak Helena setelah ia puas mengelilingi mall.


"Ya sudah, ayo!"


"Aku tidak sabar ingin ketemu Hujan, pasti dia seneng aku memberinya kejutan dengan kehadiranku," ucap Helena.


"Ayo cepetan, sebelum Hujan pulang!" ucap Helena dengan rona bahagia.


"Iya, ayo!"


Seketika keduanya menuju pintu keluar dan meninggalkan mall tersebut.


*


*


*


Sementara di tempat lain, Pelangi terus melamun di kelasnya hingga Dosen yang mengisi kelasnya waktu itu melempar sebuah penghapus tepat di kening gadis itu.


"Iya, Om Awan kenapa?" Pelangi reflek berdiri dari kursinya tanpa sadar.


Semua orang yang ada di kelas itu menatap ke arah Pelangi, keadaan kelas tersebut senyap seketika hingga akhirnya Langit tertawa yang membuat semua orang di kelas tersebut ikut tertawa.


Pelangi yang menyadari kesalahannya, ia merasa malu sendiri dan gadis itu pun menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sambil tersenyum cengengesan.


"Maaf, Pak! Aku lagi memikirkan Omku yang sedang sakit." Pelangi mencari alasan.


"Om atau Pangeran khayalan nih?" Langit sengaja ingin membuat Pelangi kesal dengan memojokkan gadis itu.


"Diam!" Suara Dosen menggelegar sambil menatap Pelangi tajam.


Seketika ruangan itu senyap dengan Pelangi yang menoleh pada Langit dan menatapnya tajam. "Awas aja lo, akan ku balas nanti dengan yang lebih parah," Pelangi membatin.


Sementara yang ditatap hanya tersenyum-senyum sendiri, sambil terus menatap wajah Pelangi yang masih menatapnya penuh kekesalan.


"Pelangi, sekarang kamu keluar! Kamu tidak boleh ikut pelajaran hari ini!" ucap Dosen itu dengan wajah penuh amarah.


Seketika Pelangi mengembangkan senyumnya dengan mata berbinar setelah mendengar hukuman dari Dosen tersebut.


"Ah, beneran Pak?" tanya Pelangi dengan senyum yang mengembang.


Seketika Pelangi mengambil tasnya dan langsung melangkah mendekati Dosen tersebut.


"Bapak pengertian banget, sih? Terima kasih ya Pak? Bapak memang baiknya kebangetan," ucap Pelangi.


Gadis itu mengambil tangan sang Dosen dan menyaliminya sebelum keluar dari kelasnya tersebut


Sementara Dosen itu tercengang dengan sikap Pelangi yang kesenengan dengan hukuman yang ia berikan.


Langit yang melihat tingkah aneh gadis itu, ia tidak heran lagi, dan ia pun sadar bahwa karena kekonyolan itulah yang membuatnya nyaman dan betah berada di dekat gadis itu, meskipun dia sering dianiaya.


"Eh, dia pasti sudah pulang, kita kan pengen menyelidiki Hujan?"


Pria itu menoleh pada seorang gadis yang pake kaca mata tebal dengan rambut yang di kepang dua.


"Ah, masak dia Aqila? Nggak ah, dia nggak mungkin Aqila. Langit bumi tau nggak? Eh, kok Langit Bumi, seharusnya kan langit Pelangi. Itu baru cocok." Langit tersenyum-senyum sendiri.


...🌷🌷🌷🌷🌷...


...TBC...