Love You, Om!

Love You, Om!
Jangan Hukum Aku, Pelangi!



Hujan yang merasa kecewa setelah mengetahui bahwa Langit dan Hujan dijodohkan, gadis itu lari dan bersembunyi di balik pohon yang ada di pinggir jalan saat menyadari bahwa langit mengejar gadis tersebut.


Karena gelap, Langit tidak bisa mencari Hujan dengan leluasa. "Hujan ... ! Aku tau kamu masih berada di sekitar sini! Please ... jangan kayak gini! Aku khawatir, biarkan aku mengantarmu, untuk memastikan bahwa kamu baik-baik saja!" ucap Langit yang masih menatap sekitar jalan di dekat rumahnya.


Beberapa saat kemudian, tampak taksi yang berhenti tidak jauh dari Langit berdiri hingga membuat pria itu seketika lari untuk menghampiri taksi tersebut, karena ia yakin bahwa taksi itu adalah pesanan Hujan.


"Hujan!" Langit memegang pergelangan gadis itu saat Hujan keluar dari persembunyiannya dan hendak menaiki taksi Online.


"Lepas Lang! Kamu sudah mendapatkan apa yang kamu inginkan 'kan? Jadi kamu tidak butuh aku lagi," ucap Hujan dengan air mata yang terus menetes begitu saja.


"Hujan kamu salah paham, meskipun kita dijodohkan orang tua kita, tapi aku tahu cinta Pelangi masih untuk Om Awan!"


"Aku tidak mau mendengarkanmu lagi, Lang! Aku harus pergi dari hidupmu sebelum aku berharap lebih!" Hujan melepaskan tangan Langit di pergelangan tangannya dengan tangan yang satunya lagi.


Lalu, gadis itu mendorong tubuh Langit dan menutup pintu taksi Online tersebut. "Jalan Pak!" titah Hujan dengan air mata yang masih terus mengalir.


Sementara Langit langsung berdiri dan mengetuk jendela mobil hingga akhirnya Langit tidak bisa mengejarnya lagi.


"Maafkan aku, Hujan! Aku tidak ingin melukai perasaanmu, aku akan terus mengejarmu karena hanya kamu yang bisa mengobati lukaku. Aku sadar, aku tidak akan pernah bisa mendapatkan cinta Pelangi. Tapi mungkin, aku bisa merasakan dicintai dan mencintai dengan kamu," ucap Langit dengan suara lemahnya.


Setelah taksi yang dikendarai Hujan menghilang dari pandangan matanya, Langit kini kembali, dan saat pria itu sampai di halaman rumahnya, ia berpapasan dengan Sky, Rainy dan Pelangi yang keluar dari pintu utama dan melangkah menuju mobilnya masing-masing.


"Om!" Langit mendekati Sky dan Rainy lalu mengulurkan tangannya pada pria paruh baya itu. Sementara Pelangi berdiri di samping Langit dan menatap pria itu dengan wajah datar tanpa ekspresi.


Setelah itu, Sky menerima uluran tangan Langit dengan Langit yang mencium punggung tangan pria paruh baya tersebut.


"Om sama Tante mau pulang?" tanya Langit seraya menatap Sky dan Rainy bergantian.


"Ya iyalah ... Nungguin lu melebihi nunggu presiden saja!" Pelangi memutar bola matanya malas.


Langit tersenyum kaku di depan Sky dan Rainy, ia menahan kekesalannya pada Pelangi karena merasa lelah untuk berdebat dengan sahabatnya tersebut.


"Calon tunangan sialan!" umpat Langit lirih. Namun dapat di dengar jelas oleh Pelangi yang masih berdiri di samping gadis tersebut.


"Apa Lo bilang?"


Seketika Pelangi menoleh seraya menatap Langit tajam. Lalu, gadis itu menginjak kaki Langit hingga pria itu reflek mengangkat kakinya yang terasa nyeri.


Setelah berhasil membuat Langit kesal, gadis itu lari dan membuka pintu mobilnya, lalu melajukan mobil tersebut meninggalkan pekarangan rumah Langit, dengan Langit yang berusaha mengejarnya.


"Lebah Betina sialan! Awas Lo ya!" teriak Langit dengan wajah penuh kekesalan.


Sementara Sky dan Rainy yang melihat perdebatan Langit dan Pelangi, kini keduanya hanya menggeleng-gelengkan kepala.


**********


1 Jam kemudian.


Pelangi kini tiba lebih dulu dan memarkirkan mobilnya ke garasi. Akan tetapi, ia terkejut saat menyadari ada sebuah mobil yang terparkir di halaman rumahnya yang terlihat sangat tidak asing.


Setelah itu, Pelangi turun dari mobilnya, dan mendekati mobil tersebut untuk memastikan bahwa mobil yang terparkir itu bukan mobil orang yang ia kenal.


"Tidak. Dia tidak mungkin ada di sini. Pasti cuma mobilnya saja yang mirip. Tapi, plat mobilnya .... ?"


"Aku menunggumu dari tadi sore!" Awan keluar dari mobilnya, lalu ia melangkah mendekati Pelangi, dengan Pelangi yang terlihat begitu syok.


Pelangi terkejut melihat kehadiran seseorang yang kini telah membuat hatinya hancur melebur. Ia tidak sanggup melihat wajah pria itu, hingga ia memutuskan langsung balik badan untuk menghindarinya.


Namun, tubuh wanita itu kini dipeluk dari belakang hingga membuat air mata gadis tersebut terjun begitu saja.


"Untuk apa Om Awan datang ke rumah ini?" tanya Pelangi dengan suara yang tercekat.


"Maafkan aku, Pelangi! Selama ini aku telah menyia-nyiakanmu! Setelah membuat Sky dan kamu marah, aku sadar bahwa aku hanya mementingkan egoku, tanpa memikirkan perasaan diri sendiri apalagi orang lain."


Pelangi memejamkan matanya mendengar ucapan orang yang dicintainya tersebut. "Semuanya sudah telat Om! 2 Minggu lagi aku akan bertunangan dengan Langit. Jadi Om tidak perlu khawatir akan merasa terganggu dengan kehadiranku yang selalu menganggu Om, karena mulai besok dan seterusnya, aku tidak akan pernah menginjakkan kakiku di rumah sakit Om, apalagi ke rumah Om!" ucap Pelangi yang terus menetes.


"Tidak, jangan lakukan itu Pelangi! Aku sudah pernah merasa kehilangan. Aku tidak ingin rasa sakit yang pernah aku rasakan, akan aku rasakan kembali," ucap Awan yang semakin erat memeluk tubuh Pelangi.


"Lebih baik Om Awan pergi, sebelum Papa melihat Om di sini!" ucap Pelangi dengan wajah datar bersamaan air mata yang terus mengalir deras.


Awan yang tidak sanggup untuk kehilangan gadis itu, air mata yang selalu ia tahan bertahun-tahun akhirnya runtuh, pria itu membalik tubuh gadis itu, lalu memegang pundak Pelangi serta menjatuhkan air matanya di hadapan orang yang ia cintainya itu.


"Maafkan aku Pelangi! Aku tahu aku salah! Tapi aku mohon jangan hukum aku dengan cara seperti ini!" ucap Awan seraya menatap Pelangi sendu.


Pelangi yang melihat kerapuhan Awan, ia kini menghapus air matanya sendiri, lalu ia melepaskan tangan Awan yang masih ada di pundaknya. Setelah itu, Pelangi hendak melangkahkan kakinya untuk meninggalkan tempat tersebut karena ia kini mulai luluh.


Akan tetapi, Awan menahan pergelangan tangan gadis itu. "Please ... jangan seperti ini!"


Pelangi mengehempaskan tangan Awan tanpa menoleh. Awan pun hendak mengejar Pelangi kembali. Akan tetapi, bogem mentah tiba-tiba mengenai pipinya hingga pria itu hampir jatuh tersungkur.


"Kak Awan ... !"


...🍒🍒🍒🍒🍒...


...TBC...