Love You, Om!

Love You, Om!
Mengikuti Kemauan Papa



Setelah berdebat dengan Sky, Rainy kini duduk melamun. Wanita itu menatap taman yang terlihat indah dari arah balkon.


Rainy mengingat setiap ucapan demi ucapan yang Sky lontarkan yang seakan-akan wanita tidak menyayangi Pelangi.


Ucapan Sky sangat membuat ia terluka karena pada nyatanya Ia menyayangi Pelangi sama seperti putri kandungnya—Star.


*


*


*


Pelangi yang habis berdebat dengan Sky, ia mencari Rainy setelah mendengar sang papa menyalahkan mama tirinya tersebut. Lalu, ia tersenyum saat melihat Rainy kini duduk di Balkon yang mengarah pada taman.


Gadis itu pun melangkah mendekati sang mama, lalu memeluk leher wanita itu dari belakang. "Maafkan Pelangi, Ma!" ucap Pelangi dengan mata yang mengembun.


Rasa bersalah pada sang Mama, kini membelenggu dalam diri gadis itu, ia tidak menyangka bahwa kenekatan dia akan berdampak negatif pada hubungan papa dan mama tirinya yang sangat ia sayangi.


Rainy yang semula duduk melamun, ia langsung mendongak dan tersenyum seraya menatap putri kesayangannya tersebut.


"Sayang ... ? Sini duduk!" Rainy menarik lengan Pelangi dan menarik kursi di sebelahnya supaya Pelangi bisa duduk lebih dekat.


Akan tetapi, Pelangi bukan duduk. Tapi, gadis itu malah bersimpuh di hadapan Rainy sambil menangis dan memegang kaki Rainy.


"Maafkan Rainy Ma ... !" ucap Pelangi dengan perasaan bersalah yang mendalam.


Rainy pun terkejut melihat apa yang dilakukan Pelangi, wanita itu reflek ingin membantu Pelangi berdiri. Namun, gadis itu memegang kakinya erat hingga Rainy tidak bisa bergerak.


"Ma, aku mohon maafkan Pelangi."


Rainy pun menjatuhkan air matanya melihat Pelangi yang terlihat sangat kacau. Ia merasa bersalah setelah mengetahui yang sebenarnya.


Rainy tidak pernah menyangka bahwa Pelangi melakukan itu semua hanya untuk mengembalikan dirinya pada Sky.


"Sayang, bangunlah jangan seperti ini!" titah Rainy dengan suara lembutnya.


"Tidak Ma! Pelangi tidak akan bangun sebelum mama memaafkan Pelangi," ucap gadis itu dengan perasaan sedih yang mendalam.


"Kamu tidak perlu minta maaf, Nak! Mama sudah memaafkanmu Jauh sebelum kamu memintanya."


"Ayo bangun, Sayang! Jangan seperti ini." Rainy memegang pundak gadis itu dan membantunya berdiri.


Rainy yang sama sekali tidak menyalahkan Pelangi, membuat Pelangi semakin merasa bersalah dan memeluk wanita itu dengan begitu eratnya.


Sementara dari dalam kamar, Sky mendengar semua pembicaraan istri dan putrinya. Serta melihat kasih sayang yang begitu besar layaknya Ibu dan anak kandung.


"Maafkan aku, Rain! Aku menyalahkanmu tanpa mendengar apapun yang ingin kamu jelaskan. Tapi sekarang aku sadar, mengapa Pelangi lebih menyayangimu dibandingkan aku—Papa kandungnya." Sky menatap putri dan istrinya yang masih larut dalam pelukan hangat.


"Ayo duduk, Nak!" Rainy mendudukkan Pelangi di kursi kosong di seberangnya. Lalu, ia duduk kembali ke tempat semula dan menatap Pelangi dengan tatapan teduhnya.


"Cerita sama Mama, kenapa kamu bisa melamar Om Awan duluan?" tanya Rainy dengan suara lembut.


"Maafkan Pelangi, Ma! Dulu Pelangi janji sama Om Awan bahwa Pelangi akan menikah sama Om Awan jika Om Awan mengembalikan Mama, pada Papa dan Pelangi. Jadi, meskipun Om Awan menolak, Pelangi tetap mengejar Om Awan dan berharap Om Awan menerima aku agar aku tidak merasa hutang budi," ucap Pelangi dengan air mata yang terus menetes.


