
Hujan yang sudah berhasil lolos dari Langit, ia memutuskan untuk langsung pulang ke apartemennya.
Wanita itu kini memesan taksi Online dan berjalan kaki di pinggir jalan untuk menghindari pria tersebut.
"Apa sih yang dia inginkan? Apa dia curiga ya kalau aku itu adalah orang yang sama dengan orang yang pernah mengaku Aqila di danau?"
Hujan terus melangkahkan kakinya sambil menunggu taksi Online yang ia pesan. Namun, saat gadis itu menghentikan langkahnya dan berdiri di pinggir jalan, tiba-tiba ada sebuah mobil yang tidak asing berhenti tepat di hadapannya hingga membuat Hujan melebarkan kedua bola matanya karena terkejut.
Gadis itu pun berusaha untuk kabur, namun pergelangan tangannya langsung di cekal oleh Langit yang kini melompat dari mobilnya dan menahan gadis tersebut.
Hujan menoleh, seraya menatap Langit tajam. "Lepas!"
"Ikut aku!" Langit menatap Hujan tak kalah tajamnya.
"Lepas atau aku teriak!" Hujan mengancam.
Langit tergelak mendengar ancaman gadis cupu itu. "Kamu mau teriak? Teriak saja! Terus, kamu mau bilang kalau aku akan ngapa-ngapain kamu gitu?"
"Mana mungkin percaya." Tawa Langit semakin menjadi-jadi sambil menatap Hujan meremehkan.
"Ada yang lucu?" Hujan menaikkan sebelah alisnya serta menatap Langit dengan wajah datar.
"Masih nanya, ya jelas lucu lah. Seharusnya kamu itu berkaca dulu sebelum ngancam aku." Langit menyentil ujung hidung Hujan yang ada tompelnya.
Sementara Hujan tetap memasang wajah datar dengan pergelangan tangannya yang masih di genggam oleh pria tersebut.
"Lepas!" Hujan terus mencoba menarik pergelangan tangannya. Namun, genggaman Langit semakin erat.
"Ikut aku!" Langit.
"Tidak, aku harus pulang." Hujan.
"Aku akan mengantarmu!" Langit.
"Tidak. Aku tidak percaya." Hujan.
"Ikut!" Langit menarik pergelangan tangan Hujan secara paksa hingga membuat gadis itu semakin kesal.
Hujan yang dipenuhi emosi, akhirnya ia menggigit lengan Langit dengan begitu keras hingga membuat pria itu reflek melepaskan pergelangan tangan Hujan.
"Aaaaaa ... !!!" teriak Langit sambil memegang lengannya yang terasa memanas.
Gadis itu pun lari sekencang-kencangnya hingga taksi Online yang ia pesan datang menjemput.
Hujan langsung masuk ke dalam mobil itu dan meninggalkan Langit yang masih mengeluh kesakitan.
"Dasar Tikus Hutan!" umpat Langit dengan wajah merah padam.
Pria itu langsung kembali ke mobilnya dengan wajah penuh kekesalan. "Selama ini aku pikir dia itu kalem, ternyata dia lebih menyeramkan dari wanita umumnya. Awas saja, dia belum tahu siapa aku!" Langit masuk ke mobilnya dan melajukannya dengan kencang karena kemarahan yang meledak-ledak.
*
*
*
Hujan yang sudah tiba di apartemen, ia langsung malemparkan tasnya selempangnya tanpa menoleh pada sofa ruang keluarga karena ia ingin mengambil air minum di dapur.
Namun, ia mengehentikan langkahnya saat mendengar teriakan seseorang yang tidak asih baginya.
"Hujannnnn …. !"
"Mama?"
Hujan terkejut dan langsung menoleh pada arah suara yang memanggilnya. Sementara orang yang berteriak, kini langsung bungkam saat melihat wajah Hujan.
"Kamu siapa?" Helena mengerutkan kening dengan tatapan menyelidik.
Hujan tersenyum, lalu langsung lari dan menghambur memeluk orang yang melahirkannya tersebut. "Kenapa Mama nggak bilang kalau mau ke Indonesia?" Hujan memeluk Helena erat.
Sementara Awan yang juga berada di ruang keluarga itu, ia mengembangkan senyum melihat seorang anak dan ibu yang saling menyayangi.
"Bentar-bentar." Helena meregangkan pelukannya, lalu menatap wajah putrinya yang kini berubah 180 derajat.
"Kamu kenapa menjadi seperti ini, Nak? Ini beneran kamu 'kan?" Helena terus menatap wajah Hujan sambil mengelilingi tubuh putrinya dengan tatapan tidak percaya.
"Putriku sangat cantik, masak ia Hujan jelek seperti ini?" Helena melepaskan kaca mata tebal yang menempel di mata Hujan.
