Love You, Om!

Love You, Om!
Memberi Kesempatan



Ke esokan harinya.


Pelangi kini membawa mobil sendiri ke kampusnya, gadis itu sengaja mengubah penampilannya hingga membuat semua mata tertuju pada gadis tersebut.


Berbeda dengan yang lain, Langit yang melihat Pelangi menjadi sorotan karena perubahannya, ia mengepalkan tangan dengan mata yang memerah.


"Kamu beruntung bisa dekat sama Pelangi Lang." Salah satu sahabat langit menepuk-nepuk pundak Langit.


Namun, Langit tetap menatap Pelangi tajam, hingga membuat salah satu sahabatnya itu mengerutkan kening. Sementara Pelangi terus mengembangkan senyum dan berjalan ke arah kelasnya seperti seorang model.


Jika Pelangi terbiasa dengan menggunakan celana jeans dan kaos oblong layaknya seorang pria. Namun, pada saat itu Pelangi tidak hanya merias wajahnya, tapi gadis itu juga memakai pakaian feminim hingga membuat para pria terkagum-kagum melihat kecantikannya


"Lang, seandainya aku jadi kamu, maka aku tidak akan membiarkan Pelangi jatuh ke pelukan orang lain." Sahabat Langit yang lain juga menatap Pelangi kagum.


"Kemaren-kemaren tanpa berdandan saja, dia sudah cantik. Apa lagi sekarang?" Sahabat yang satunya lagi ikut menimpali serata memiringkan kepalanya sambil menatap kecantikan Pelangi.


Plak plak plak ...


Langit memukul tiga kepala sahabatnya dengan buku karena tatapan mereka pada Pelangi. Sementara tiga sahabatnya tersebut hanya tersenyum cengengesan mendapat pukulan dari Langit.


"Jaga pandangan kalian!" Langit menatap tiga sahabatnya dengan wajah kesal, lalu lari menghampiri Pelangi dan membuka jaketnya serta menutup pundak gadis tersebut tanpa kata.


Pelangi terkejut saat Langit tiba-tiba menghampirinya untuk menutupi sebagian tubuhnya yang tidak biasa ia perlihatkan.


"Aku tidak suka cara berpakaianmu!" ucap Langit dengan wajah datar, lalu melangkah melewati Pelangi yang masih dengan wajah terkejutnya.


"Langit?"


Pelangi langsung mengejar pria itu, yang bersikap tidak biasanya.


"Langit tunggu! Langit!" teriak Pelangi yang tidak digubris sama sekali oleh pria itu. Ia terus melangkah seakan-akan ia tidak mendengar teriakan sahabatnya tersebut.


"Langit kamu kenapa sih?" Pelangi menghadangnya saat hendak memasuki kelas.


Akan tetapi, Langit langsung balik arah dan melangkah menuju taman. Pelangi yang melihat kemarahan di wajah sahabatnya tersebut, ia langsung menyusul pria itu dan memeluk Langit saat mereka sudah berada di taman.


"Please ... jangan jauhi aku! Aku hanya punya kamu, Lang ... aku hanya punya kamu!" tangisan Pelangi langsung pecah saat Langit mengabaikannya.


"Pelangi?" Langit terkejut saat mendengar tangisan sahabatnya sambil memeluk tubuhnya erat.


Pria itu langsung melerai pelukan itu dan memegang pundak sahabatnya sambil menatapnya lekat. "Hey, ini beneran Pelangi 'kan?" tanya Langit yang masih tidak percaya dengan apa yang ia lihat.


"Pasti kamu bukan Pelangi. Pelangi yang ku kenal itu apa adanya dan tidak cengeng seperti ini. Kamu pasti bukan Pelangi. Selama aku kenal dia, sekalipun aku tidak pernah melihatnya menangis."


Pelangi yang mendengar ucapan Langit, ia semakin mengencangkan tangisannya hingga membuat Langit panik.


"Kamu bukan Pelangi!" Langit balik badan dan hendak meninggalkan taman tersebut, namun ucapan Pelangi menghentikan langkahnya.


Langit pun menoleh, lalu mendekati Pelangi kembali, hingga keduanya berdiri dan saling berhadap-hadapan.


"Aku kasar, aku bar-bar dan mungkin aku juga tergolong gadis murahan karena selama ini aku yang selalu mengejarnya." Pelangi terus menjatuhkan air matanya hingga membuat Langit ikut sakit dan langsung mendekap tubuh gadis itu yang terlihat sangat rapuh.


"Aku mencintainya Lang! Aku sangat mencintainya," ucap Pelangi sesegukan.


"Menangislah jika memang dengan menangis bisa membuatmu lega," ucap Langit sambil memeluk gadis itu tulus.


Pelangi pun menangis tersedu-sedu hingga berhasil membuat sebagian kaos yang digunakan Langit basah.


*


*


*


Setelah puas menangis dalam pelukan Langit, Pelangi pun menjauhkan tubuhnya dari pria itu dan menghapus air mata yang sulit ia bendung karena menahan sesak.


Setelah itu, Pelangi menatap Langit dengan wajah sendunya. "Aku tidak menyalahkan dia karena menolakku selama ini, meskipun bukan Om Awan, memangnya siapa yang mau sama gadis seperti aku?"


"Aku hanya seorang gadis biasa yang tidak mengerti apapun tentang wanita, aku hanya seorang gadis yang tahunya hanya ingin memiliki seorang pria yang kuikat sendiri dengan janji konyolku." Pelangi tersenyum sendu.


"Seandainya kamu mau membuka hatimu untukku, maka aku akan memberikan cintaku padamu lebih besar dari cintamu padanya," ucap Langit.


Ucapan pria itu pun berhasil membuat Pelangi yang asalnya menunduk, kini mengangkat kepalanya serta menatap pria itu dengan mata memerah.


"Stop Lang! Aku tidak ingin bercanda!" teriak Pelangi dengan wajah memerah menahan amarah.


"Aku tidak pernah bercanda tentang perasaanku padamu, Sweety Girl! Tapi kamu sendiri yang tidak pernah memberiku kesempatan!" Langit juga membentak Pelangi hingga membuat keduanya saling menatap tajam.


"Terserah Lo, deh!" Pelangi langsung meninggalkan Taman tersebut dengan Langit yang masih tetap di posisinya.


"Jika kamu merasa sakit saat di tolak Om Awan, maka itulah yang kurasakan selama ini," ucap Langit yang kini berhasil menghentikan gadis itu.


Pelangi mengahapus air matanya, lalu menghembuskan nafas perlahan. "Baiklah, jika memang hari ini Om Awan menolakku lagi, maka aku akan memberimu kesempatan untuk membuktikan bahwa kamu benar-benar mencintaiku," jawab gadis tersebut.


Setelah itu, Pelangi melanjutkan langkahnya meninggalkan Langit yang terus menatap punggung gadis tersebut.


"Bolehkah aku berharap kamulah jodohku, Sweety Girl?"


...🌷🌷🌷🌷🌷...


...TBC...