
Setelah dari Danau, Langit kini mengajak Aqila ke sebuah butik untuk mengganti pakaiannya dengan Aqila yang basah kuyup. Langit kini menunggu Aqila di depan kamar ganti.
Setelah Aqila keluar, Langit terkejut dengan penampilan Aqila yang menunjukkan bahwa gadis itu adalah Aqila juga Hujan.
"Ternyata benar, dugaan selama ini!" ucap Langit yang kemudian tersenyum.
Sementara Aqila membalas senyuman pria tersebut. Gadis itu kini menggerai rambutnya seperti Aqila dan memakai kaca mata tebal layaknya Hujan.
Gadis itu juga membuka tompel yang ada di ujung hidungnya di depan Langit hingga gadis itu terlihat sangat cantik meskipun kaca mata tebalnya masih Hujan gunakan.
"Terima kasih karena kamu telah menunjukkan identitasmu di depanku," ucap Langit sambil menatap Aqila yang berdiri tidak jauh darinya.
Gadis itu pun tersenyum. "Jika kamu mau serius denganku, lalu untuk apa aku masih menyamar di depanmu? Sekarang aku sudah punya kepercayaan untukmu, jadi aku tidak punya alasan lagi untuk menjadi orang lain."
Langit tersenyum mendengar ucapan gadis tersebut. "Jika boleh tahu, nama aslimu siapa? Aqila atau Hujan?" tanya Langit dengan wajah seriusnya.
"Keduanya adalah namaku, kamu bisa panggil aku apa saja. Hujan boleh, Aqila juga boleh," jawab gadis itu seraya melangkahkan kakinya mengambil tas miliknya yang ia letakkan di sofa.
Langit menautkan alisnya, sambil mengikuti Aqila yang kini melangkahkan kakinya menuju pintu keluar.
"Kenapa kamu bisa punya dua nama?" tanya Langit.
"Aku hanya punya satu nama. Namaku, Aqila Hujaina, aku biasa dipanggil Hujan oleh mommy, karena kata mommy, aku selalu menghujani mommy dengan banyak kebahagiaan setelah kepergian daddy," jawab Aqila tersenyum.
"Aku yakin kamu adalah jodohku," ucap Langit tersenyum
"Kenapa kamu bisa seyakin itu?" tanya Hujan.
"Karena Hujan memang pasangannya dengan Langit," jawab pria tersebut.
Gadis itu pun hanya mengembangkan senyum mendengar ucapan Langit. Meskipun ia tau cinta Langit masih untuk Pelangi, tapi gadis itu bahagia karena Langit akan mencoba mencintainya tanpa paksaan.
"Aku hanya tidak ingin kecewa jika kamu meninggalkanku di saat aku benar-benar berharap, jadi sebelum kamu mengambil keputusan dengan terburu-buru untuk mengenalkanku pada orang tuamu, tolong yakinkan dirimu lebih dulu."
Hujan menghentikan langkahnya di depan teras hingga Langit juga menghentikan langkahnya dan berdiri di samping gadis tersebut.
Langit yang mendengar ucapan Hujan, ia kini mengambil tangan gadis itu seraya menatapnya dengan begitu lekat untuk meyakinkan gadis tersebut. "Hujan ... aku tidak pernah bercanda dengan ucapanku selama ini, hanya saat bersamamu aku bisa melupakan Pelangi."
"Jadi bagimu aku hanya pelampiasan?" tanya Hujan tersenyum.
"Bukan begitu, aku tidak pernah ingin menjadikanmu pelampiasan, tapi aku yakin bahwa hanya kamu yang mampu mengobati lukaku yang kini semakin mendalam," jawab Langit.
Hujan pun terus mengembangkan senyumnya mendengar jawaban Langit, gadis itu menatap Langit tanpa mengalihkan tatapannya dari pria tersebut.
"Ya sudah ayo kita berangkat, kebetulan malam ini daddy memintaku pulang cepat. Beliau ingin makan malam bersama setelah sekian lama daddy sibuk lembur di kantor." Langit mengulurkan tangannya pada Hujan.
Sementara Hujan menganggukkan kepalanya, lalu menerima uluran tangan pria tersebut. Mereka pun berjalan beriringan dengan tangan yang saling genggam hingga membuat orang yang menatapnya terpesona karena mereka terlihat seperti layaknya putri dan pangeran.
Begitu sampai di parkiran, Langit membukakan pintu untuk Hujan, sementara Hujan terlihat salah tingkah hingga membuat Langit mengembangkan senyumnya.
"Apakah kamu harus aku panggil 'Tikus Hutan?" tanya Langit.
"Boleh saja asal kau juga memperbolehkanku memanggilmu 'Kucing liar." Hujan tersenyum.
Setelah itu, Hujan masuk ke dalam mobil tersebut dengan Langit yang menutupnya setelah memasangkan seat belt untuk gadis tersebut.
Langit pun duduk di kursi kemudi, lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang saat di rasa semuanya sudah aman.
Dalam perjalanan hanya keheningan yang terjadi, baik Langit maupun Hujan bungkam. Jika mereka terbiasa berdebat dengan identitas Hujan, tapi dengan identitas Aqila, yang terjadi sebaliknya.
Pria itu terlihat lebih lembut dari biasanya hingga membuat Hujan salah tingkah karena biasanya perdebatan yang terjadi jika identitas gadis itu menjadi Hujan.