Setelah itu, Helena juga mengambil tompel yang ada di ujung hidung gadis tersebut hingga tampaklah wajah Hujan yang sesungguhnya.
Helena tersenyum l, dan terakhir ia membuka kepangan rambut yang membuat putrinya tampak seperti orang lain. "Kalau begini Mama tidak terkejut lagi." Helena memeluk putrinya kembali dengan senyum yang mengembang.
"Mau pake kaca mata ataupun tidak, aku tetap anak Mama 'kan?" Hujan membalas pelukan orang tua tunggalnya tersebut dengan penuh kasih sayang.
Setelah itu Hujan melepaskan pelukannya, lalu menarik pergelangan tangan sang mama dan menuntunnya menuju sofa.
Hujan dan Helena kini duduk di seberang sofa yang di duduki Awan, setelah puas melepas rindu dengan sang mama, tatapan Hujan beralih pada Awan yang masih menarik kedua sudut bibirnya.
"Om Awan juga di sini? Pasti Om Awan ya yang jemput mama ke Bandara?" tanya Hujan.
Awan menganggukkan kepalanya sekali sambil tersenyum tipis."Helena ingin memberimu kejutan."
Hujan menatap Awan dan Helena bergantian hingga membuat Helena heran melihat tatapan anaknya yang mencurigakan.
"Kenapa Sayang?" tanya Helena dengan kening yang mengerut.
"Om Awan dan Mama kelihatan cocok, kenapa kalian nggak nikah aja? Hujan akan seneng jika Om Awan jadi Papaku," ucap Hujan tanpa basa-basi.
Deg
Baik Awan maupun Helena terkejut mendengar ucapan Hujan. Helena tersenyum kaku karena wanita itu sebenarnya memang menyimpan rasa pada Awan, hanya saja Awan terlalu teguh pada pendiriannya.
Meskipun Helena mencintai Awan bahkan sebelum menikah, tapi ia tidak mau merusak persahabatan mereka, jika sampai Awan mengetahui tentang perasaan wanita tersebut.
Helena terdiam, sementara Awan tertawa terbahak-bahak karena menurutnya ia dan Helena sampai kapanpun tidak akan pernah bersatu.
Awan, Arnold dan Helena Pernah berjanji tidak akan menaruh perasaan lebih pada Helena begitu pun sebaliknya, agar persahabatan mereka tidak hancur.
"Sayang … kamu jangan mikir yang aneh-aneh deh. Mama kamu itu hanya mencintai Alm. Papamu! Selain itu, Om Awan memutuskan untuk melajang seumur hidup, dan kita pernah berjanji untuk tidak melibatkan perasaan di persahabatan kita," ucap Awan.
"Ah, Om Awan nggak asik. Padahal aku 'kan ngarep Om Awan dan Mama bersatu dari dulu." Hujan menatap Awan kesal.
"Sudah-sudah, lagian kamu ada-ada saja, sayang. Baik Om Awan itu menjadi Papamu atau tidak, dia akan tetap menyayangimu sebagai anak sendiri. Iya 'kan, Wan?" Helena tersenyum sambil menatap sahabatnya tersebut.
Awan pun membalas senyuman Helena tulus. "Pasti dong ..., mana mungkin aku merubah Hujan sejelek itu jika aku tidak menyayanginya?" ucap Awan yang berhasil membuat Helena melebarkan kedua bola matanya.
"Apa? Jadi kamu yang membuat putriku menjadi culun seperti ini?" tanya Helena menatap Awan tajam.
Hujan melingkarkan tangannya di pinggang Helena untuk membuat mamanya tenang. "Mama tidak perlu marah sama Om Awan, Om Awan merubahku seperti ini hanya untuk melindungiku! Om Awan sibuk, dia tidak mungkin menjagaku setiap saat," ucap Hujan tersenyum lembut.
"Maksudnya gimana? Coba jelasin sama mama."
Hujan mengehela nafasnya kasar sambil mengambil tangan Helena dan menggenggamnya erat. "Jadi gini Ma, jika Hujan tidak merubah penampilan, maka Om Awan khawatir takutnya banyak pria yang berniat buruk pada Hujan, Ma! Tapi jika Hujan berpenampilan seperti gadis cupu, maka mungkin Hujan lebih aman."
"Tapi bagaimana jika kamu tidak mendapatkan pasangan, Nak?" tanya Helena dengan wajah frustasi.
"Cinta yang tulus tidak akan memandang seseorang dari segi fisik, seperti cinta Qais pada Laila."
"Qais mencintai Laila sampai gila, padahal Laila bukanlah seseorang yang cantik. Aku yakin, jika memang ada seseorang yang mencintai Hujan dengan wajah seperti itu, maka Itulah cinta yang sesungguhnya," ucap Awan dengan kedua sudut bibir yang terangkat ke atas.
...🌷🌷🌷🌷🌷...
...TBC...