
"Maaf, kamu tidak apa-apa Nak?" tanya seorang pria paruh baya yang hampir menabrak Pelangi.
Pelangi yang merasa tidak terjadi sesuatu padanya, ia membuka mata perlahan dan menatap orang yang hampir menabraknya dengan wajah pucat pasi.
"Om Devan?" Pelangi memegang dadanya yang masih berdetak lebih kencang dari biasanya.
"Pelangi?"
"Kamu Pelangi 'kan?" tanya Devan dengan wajah yang sama terkejutnya.
Pelangi menganggukkan kepalanya cepat sambil menghampiri Devan dan memegang pergelangan tangan pria paruh baya itu.
"Om ..., bantuin Pelangi, Pelangi dikejar orang gila," ucap Pelangi seraya memasang wajah memohon.
"Ya sudah, ayo masuk! Om akan mengantarmu pulang," ucap Devan tersenyum.
"Dalam mobil ada Mentari, tapi sepertinya dia tidur terlalu lelap hingga dia tidak sadar kalau aku mengehentikan mobil," ucap Devan tersenyum.
"Terima kasih, Om!" ucap Pelangi tersenyum dengan wajah cerianya.
"Kamu duduk di depan saja, Mentari sepertinya masih terlelap." Devan masih tersenyum sambil mengulurkan sebelah tangannya pada gadis itu.
"Sayangku ... " teriak orang gila yang mengejar Pelangi dari kejauhan.
Pelangi terkejut dan langsung masuk ke dalam mobil Devan dengan wajah panik. "Om cepetan!" panggil Pelangi yang sudah masuk lebih dulu, sementara Devan kini masih menatap ke arah orang gila tersebut.
"Iya, ya!" jawab Devan yang menyusul masuk dan duduk di kursi kemudi.
Setelah itu, Devan melajukan mobilnya meninggalkan tempat tersebut, sedangkan Pelangi langsung bernafas lega setelah ia terbebas dari orang gila yang terus mengejarnya.
*
*
*
Beberapa menit kemudian, Mentari kini menguap dan terbangun dari tidurnya, ia duduk dan menatap ke arah Devan yang fokus mengemudi.
"Ada apa sih, Dad? Sepertinya tadi Daddy sempat menghentikan mobil?" tanya Mentari yang mengucek-ngucek matanya saat dalam perjalanan menuju rumah Pelangi.
Pelangi mengerutkan kening, saat ia melihat ke arah samping kemudi. "Dia siapa, Dad? Perasaan tadi kita cuma berdua?" tanya Mentari yang hanya melihat kepala Pelangi dari belakang.
Pelangi menoleh seraya menatap Mentari dengan senyum yang mengembang. "Masak Kak Tari lupa sama aku sih?" Pelangi tersenyum sambil mengedipkan sebelah matanya.
Mentari melebarkan mulut setelah melihat Wajah Pelangi dengan jelas. "Pelangi? Kamu ngapain di sini? Kok kamu bisa satu mobil dengan kita?" Mentari manatap Pelangi dengan wajah terkejut.
"Oh ... atau sekarang kamu punya sulap ya? Bisa pindah sendiri kemanapun kamu mau?" Mentari juga melebarkan matanya dengan wajah yang semakin dipenuhi dengan keterkejutan.
"Apa sih, Kak? Mana ada kayak gituan? Memangnya Pelangi pesulap apa?" Pelangi memanyunkan bibirnya.
Sementara Devan hanya menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar ucapan putrinya tersebut.
"Kamu tidurnya terlalu lelap tadi, makanya kamu tidak sadar waktu Pelangi masuk mobil," ucap Devan tersenyum lembut.
Pelangi menatap Devan dengan kening yang mengerut. "Aku heran sama keluarga Om," ucap Pelangi seraya menatap Devan dengan wajah polosnya.
"Om Devan sama Tante Catherine orangnya kalem, lembut, sopan, pokoknya the best lah, tapi kenapa Langit sama Kak Tari aneh ya?" ucap Pelangi seraya menaruh telunjuk di dagunya dengan pikiran yang kemana-mana.
Plak ...
"Auh ...," seru Pelangi saat Mentari memukul kepala gadis itu dengan sebutan kertas.
"Kak Tari ...!" teriak Pelangi seraya memanyunkan bibirnya.
Sementara Devan hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan dua gadis tersebut.
"Sudah-sudah ...!" ucap Devan lembut.
"Kalian ini sudah seperti tikus dan kucing saja." Devan tersenyum.
...****************...
Langit yang tidak bisa menghilangkan kekesalannya pada Hujan, ia langsung pergi ke rumah Pelangi untuk menceritakan tentang semua yang ia alami pada sahabatnya tersebut.
Akan tetapi, Langit merasa kecewa karena Pelangi masih belum pulang. "Pasti dia ke rumah sakit, Pelangi bener-bener keterlaluan! Sejak Om Awan kembali ke Indonesia, aku merasa kesepian karena dia bukan hanya menolakku, tapi menjauhiku juga!" gumam Langit dengan wajah kesalnya.
Pria itu hendak masuk ke mobilnya. Akan tetapi, setelah ia melihat sebuah mobil yang memasuki pekarangan rumah megah itu, kini berhasil membuat Langit terkejut.
"Mampus gue, itu 'kan mobil Daddy." Langit membatin.
Pria itu ingin kabur, namun telat karena ia tidak bisa lari sebab mobil itu kini sudah terparkir sempurna di samping mobilnya.
Devan turun dari mobilnya, lalu mendekati Langit yang masih berdiri di halaman rumah megah itu.
"Kamu di sini Lang?" tanya Devan yang kini berdiri di hadapan putranya tersebut.
"Eh, Daddy ... !" Langit tersenyum cengengesan sambil menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal.
"Aku mau pinjem buku catatan Pelangi, Dad! Soalnya ada salah satu pelajaran yang tulisan tanganku sendiri tidak dimengerti." Langit mencari alasan.
"Paling cuma alasan, Dad! Mau modus tuh dia sama Pelangi." Mentari tiba-tiba berdiri di antara adik dan Daddynya tersebut.
"Kakak?" Langit menatap Mentari kesal.
Sementara Pelangi kini juga melangkah mendekati tiga orang tersebut dengan senyum tanpa beban.
"Kalau Daddy tidak percaya, Daddy bisa tanya Pelangi kalau aku itu tidak pernah bohong," ucap Langit yang kini menarik tangan Pelangi seraya mengedip-ngedipkan matanya pada gadis itu untuk membelanya.
"Iya 'kan Sweety Girl?" tanya Langit dengan senyum yang mengembang.
"Tidak, kamu kebanyakan bohongnya! Hukum saja Om biar tau rasa dia!" ucap Pelangi seraya menatap Devan dengan wajah polosnya.
Sementara Langit langsung melebarkan mulutnya mendengar ucapan sahabatnya tersebut.
"Ngeselin lu!" umpat Langit seraya mengeratkan giginya.
......🌷🌷🌷🌷🌷......
...TBC ...