Love You, Om!

Love You, Om!
Playboy Cap Katak



"Tunggu!" Langit memegang pergelangan tangan Hujan saat wanita itu hendak keluar kelas.


Hujan hanya diam dan menatap pergelangan tangannya yang dipegang oleh Langit. "Maaf Kak, apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Hujan tersenyum tipis.


Langit melangkah ke arah pintu, lalu mengunci kelas tersebut hingga membuat Hujan menelan ludahnya susah payah karena pikiran negatif pun kini menyelimuti otak gadis itu.


Akan tetapi, ia berusaha tenang selama Langit tidak menyentuhnya. "Kenapa Kak Langit mengunci pintu?" tanya Hujan dengan wajah yang menahan rasa takut.


Gadis itu memundurkan langkahnya saat Langit semakin mendekat. "Ya Ampun ... ! Kak Langit mau apa ya?" Hujan semakin ketakutan saat melihat tatapan Langit yang begitu menyeramkan.


Gadis itu pun berdehem beberapa kali, untuk menghilangkan rasa takut yang menyelimuti gadis itu.


"Buka kaca mata!" titah Langit seraya menatap Hujan dengan mata elangnya.


Hujan terlonjak mendengar bentakan pria tersebut. "Tapi kalau di buka, nanti aku tidak bisa melihat dengan jelas, Kak." Hujan memasang wajah melas.


"Aku tidak peduli, kalau aku bilang buka ya buka!" bentak Langit lagi.


"Ternyata kak Langit sangat menyeramkan jika memasang wajah serius, selama ini aku hanya melihat wajah manisnya saat menggoda gadis-gadis di kampus ini." Hujan membatin.


"Kenapa masih diem? Cepat buka!"


Langit mendekatkan wajahnya pada wajah Hujan hingga membuat gadis itu tidak bisa menahan emosinya saat langit memaksanya untuk membuka kacamata.


Pikiran-pikiran negatif pun semakin merajalela di otak wanita itu, hingga membuat ia waspada dengan menaruh lengannya di dada sambil menatap Langit tajam.


"Kak Langit pikir aku takut sama kakak?" Hujan membalas tatapan Langit tak kalah tajamnya hingga membuat pria itu terkejut dan memundurkan langkahnya perlahan.


"Jangan mentang-mentang kak Langit putra dari Keluarga Galaxy maka aku akan takut pada kakak."


"Tidak, Kak! Tidak!" Hujan mengangkat jari telunjuknya dan menggerak-gerakkan di depan wajah Langit.


"Eh, tadi 'kan aku yang ingin menakut-nakuti gadis culun ini, tapi kenapa malah aku yang terjebak?"


Langit bukan takut pada Hujan. Akan tetapi, pia itu terkejut karena sikap Hujan yang berbeda dari biasanya.


Langit yang menyadari dengan posisinya, pria itu langsung membalik tubuh Hujan hingga akhirnya wanita itulah yang menyadarkan punggungnya di tembok dengan posisi wajah antara Langit dan Hujan hampir tidak berjarak.


"Jadi kamu berani sama aku?" Langit menatap Hujan tajam.


Sementara yang ditatap, Ia tidak menunjukkan rasa takut pada pria itu, bahkan yang membalas tatapan langit dengan tatapan yang tak kalah tajamnya.


"Jika kamu tidak mau membuka kacamatamu, maka aku sendirilah yang akan membukanya!"


"Memangnya apa keuntungan Kak langit jika aku membuka kacamataku? Apakah dengan membuka kacamataku Kak Langit akan menyukaiku?" tanya Hujan sambil menarik sebelah sudut bibirnya.


Langit tergelak mendengar ucapan gadis tersebut. Pria itu menggeleng-gelengkan kepalanya seraya menatap Hujan dengan tatapan remeh.


"Jangan mimpi aku bisa menyukaimu, satu-satunya wanita yang benar-benar aku aku sukai hanya Pelangi. Pe-la-ngi!"


"Kamu tahu? Yang lain murahan karena sekali goda mereka Langsung ikut." Langit tertawa terbahak-bahak hingga membuat Hujan mengangguk-anggukkan kepalanya pelan.


Setelah itu, Hujan menginjak kaki langit hingga membuat pria itu mengeluh kesakitan, dan di kesempatan itulah Hujan lari dan membuka pintu kelas tersebut.


"Sialan! Awas saja besok!" ucap Langit dengan wajah penuh kekesalan. Sementara Hujan, ia terus berlari hingga gadis itu merasa aman.


"Dasar playboy cap katak!" umpat Hujan dalam hati.


...🌷🌷🌷🌷🌷...


...TBC...