
"Ma, tapi aku mohon sama Mama, jangan kasih tau sama Papa ya tentang ini? Lagi pula Om Awan juga tidak menyukai Pelangi, Om Awan bilang ia hanya menganggap Pelangi sebagai anak, tapi Pelangi ingin lebih dari itu," ucap Pelangi dengan wajah sedihnya.
"Iya, Sayang. Mama janji, mama tidak akan memberi tahu Papamu jika belum saatnya tiba."
"Terima kasih, Ma! Terima kasih," ucap Pelangi seraya menatap Rainy dengan senyum cerianya.
Rainy mengengguk-anggukkan kepalanya, dengan senyum penuh ketulusan. "Aku sangat menyayangimu, Nak! Sangat menyayangimu," ucap Rainy.
"Aku tahu itu, Ma! Aku sangat tahu," jawab Pelangi.
*
*
*
Sementara di tempat lain, Awan kini duduk di sofa kamarnya sambil tersenyum-senyum sendiri mengingat kekonyolan Pelangi.
Sejak pulang dari rumah sakit, Awan hanya duduk bersantai di sofa, ia terus membayangkan wajah Pelangi tanpa sadar.
Akan tetapi, beberapa saat kemudian, ia terkejut saat tersadar dari lamunannya.
"Astaga, ada apa dengan otakku?" Pria itu menepuk-nepuk jidatnya sendiri saat menyadari bahwa ia terus memikirkan Pelangi sejak ia pulang dari rumah sakit.
"Tidak, tidak. Ini tidak mungkin cinta. Aku tidak mungkin mencintai gadis kecil seperti Pelangi. Aku harus membentengi hatiku agar tidak tersentuh dengan wanita mana pun. Apalagi Pelangi."
"Aku harus mandi, sepertinya otakku mulai tersesat. Aku harus bisa menghilangkan bayangan Pelangi dari pikiranku," ucap Awan.
Pria itu pun kini beranjak dari tempat duduknya sambil melangkah menuju kamar mandi.
*
*
*
Langit kini duduk sendirian di pinggiran Danau. Rasa kecewa ia rasakan saat sahabatnya tidak datang untuk menemuinya.
"Pelangi kemana sih? Seharian aku tungguin di sini, tapi dia malah tidak datang, padahal dia sendiri yang membuat janji untuk naik perahu di tempat ini."
Langit kini duduk di tepi Danau sambil terus menatap perahu di depannya yang ia siapkan untuk dinaiki bersama dengan gadis itu.
"Siapa aku dibandingkan dia?" Langit beranjak dari tempat duduknya dan berdiri menatap keindahan Mentari yang mulai tenggelam dari tempat tersebut.
"Indah ya?" Ucap seseorang yang tiba-tiba berdiri di samping pria itu.
Langit menoleh, menatap seorang wanita yang kini berdiri di sebelahnya sambil menatap ke arah matahari yang mulai tenggelam.
"Maaf, kamu siapa?" tanya Langit pada gadis itu sambil tersenyum penuh arti.
Langit yang sifatnya seperti David—pamannya, ia langsung melupakan Pelangi dan fokus mendekati gadis tersebut.
Gadis itu menoleh, lalu tersenyum tipis saat menatap wajah Langit yang kini menatapnya penuh makna.
"Meskipun kamu terkenal Playboy di kampus, tapi aku tahu kamu sebenarnya punya hati yang tulus." Gadis itu tersenyum, lalu hendak melangkah untuk meninggalkan tempat tersebut.
"Tunggu!" Langit memegang pergelangan tangan gadis itu hingga gadis itu pun menoleh dan menatap tangan Langit yang masih menggenggam tangannya.
Langit yang melihat tatapan wanita itu, ia langsung melepaskan genggaman tangannya. "Maaf," ucap Langit tersenyum kaku.
"Nggak apa apa!" Gadis itu pun tersenyum sambil menatap wajah Langit, lalu tersenyum cengengesan dan salah tingkah.
"Ada apa? Apa ada yang ingin kamu tanyakan?" tanya Langit dengan wajah penasaran.
"Kamu belum jawab tadi, siapa namamu?" tanya Langit penasaran.
Wanita itu pun tersenyum. "Aqila El Rumi,"
"Kalau aku ... " ucapan langit menggantung.
"Langit Devano Galaxy," jawab wanita itu tersenyum.
...🌷🌷🌷🌷🌷...
...TBC...
Maaf jika banyak typo. Soalnya Othor ngantuk berat. Insyaallah revisi besok ...
Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh ....