
Awan yang merasa bersalah pada Pelangi juga Sky, ia menghubungi Arnold—sahabat baiknya. Ia mampir ke rumah sahabatnya tersebut untuk meminta pendapat.
Ia sadar, bahwa Arnold pasti akan marah besar padanya jika tahu dengan apa yang terjadi. Akan tetapi, ia hanya bisa meminta bantuan pada sahabatnya tersebut untuk mendapatkan maaf dari Sky, Rainy juga Pelangi.
Sesampainya di rumah Arnold, pria itu langsung menuju ruang tamu setelah Arumi mempersilahkan masuk dan memanggil suaminya, hingga beberapa saat kemudian, Arnold masuk ke ruangan tersebut dengan alis yang diangkat sebelah.
"Tumben kamu ingat sama aku?" tanya Arnold yang melangkah dari ambang pintu mendekati pria tersebut, bersamaan dengan Arumi yang membawa minuman.
Awan tersenyum sambil menatap sahabatnya yang kini duduk di seberangnya. "Aku bukan melupakan sahabat sendiri, tapi aku takut mengganggu ke bersamaanmu dengan Arumi dan anakmu," jawab Awan.
Sementara Arnold kini menatap wajah Awan yang terlihat muram. "Kamu kenapa?" tanya Arnold.
"Aku mau lihat Arjuna sama Star dulu, Mas!" ucap Arumi tersenyum.
Arnold mengerutkan kening. "Star di sini?" tanya Arnold yang belum bertemu dengan keponakannya sejak pulang kerja.
"Iya, tadi Rain menghubungiku dan memintaku untuk membawa Star ke sini, kata Rain, Star merengek ingin menginap di sini karena kangen sama kamu," jawab Arumi tersenyum lembut.
"Ya sudah, nanti aku temui Star setelah ngobrol sama Awan," jawab Arnold tersenyum lembut.
"Iya, Mas!" jawab Arumi.
Lalu, wanita itu balik badan dan melangkah meninggalkan ruang tamu, sementara Arnold terus mengembangkan senyum sambil menatap punggung sang istri yang melangkah menjauh hingga menghilang di balik pintu.
Awan yang melihat senyuman Arnold, membuat pria itu juga mengembangkan senyum. Ia tidak pernah menyangka sahabat yang dulunya seperti es balok, kini bisa mencair dan menjadi seseorang yang hangat dan murah senyum.
"Aku pikir setelah kamu kehilangan Regita, senyumanmu tidak akan pernah kembali, tapi nyatanya aku salah. Sekarang kamu terlihat sangat bahagia hidup dengan Arumi," ucap Awan tersenyum.
Arnold mengalihkan tatapannya setelah Arumi menghilang dari balik pintu. Ia menatap wajah Awan dengan begitu lekat.
"Kalau kamu mau hidup bahagia seperti aku, ya nikah saja! Jujur, sampe sekarang aku merasa bersalah sama kamu," ucap Arnold seraya menatap wajah Awan lekat.
"Bersalah kenapa?" tanya Awan menatap Arnold dengan kening yang mengerut.
"Coba sekarang kamu jujur sama aku. Apakah kamu masih mencintai Rain?" tanya Arnold menatap Awan dengan tatapan penuh keseriusan.
Awan tersenyum mendengar pertanyaan dari sahabatnya, ia menatap wajah Arnold dengan tatapan yang menyiratkan kesedihan.
"Tidak! Sekarang aku sudah tidak mencintai Rainy, cintaku untuknya sudah benar-benar pudar," jawab Awan dengan wajah tertunduk.
"Aku tau kamu bohong," ucap Arnold tanpa mengalihkan tatapannya dari pria tersebut.
Awan pun mengangkat kepalanya, sambil menatap Arnold dengan senyuman sendu. "Aku tidak mencintai Rainy, Ar. Dan Aku tidak bohong," ucap Awan dengan wajah penuh keseriusan.
Arnold terus menatap mata Awan yang memancarkan kesedihan. "Aku bisa melihat sesuatu di matamu, jika memang kamu tidak ingin jujur padaku, ya sudah! Aku tidak akan memaksa," jawab Arnold dengan wajah kecewa.
"Aku mencintai Pelangi."
"Apa?"
Brakkkk ...
Arnold menggebrak meja karena terkejut. Lalu, pria itu berdiri sambil menatap Awan tajam.
"Kamu jangan main-main! Pernikahan itu bukan mainan yang bisa kapanpun kamu tinggalkan jika kamu bosan!" sentak Arnold.
"Aku tahu dan aku sadar, bahwa selama ini aku terbiasa dengan kehadiran Pelangi, hingga saat dia tidak datang untuk menemuiku, aku merasakan kerinduan yang mendalam."
Awan pun ikut berdiri dan melangkah mendekati sahabatnya tersebut. "Jika aku ingin memaksa Rainy untuk bersamaku, lalu untuk apa aku melepaskan dia dulu? Bukankah kamu sendiri yang menjadi saksi bahwa aku benar-benar ikhlas melepaskan Rainy untuk bahagia dengan Sky?"
Deg
Seketika Arnold mengingat masa lalunya, ia sadar bahwa dia sendiri yang memaksa Awan untuk menikah dengan Rainy, tapi Awan lah yang mengingatkan Arnold bahwa Rainy hanya akan bahagia jika Rainy bisa bersatu dengan orang yang dicintainya.
Arnold menoleh, lalu menatap sahabatnya yang kini berdiri di belakangnya. Pria itu langsung memeluk sahabatnya, dan menepuk-nepuk punggung pria tersebut.
"Maafkan aku karena aku salah paham," ucap Arnold.
Awan tersenyum, lalu melerai pelukannya. "Tidak apa-apa, aku mengerti," ucap Awan tersenyum.
"Ya sudah, ayo duduk lagi!" ajak Arnold.
Awan menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Kini sepasang sahabat itu duduk di sofa yang bersebelahan.
"Lalu, gimana? Apakah kamu akan menikah dengan Pelangi?" tanya Arnold sambil menatap Awan lekat.
"Entahlah, aku bingung. Aku memang berniat ingin menikahi Pelangi, tapi aku sudah terlanjur membuat Sky marah besar padaku," ucap Awan.
Arnold mengerutkan kening, karena ia tidak mengetahui tentang apa yang terjadi. "Memangnya apa yang kamu lakukan hingga Sky marah besar?" tanya Arnold.
"Pelangi melamarku lebih dulu di depan umum, dan aku menolaknya."
"Apa?" Arnold semakin terkejut mendengarkan cerita sahabatnya.
"Kenapa Paleangi se nekat itu? Terus kenapa kamu menolaknya jika kamu juga mencintai Pelangi? Dan kenapa Sky bisa tahu dengan apa yang terjadi di antara kalian?" Arnold menyerang Awan dengan beberapa pertanyaan.
"Aku menolak dia, karena aku yakin Sky tidak akan merestui hubunganku dengan Pelangi karena umur kita yang terpaut begitu jauh, dan mengapa Sky bisa berada di tempat itu? Aku juga tidak tahu."
Arnold mengehela nafasnya mendengar cerita sahabatnya. "Pantes saja Sky marah besar, kalau aku jadi dia mungkin aku akan membunuhmu," ucap Arnold santai.
"Sky juga menghajarku dipenuhi emosi, hanya saja Pelangi berdiri di tengah-tengah kami, menghalangi Sky."
Arnold tersenyum. "Pantesan wajahmu babak belur, aku pikir kamu seperti ini karena latihan tinju," ucap Arnold seraya menarik sebelah sudut bibirnya.
"Sekarang aku butuh bantuannu, aku mohon bantulah aku untuk melamar Pelangi," ucap Awan dengan wajah memohon.
"Apa?" Arnold terkejut.
"Setelah kamu menolak Pelangi, sekarang kamu akan melamarnya? Aku yakin kamu akan langsung diusir begitu sampai di rumah Sky." Arnold menatap sahabatnya dengan wajah jengah.
"Iya aku tahu, Ar! Tapi aku juga tahu bahwa Sky dan Rainy menghormatimu, paling tidak jika aku datang bersamamu, mereka akan mendengarkan penjelasanku bahwa aku tidak berniat ingin mempermainkan Pelangi," ucap Awan dengan wajah memohon.
"Kamu pinter banget, kamu senagaja 'kan memanfaatkan aku?" tanya Arnold seraya menatap sahabatnya dengan alis yang dinaikkan sebelah.
"Aku mau minta bantuanmu, Ar! Bukan ingin memanfaatkan," ucap Awan yang mulai kesal karena tuduhan sahabatnya tersebut.
"Sama saja!"
...🌷🌷🌷🌷🌷...
...TBC...