Love You, Om!

Love You, Om!
Extra Part



Setelah resepsi pernikahan Awan dan Pelangi di gelar. Kini sepasang suami istri itu berada di sebuah kamar yang bernuansa romantis.


Pelangi yang biasanya cerewet, ia mendadak salah tingkah dan bingung harus melakukan apa di dalam kamar itu.


Sementara Awan tersenyum melihat tingkah sang istri yang berbeda dari sebelum mereka menikah.


"Aku mandi dulu!" ucap Awan tersenyum.


Pria itu kini melewati sang istri yang masih mematung seraya memandangi kamar pengantin mereka.


Pelangi pun bernafas lega, setelah melihat punggung sang suami yang melangkah menuju kamar mandi.


"Aku kenapa sih? Seharusnya aku tidak salah tingkah begini?" Pelangi kini mondar mandir sambil memegang pinggangnya untuk menghilangkan rasa grogi yang melanda wanita itu.


Jantungnya pun berdegup tak karuan, ia kini terus mondar mandir di kamar tersebut hingga akhirnya terdengar suara pintu terbuka.


Pelangi pun terdiam kembali, Ia terpesona melihat ketampanan orang yang ia cintai, rambut basah dengan tetesan bulir-bulir air yang berjatuhan hingga membuat Pelangi semakin meleleh.


Tubuh sixpacknya pun membuat wanita itu tergoda dan jantungnya pun semakin tak terkendali hingga ia memutuskan untuk balik badan dan memunggungi suaminya tersebut.


"Aku juga mau mandi, Om!" Pelangi menghalangi penglihatannya dengan salah satu telapak tangannya dan balik badan kembali untuk melangkah menuju kamar mandi.


Akan tetapi, tanpa disangka oleh Pelangi, ia kini tersandung dengan gaun pengantinnya hingga membuat wanita itu hampir jatuh jika saja Awan tidak menangkap tubuhnya.


Pelangi pun terkejut dan ia reflek mengalungkan tangannya pada leher sang suami hingga sepasang suami-istri itu saling tatap dengan begitu mesranya.


"Hati-hati!" ucap Awan tersenyum.


Pelangi pun langsung bangkit dari posisinya dan mengangkat gaun pengantinnya, lalu lari ke arah kamar mandi tanpa kata.


Sementara Awan hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. "Ternyata kamu masih sama, Sayang!" ucap Awan tergelak.


Ia kini menoleh pada arah kamar mandi yang pintunya sudah tertutup. Lalu, ia melanjutkan langkahnya menuju lemari untuk mengambil piyamanya.


*


*


*


Pelangi kini sudah selesai membersihkan diri dan duduk di meja riasnya. Sementara Awan yang membersihkan diri lebih dulu hanya menatap sang istri dari ranjang pengantin mereka.


Awan terus mengembangkan senyum hingga membuat Pelangi yang melihat dari kaca meja rias mengeluarkan keringat dingin meski ia baru selesai mandi.


"Hm ... Om, Om Awan ke ... kenapa menatapku seperti itu? Apa ... apa aku terlihat aneh?" tanya Pelangi gugup.


Awan pun semakin mengembangkan senyumnya mendengar suara gadis yang baru sah menjadi istrinya itu.


Pria itu kini beranjak, lalu melangkah mendekati Pelangi hingga membuat gadis itu terkejut dan merasakan debaran jantung yang tidak biasa.


"Oh, no, no ... ! Om Awan mau ngapain? Aduh ... kenapa dia mendekat?" Pelangi semakin panik saat Awan kini sudah hampir menyentuhnya.


Akan tetapi, Sebelum Awan menyentuh pundak wanita itu, Pelangi langsung berteriak dan lari untuk menghindari sang suami.


"Aaaaa ... Tidak ... !" Pelangi memegang kedua telinganya sambil lari ke arah ranjang pengantin.


Awan pun menahan tawa melihat kekonyolan sang istri. Lalu, pria itu pun melangkahkan kakinya untuk mendekati sang istri kemabali yang kini berada di tempat tidur.


"Jangan mendekat, Om! Jangan mendekat!" ucap Pelangi dengan wajah yang pucat pasi.


"Memangnya kenapa kalau aku mendekat? Bukankah kita sudah sah menjadi suami istri? Kenapa kita harus menjauh?" tanya Awan tersenyum.


Awan hendak memegang pergelangan tangan Pelangi, namun dengan sigap wanita itu menghindar dan kini berdiri di belakang suaminya tersebut.


"Sayang, kenapa kita harus kejar-kejaran seperti ini sih? Lebih baik sekarang tidur, kita mainnya besok saja," ucap Awan.


Lalu, pria itu menoleh hingga membuat Pelangi semakin bingung entah ia harus lari kemana.


"Ah, mungkin lebih baik malam ini aku tidur di kamar lain agar aku aman dari Om Awan, aku memang ingin menikah dengan Pangeranku ini, tapi aku tak menyangka bahwa suasana malam pertama begitu horor seperti ini," batin Pelangi.


"Om Awan lepaskan!" ucap Pelangi.


"Kenapa kamu ingin pergi dariku?" tanya Awan yang kini memeluk tubuh sang istri dari belakang.


"Aku ... aku takut, Om!" ucap Pelangi dengan mata terpejam.


"Kenapa takut?" tanya Awan berbisik di telinga sang istri.


"Om Awan terlihat sangat menyeramkan malam ini!" ucap Pelangi jujur.


Awan pun memikirkan cara untuk membuat istrinya melunak, ia tahu bahwa Pelangi akan sulit untuk dibujuk.


"Coba lihat aku!"


Awan memutar tubuh sang istri hingga ia bisa melihat wajah gadis tersebut dengan begitu sempurna.


"Tidak, Om! Aku tidak mau, aku mohon jangan paksa aku!" ucap Pelangi dengan wajah merengek.


"Baiklah, jika kamu memang tidak menginginkan kita satu kamar. Mungkin memang lebih baik kita pisah kamar agar kamu tidak perlu ketakutan seperti ini!" ucap Awan dengan wajah yang berubah menjadi datar.


Deg


Pelangi terkejut mendengar ucapan sang suami hingga matanya kini membola, ia menyadari bahwa ia salah, karena tidak seharusnya ia memohon agar Awan tidak mendekat.


"Kamu tidak perlu lari dariku lagi, ini kamarmu, aku akan pindah ke kamar lain!" ucap Awan.


Pria itu balik badan, lalu hendak melangkahkan kakinya untuk meninggalkan kamar tersebut.


Akan tetapi, tanpa kata Pelangi langsung memeluk tubuh sang suami dari belakang. Awan pun tersenyum melihat tingkah sang Istri. Namun, ia berusaha untuk bersikap biasa saja melihat tingkah konyol istrinya.


"Lepaskan aku!" titah Awan yang pura-pura marah.


Pelangi menggeleng-gelengkan kepalanya. "Tidak, aku tidak akan pernah melepaskan Om Awan!" ucap Pelangi dengan perasaan bersalah.


"Bukankah tadi kamu ingin lari dariku? Memang ini 'kan yang kamu inginkan?" tanya Awan seraya memasang wajah kecewa.


Pelangi semakin mengeratkan pelukannya. Gadis itu kini menyesal dan terus memeluk Awan dan tidak ingin melepaskan pelukannya.


"Tidak, Om! Aku ingin selalu bersama Om Awan, aku hanya takut tadi," ucap Pelangi dengan wajah sendunya.


Awan pun mengehela nafas. "Baiklah, sekarang lepaskan aku, aku mau tidur!" ucap Awan yang masih memasang wajah dingin.


Lalu, pria itu pun melepaskan tangan pelangi yang masih melingkar erat di perutnya dengan paksa. Lalu, pria itu melangkah menuju ranjang dengan Pelangi yang masih mematung di tempatnya.


Awan pun tidur membelakangi Pelangi, sementara Pelangi masih melamun dengan air mata yang menetes karena menyesali perbuatannya yang membuat sang suami kesal.


Pelangi menatap ke arah Awan, lalu ia mendekati sang suami dan memanggilnya, namun tidak ada jawaban dari pria itu hingga membuat Pelangi semakin merasa bersalah.


Pelangi yang tidak ingin membuat sang suami marah, ia kini melangkah menuju ranjang pengantin dan membaringkan tubuhnya di samping suaminya tersebut.


"Om ... !" panggil Pelangi merengek.


Namun tidak ada jawaban hingga membuat Pelangi nekat dengan menarik tubuh Awan, lalu menimpa tubuh suaminya tersebut.


Tanpa kata Pelangi langsung membenamkan ciumannya pada sang suami, hingga membuat Awan bersorak kegirangan dalam hati pria itu, karena ia telah berhasil menaklukkan istrinya tersebut.


...🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒...


Mungkin ada yang berkenan mampir ke karya author yang lain 👇👇👇👇



Mungkin ada yang berkenan mampir ke karya teman Othor juga 👇👇👇