Love You, Om!

Love You, Om!
Menjaga Hati



Pagi harinya


Awan kini sudah siap untuk pergi ke rumah sakit. Pria itu tersenyum-senyum sendiri sambil menatap pantulan dirinya di depan cermin.


Awan terus mengingat kekonyolan Pelangi hingga membuatnya merasa terhibur setiap melihat tingkah aneh gadis itu.


"Ceroboh!" umpat Awan tanpa sadar saat bayangan Pelangi mengganggu pikirannya.


Rasa sedih yang terus menikam hatinya hilang seketika, saat melihat kehadiran gadis itu di kursi kerjanya.


Akan tetapi, ia terus berusaha menjauh agar ia tidak terjerumus ke jalan yang menurutnya salah. Karena tidak sepantasnya dia dan Pelangi menjadi sepasang kekasih, mengingat jarak umur yang begitu jauh.


Awan menggeleng-gelangkan kepalanya agar tersadar. "Seharusnya aku marah, tapi entah kenapa? Aku sudah terbiasa dengan sikap anehnya, dan hari-hariku rasanya berwarna setelah sekian lama aku terbelenggu dengan hidup yang rasanya tidak berguna."


Awan menghembuskan nafasnya kasar. "Seandainya dia tidak berpikiran untuk menikah denganku, mungkin aku tidak akan sekeras ini padanya," gumam Awan tersenyum.


"Bagaimana ya, caranya memberi dia pengertian? Bahwa aku dan dia tidak mungkin menjadi sepasang kekasih."


Awan terus berpikir agar Pelangi mau mengikuti ucapannya. "Aku hanya menganggap dia tidak lebih dari seorang anak, kita tidak mungkin bersatu sampai kapanpun, jadi aku harus memikirkan cara agar dia mau menjauh."


"Aku harus bisa menjaga hatiku agar aman dari rasa sakitnya cinta, aku tidak sanggup jika harus merasakan rasa sakit kehilangan untuk yang kedua kalinya."


Setelah itu, Awan beranjak dan meninggalkan kamarnya tersebut untuk pergi ke rumah sakit.


...****************...


"Pagi Om, Tante!" Langit kini berdiri di ambang pintu rumah Pelangi.


"Tumben kamu pagi-pagi sudah di sini? Ayo Nak. Sarapan!" Rainy tersenyum sambil menatap Langit dengan penuh kelembutan.


Rainy menggeleng-gelangkan kepalanya mendengar jawaban pria itu. Sementara Sky hanya tersenyum mendengar percakapan Langit dan istrinya.


"Oh iya Om, Tante ..., Pelangi mana?" tanya Langit yang tidak melihat sahabatnya di meja makan tersebut.


"Kak Pelangi lagi tidur, tadi aku bangunin malah di omelin sama Kakak," jawab Star seraya memanyunkan bibirnya.


"Ya sudah, sana kamu bangunin ke kamarnya! Mungkin dia mau bangun jika kamu yang bangunin, tapi Awas jangan macem-macem sama anak, Om!" ucap Sky tanpa menoleh pada Awan.


"Jika kamu macem-macem, maka Om berani menghukummu dengan hukuman yang tidak akan pernah bisa kau lupakan, sekalipun kamu bagian dari keluarga Galaxy—Orang terkaya di Negara ini." Sky menoleh serta menatap Langit tajam.


"Iya, Om! Langit janji nggak akan macem-macem sama Pelangi. Paling cuma satu macem doang," jawab Langit bercanda.


Akan tetapi, candaan Langit membuat Sky menatap Pria itu tajam. "Apa kamu bilang?" tanya Sky penuh penekanan.


Seketika Langit membungkam mulutnya sendiri, lalu ia lari menuju arah kamar Pelangi dengan wajah takut.


Sementara Star dan Rainy tertawa terbahak-bahak melihat wajah kesal Sky dengan Langit yang lari terbirit-birit.


"Keluarga Galaxy tingkahnya aneh-aneh, contohnya David dan Langit. Padahal Brian dan Devan tidak aneh seperti mereka. Jika Langit putranya David, mungkin aku tidak akan heran jika sikapnya begitu." Sky menggeleng-gelengkan kepalanya.


"David itu 'kan pamannya Langit, Mas? Jadi jangan heran jika tingkah mereka mirip."


...🌷🌷🌷🌷🌷...


...TBC...