*****
Beberapa menit kemudian.
Kini keduanya sampai di parkiran rumah megah 'Devano Galaxy' yang membuat Hujan takjub dengan kemewahan dan kebesaran rumah itu.
"Ini istana atau rumah?" tanya Hujan dengan wajah takjubnya.
Langit tergelak mendengar ucapan Hujan. "Kamu seperti tidak pernah melihat rumah mewah saja," ucap Langit.
"Benar, Kok! Aku sering ke hotel dan Villa yang mewah, tapi rumah ini benar-benar berbeda, dan rumah ini lebih cocok jika disebut istana," ucap Hujan dengan wajah yang masih terlihat takjub.
"Ya sudah ayo kita turun!" ajak Langit.
Dalam beberapa menit mereka terdiam dan saling tatap sambil menyelami perasaan mereka masing-masing. Hingga kemudian Hujan tersadar lebih dulu dan menoleh ke arah lain.
"Kenapa kamu menahanku?" tanya Hujan salah tingkah.
Langit pun tersenyum, lalu ia mengambil bunga mainan yang ada di kursi mobil belakang.
"Ini bunga untukmu, sebelum kamu menjadi tunanganku, aku ingin kamu menjadi pacarku lebih dulu," ucap Langit.
"Ini milik siapa?" tanya Hujan yang sengaja menggoda pria tersebut.
"Kamu merusak suasana romantis saja!" ucap Langit menahan kekesalan.
"Aku kan cuma nanya? Takutnya nanti pas aku pegang ada yang minta bunga itu balik," jawab Hujan.
"Ini milik Kak Tari—Kakak kandungku,"
"Tuh 'kan?" Hujan tersenyum.
"Sudah lah, nanti kamu balikin lagi kalau aku sudah menembakmu," ucap Langit.
Sementara Hujan menggeleng-gelengkan kepalanya pelan melihat tingkah pria di hadapannya tersebut.
"Hmmm ... Ayo kita ada hubungan." Langit menyerahkan bunga itu pada Hujan dengan Hujan yang kini menatapnya dengan alis yang bertaut.
"Ayo kita ada hubungan?" Hujan menahan tawanya mendengar ajakan pria tersebut.
"Kamu kenapa?" tanya Langit bingung.
Seketika tawa Hujan pecah mendengar pertanyaan pria tersebut. "Kamu itu mau ada hubungan apa? Hubungan itu banyak. Ada adik, kakak, teman, ibu, adek ..."
"Kamu ngeselin lama-lama!" Langit menatap Hujan dengan wajah kesal.
Sementara Hujan reflek mengambil bunga yang dipegang Langit, yang hendak di buang oleh pria itu.
"Kamu itu seperti orang datang bulan saja! Sini aku kasih tahu!" Hujan tersenyum lembut.
Hujan mengangkat bunga itu dan tersenyum pada Langit. "Maukah kau menjadi pacarku?"
"Iya aku mau," jawab Langit dengan senyum yang mengembang.
"Itu cuma contoh!" Hujan mengibaskan bunga itu pada wajah pria tersebut.
Sementara Langit tetap tersenyum melihat wajah kesal gadis tersebut. "Aku pikir kamu tidak mau ditembak karena ingin menembak lebih dulu."
"Terserah kamu, aku tidak perduli," ucap Hujan yang kini turun dari mobil pria itu.
"Hey, tunggu!" Langit kini juga turun dari mobilnya dan menyusul Hujan yang melangkah lebih dulu.
"Oh iya, ini 'kan rumah Langit? Seharusnya aku melangkah di belakang dia," gumam Hujan yang seketika gadis itu mengehentikan langkahnya.
Langit pun kini berdiri di samping gadis itu, lalu mengulurkan tangannya pada Hujan dengan Hujan yang menerimanya.
"Gimana? Apakah kamu mau menjadi pacarku?" tanya Langit lagi.
"Iya, mulai sekarang kita ada hubungan." Pelangi menatap Langit jengah.
Tawa langit pun pecah melihat kekesalan Hujan. Mereka berjalan beriringan, namun Langit melepaskan tangan Hujan, begitu mereka memasuki pintu utama.
Akan tetapi, saat mereka melewati ruang keluarga. Langit dikejutkan dengan kehadiran Sky, Rainy dan Pelangi.
"Om, Tante, Pelangi? Kenapa kalian tidak bilang kalau kalian kalau kalian mau kesini? Tau begitu aku pasti pulang lebih cepat!"
Langit tersenyum, sementara Hujan hanya menundukkan kepalanya karena merasa grogi setelah menyadari bahwa di rumah itu bukan hanya ada keluarga Langit, tapi ada keluarga Pelangi juga.
Semua orang di rumah itu tidak heran jika Langit membawa seorang wanita, karena mereka sangat hapal dengan sifat Langit yang menurun dari saudara Daddynya — David Maxyko Galaxy.
Dengan wajah datar tanpa Ekspresi, Devan menatap Hujan begitu lekat, hingga membuat gadis itu semakin takut untuk menatap pria paruh baya itu.
"Kami akan membicarakan tentang pertunangan Langit dan Pelangi, dan kami tidak ingin ada orang luar yang mendengarnya."
Jedduarrr ...