"Jadi kamu melakukan itu karena merasa hutang budi, bukan karena cinta?" tanya Rainy dengan tatapan sendunya.


"Aku mencintainya entah sejak kapan Ma! Tapi yang jelas, yang aku tahu cintaku hanya untuk Om Awan. Karena aku berharap, jika Om Awan bisa melupakan Mama dan aku dijadikan penggantinya, maka aku akan bahagia, karena aku tahu Om Awan tidak akan pernah mengkhianati jika sudah mencintai," ucap Pelangi.


Rainy pun juga terus meneteskan air matanya mendengar penjelasan putrinya tersebut. "Aku sudah tahu semuanya dari Om Arnold, tapi kenapa kamu harus melamar Om Awan lebih dulu jika sebelumnya dia sudah menolakmu, Nak?" tanya Rainy seraya menatap Pelangi dengan tatapan sendunya.


"Aku sudah berjanji pada Langit, bahwa aku akan berusaha mencintai dia jika Om Awan menolakku."


"Apa?" Rainy terkejut mendengar ucapan pelangi.


"Sayang, kenapa kamu memberi harapan pada Langit, Nak? Kamu tahu 'kan dia siapa? Mama tidak ingin kamu dan papa berurusan sama keluarga Galaxy jika sampai kamu menyakiti Langit." Rainy menatap putrinya dengan wajah sendunya.


"Keputusan itu lebih baik, aku akan bicara sama Devan untuk membicarakan pertunangan Langit dan Pelangi," ucap Sky yang tiba-tiba muncul di tempat itu.


Deg


Rainy dan Pelangi pun menoleh menatap Sky yang kini berdiri tidak jauh dari mereka. "Mas apa kamu sadar dengan apa yang kamu ucapkan?" tanya Rainy seraya menatap Sky lekat.


"Aku sadar Rain, sangat sadar. Selama ini aku membebaskan Pelangi melakukan apapun, tapi kali ini sepertinya aku harus ikut campur," ucap Sky dengan wajah datar tanpa ekspresi.


"Tapi Pelangi tidak mencintai Langit, Mas! Dia mencintai Kak Awan." Rainy menatap Sky dengan tatapan lekatnya.


Sky pun menatap Rainy lekat. "Dulu aku tidak mencintai kamu hingga aku menyakitimu berkali-kali, tapi karena terbiasa, akhirnya aku bisa mencintaimu melebihi apapun. Aku yakin, Pelangi pasti bisa mencintai Langit karena Langit adalah orang yang sangat mencintai Pelangi, sama seperti Kamu mencintai aku," ucap Sky.


"Cukup Ma, Pa! Aku mohon, kalian jangan bertengkar karena aku! Jika Papa menginginkan aku bertunangan dengan Langit, maka aku akan lakukan itu," ucap Pelangi seraya menatap Sky dengan tatapan tajam.


"Tapi Sayang ... !" Rainy menatap Pelangi sendu.


"Ma, percayalah pada Pelangi. Selama Mama ada bersama Pelangi, maka Pelangi tidak akan pernah merasa sedih dan sendirian. Karena Mama adalah kekuatan Pelangi," ucap Pelangi sambil menghambur memeluk wanita itu kembali.


Rainy pun mengangkat tangannya, lalu membalas pelukan Pelangi dengan begitu tulusnya.


Sky pun merasa terharu melihat kasih sayang Rainy pada Pelangi, Ia bersikap tegas pada dua wanita penting dihidupnya itu, hanya untuk kebahagiaan putrinya.


Ia merasa terhina saat Awan menolak putri kesayangannya itu di depan umum. Pria itu tidak rela, jika Pelangi disakiti bahkan diinjak-injak harga dirinya dihadapan orang banyak.


Sky yang tidak sanggup melihat kesedihan istri dan putrinya, ia memilih balik badan, lalu meninggalkan tempat tersebut sebelum air matanya juga ikut jatuh.


"Maafkan Papa, Nak! Maafkan Papa! Aku tahu kamu hanya menganggap Langit sahabat, tapi Papa percaya bahwa dia adalah orang yang paling tepat untuk kamu." Sky mengahapus setitik air matanya yang kini jatuh dan tidak bisa ditahannya.


Sementara Rainy dan Pelangi sama-sama menangis dan saling berpelukan erat.


...🌷🌷🌷🌷🌷...


...TBC ...