Love You, Om!

Love You, Om!
Hanya Acting



Drttttt drttttt drttttt ...


Awan tersenyum tipis saat melihat layar ponselnya tertera sebuah nama 'Lebah Betina' tapi dengan sengaja pria itu menolak panggilan dari Pelangi dan mematikan ponselnya seperti biasa.


"Dasar Lebah Betina, nggak ada kapok-kapoknya aku tolak terus menerus. Apa dia nggak capek?" Awan menghela nafas, lalu ia melangkah ke luar ruangan untuk melakukan bedah pada salah satu pasien.


Dengan sengaja Awan meninggalkan ponselnya di ruangan pria tersebut, agar pria itu bisa fokus pada pasien tanpa gangguan dari siapapun.


Sementara Pelangi kini merasa kesal karena Awan tidak pernah mengangkat ponselnya sejak gadis itu dengan terang-terangan mengejar pria tersebut.


Akan tetapi pada saat itu, Pelangi tidak memaksa seperti biasanya. Gadis itu kini mengingat senyum Awan saat berjalan dengan seorang wanita yang seumuran dengan pria itu.


Pelangi yang Awalnya penuh semangat, kini membanting ponselnya ke arah tempat tidur. Lalu, ia melangkah menuju balkon dan menatap halaman rumahnya dengan tatapan kosong.


"Apa Om Awan memang tidak ditakdirkan untukku? Setiap dia menatapku, tatapannya hanya menampakkan kekesalan. Tapi saat bersama wanita itu, Om Awan bisa tertawa lepas. Tapi ... bukankah aku sudah berjanji bahwa aku tidak akan menyerah sebelum melihat Om Awan menikah dengan orang lain?"


Pelangi menghela nafas, lalu hendak balik badan untuk kembali ke kamarnya. Akan tetapi, ia terkejut saat melihat Rainy yang tiba-tiba berdiri di sampingnya.


"Mama?" Pelangi tersenyum kaku.


Gadis itu kini kembali pada posisinya dan menatap halaman rumah megah tersebut dari balkon, dengan posisi Rainy dan Pelangi berdiri berdampingan.


"Apa ada yang ingin kamu ceritakan pada mama?" tanya Rainy seraya menatap Pelangi sekilas.


Pelangi tersenyum hambar, gadis yang tidak pernah menjatuhkan air matanya sejak Rainy dan Sky kembali bersatu, namun pada saat itu, kini air mata Pelangi jatuh perlahan saat Ia sudah tidak bisa menahan rasa sesaknya.


"Aku lelah, Ma!" ucap Pelangi seraya mengalihkan tatapannya dari Rainy.


Rainy terkejut mendengar suara Pelangi yang bergetar hingga membuat wanita itu langsung menarik kepala Pelangi agar ia bisa menatapnya.


"Hey, anak mama kenapa?" Rainy memegang kepala Pelangi sambil menatapnya lekat.


Sementara gadis itu hanya menundukkan kepala dengan air mata yang terus jatuh tanpa bisa ia bendung.


Rainy yang tidak pernah melihat air mata Pelangi sejak bertahun-tahun lamanya, ia langsung mendekap kepala gadis tersebut, karena ia tahu, jika Pelangi sampai menjatuhkan air mata, berarti gadis itu sudah tidak kuat menahan kesedihannya.


Pelangi hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dalam pelukan wanita itu sambil terus menangis hingga sesegukan.


"Pelangi please ... jangan buat mama khawatir! Kamu kenapa?" tanya Rainy panik.


Pelangi langsung menghapus air matanya, lalu ia melerai pelukannya dari sang mama, dan menatap mata sang mama lekat, lalu ia menangis terisak-isak dengan air mata yang terus mengalir deras.


Rainy semakin khawatir, ia menarik lengan Pelangi dan membawa gadis itu duduk di sofa kamar gadis tersebut.


Mereka duduk bersebelahan dengan Rainy yang kini terus mengahapus air mata Pelangi sampai gadis itu kini menghentikan tangisannya.


"Sayang kamu kenapa?" tanya Rainy lagi setelah melihat Pelangi kini mulai tersenyum ke arahnya.


"Maafkan aku, Ma! Aku tidak ingin membawa mama dalam masalah cintaku, aku hanya takut ada ke salah pahaman antara Papa dan Mama." Pelangi membatin.


"Pelangi, kenapa malah melamun Sayang?" tanya Rainy bingung.


"Ha ha ha .... "


Pelangi tertawa terbahak-bahak hingga membuat Rainy mengerutkan kening melihat tingkah Pelangi yang aneh.


"Mama ... Mama kena prank!" ucap Pelangi dengan tawa yang lepas dari bibir gadis itu.


"Aku tidak apa-apa, Ma! Tadi di Kampus ada adu akting, selama ini aku 'kan selalu berperan sebagai orang yang ceria, tapi kali ini aku ingin berperan sebagai orang yang cengeng, Ma!" ucap Pelangi mencari alasan untuk menutupi kesedihannya dari mama tirinya tersebut.


"Maafkan aku harus berbohong, Ma!" Pelangi menatap Rainy dengan senyum yang dipaksakan, sementara yang ditatap hanya membelai rambut gadis itu dengan lembut.


"Aku tahu kamu bohong, Nak! Tapi tidak apa-apa, kamu juga butuh privasi."


Rainy tersenyum sambil menatap gadis itu lekat. "Baik kamu bersandiwara ataupun tidak, tapi aku tidak ingin melihat air matamu lagi," ucap Rainy yang kini kembali memeluk tubuh anak tirinya tersebut.


...🌷🌷🌷🌷🌷...


...TBC ...