Love You, Om!

Love You, Om!
Love You, Om!



Di dalam rumah, Rainy kini mendengar keributan hingga membuat wanita itu keluar untuk mengeceknya.


Saat ia melihat orang yang dikenalnya berdiri di halaman rumahnya, ia tersenyum dan menghampiri orang tersebut.


"Kak Devan?" Rainy tersenyum seraya melangkah mendekati pria paruh baya itu.


"Ada Langit dan Mentari juga? Kenapa nggak di ajak masuk Sayang?" Rainy menatap Pelangi dengan senyum lembutnya.


"Terima kasih, Rain! Tapi kami ke sini hanya untuk mengantar Pelangi pulang, dan kebetulan Langit menunggu di sini karena mau pinjam buku catatan Pelangi," ucap Devan lembut.


Rainy mengerutkan kening mendengar ucapan Devan. "Kenapa Kak Devan bisa mengantarkan Pelangi? Bukankah biasanya Pelangi memang sering pulang bareng Langit?"


Devan tersenyum kaku, lalu menatap Devan dan Pelangi bergantian. "Rainy benar, kenapa kalian bisa terpisah? Kalian tidak bolos 'kan?" tanya Devan menatap keduanya dengan wajah curiga.


"Tidak, Dad! Tidak, Om!" ucap Langit dan Pelangi bersamaan.


"Daddy benar, mungkin mereka bolos, makanya meraka berdua tidak berada di area kampus." Mentari menjadi kompor.


"Kakak .... !!!" teriak Langit dan Pelangi bersamaan.


"Apa sih? Sudah, Dad! Lebih baik kita pulang duluan, nanti Mommy khawatir kalau kita pulang telat," ucap Mentari.


Devan tersenyum, lalu menatap ke arah Rainy yang juga tersenyum melihat perdebatan putra putri mereka.


"Rain, aku pulang dulu! Sampaikan salamku pada Sky," ucap Devan tersenyum.


"Kak Devan beneran nih tidak mampir dulu? Sebentar lagi mungkin Mas Sky juga pulang." Rainy membalas senyuman Devan.


"Tidak, terima kasih. Benar kata putriku, Catherine suka cemas jika kami pulang telat."


Rainy mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar jawaban pria tersebut. "Ya sudah, hati-hati Kak!" ucap Rainy tersenyum.


Devan pun menganggukkan kepala, lalu melangkahkan kaki menuju mobilnya yang diparkir di halaman rumah tersebut.


"Langit, kamu nggak mau pulang?" tanya Mentari sambil melirik adiknya yang masih diam mematung.


"Iya, Kak. Aku juga mau pulang." Langit menatap Mentari kesal.


"Dad, aku ikut Langit!" teriak Mentari yang melihat sang Daddy sudah masuk mobil.


"Ya sudah, Tante. Kami pamit pulang juga," pamit Mentari seraya menatap Rainy lembut. Lalu, mengulurkan tangannya untuk menyalimi wanita tersebut.


"Iya Sayang, hati-hati!" Rainy terus mengembangkan senyumnya melihat kekonyolan keluarga Devan.


"Ayo!"


"Om Devan ... jangan lupa hukum Langit!" teriak Pelangi dengan senyum yang mengembang.


Langit pun mendelik ke arah Pelangi. Lalu, ia tersenyum usil sebelum masuk mobilnya. "Tante Rainy ...! Jangan Lupa hukum Pelangi juga karena hari ini dia dihukum Dosen!" teriak Langit yang buru-buru masuk ke dalam mobilnya.


Seketika Pelangi menelan ludahnya setelah Langit membalasnya. Ia melirik Rainy, lalu perlahan mundur untuk menghindari mamanya tersebut.


Sementara Devan hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan Langit dan Pelangi. Lalu, ia meninggalkan pekarangan rumah megah tersebut, dengan Mentari yang kini ikut mobil Langit.


"Heh, mau sampai kapan kamu di sini? Ayo jalankan mobilnya! Mobil Daddy sudah tidak kelihatan tuh!" ucap Mentari seraya menatap adiknya kesal.


"Iya, Kak! Iya!" jawab Langit yang kemudian menghidupkan mesin mobilnya dan menyusul mobil Devan yang kini sudah hilang dari pandangan matanya.


Rainy yang melihat keluarga Devan sudah pulang, ia masuk menyusul Pelangi yang ia yakini sudah pura-pura sibuk di kamarnya hanya untuk menghindari pertanyaan dari sang mama.


...****************...


Setelah lama di apartemen Awan kini memutuskan untuk kembali ke rumah sakit . Ia melihat ruangannya yang tampak sangat rapi hingga membuat pria itu mengembangkan senyum saat melihat sebuah kertas dan bunga mawar merah di atas meja kerjanya.


"Pelangi," gumam Awan.


Pria itu mengambil kertas dan bunga tersebut hingga membuat pria itu tidak bisa memungkiri bahwa ia sudah mulai terbiasa dengan perhatian Pelangi.


Awan membuka kertas itu lalu membacanya sambil tersenyum-senyum sendiri. Ia tidak menyangka bahwa gadis itu benar-benar sungguh-sungguh dengan ucapannya yang bahkan pada waktu ia berjanji sebelum belum mengenal arti cinta.


"Aku tau Om Awan dekat dengan seorang wanita, makanya sekarang Om Awan tidak ada di rumah sakit 'kan? Sekali pun Om Awan mengenalkan wanita itu pada Pelangi sebagai kekasih Om, Pelangi tidak akan pernah menyerah untuk mendapatkan Om Awan. Bagi Pelangi, selama tidak ada ikatan pernikahan diantara kalian, maka Om Awan tetap bukan milik siapapun. Love You, Om!"


Awan semakin mengembangkan senyumnya. "Lebah Betina, kamu memang keras kepala! Seandainya kamu bukan anaknya Sky, mungkin saat ini aku sudah menerimamu," gumam Awan.


"Jujur, aku tidak bisa menahan perasaanku untuk tidak menyukaimu, tapi semakin lama hatiku semakin tidak terkontrol. Maafkan aku yang harus mengubur rasaku padamu, aku tidak ingin berhubungan dengan keluarga Kalian," gumam Awan.


Pria itu mengambil bunga mawar dari Pelangi, lalu di letakkan di sebuah kotak yang ia simpan di dalam lemari di ruangan itu.


Ia menyimpannya dengan bunga-bunga dan kertas-kertas lain dari Pelangi. Gadis itu sudah biasa memberikan bunga dan kertas saat gadis itu tidak bisa bertemu dengan Awan.


Awan tahu bahwa Pelangi mengambil bunga itu dari taman rumah sakit, tapi pria itu merasa spesial jika Pelangi yang memetiknya.


"Sikapmu bertolak belakang dengan Rainy, tapi hanya kamu yang mampu membuatku tertawa saat pertemuan kita. Maafkan aku yang mungkin harus menyakitimu. Masa depanmu masih panjang, semoga kamu segera menemukan kebahagiaanmu, tapi bukan aku!" ucap Awan seraya memejamkan matanya.


...🌷🌷🌷🌷🌷...


...TBC...