Love You, Om!

Love You, Om!
Meresmikan Sebelum Pergi



Langit yang menyadari bahwa tidak ada sedikitpun pun cinta Pelangi untuknya, kini pria itu memutuskan untuk mengunjungi sebuah Danau, tempatnya dan Pelangi menghabiskan waktu bersama sejak kecil.


Dan saat sampai di tempat tersebut, ia melihat seorang gadis yang pernah ia temui tanpa sengaja di tempat itu.


Wanita itu berputar-putar sambil bernyanyi di pinggir Danau dan sesekali ia bermain air, dengan wajah riangnya gadis itu kini berhasil membuat Langit mengembangkan senyum.


...______***______...


Hatiku berkata ingin katakan cinta ...


namun aku malu untuk mengawalinya ...


Jantungku berdebar saat kau menatapku ...


jadi salah tingkah berjalan sama kamu ...


bibirku terbungkam melihat senyummu ...


aku tak kuasa saat di depanmu ...


Sebenarnya aku ingin mengungkapkan rasa


tapi mengapa aku selalu tak bisa


bagaimana caranya agar dirimu bisa tahu


kalau aku suka, suka, suka, suka sama kamu ...


...______***______...


Gadis itu terus berputar-putar layaknya anak kecil dengan Langit yang terus menatap tingkahnya.


"Akhirnya yang kucari kini kutemukan." Langit semakin melangkah mendekat, ia terus menatap gadis itu yang terus menari dan menyanyi tanpa beban.


Gadis itu tidak menyadari bahwa Langit memperhatikannya, hingga gadis tersebut terus tertawa sendiri.


Beberapa saat kemudian kaki gadis itu terpelintir dan langsung tercebur ke dalam air hingga berhasil membuat Langit tertawa terbahak-bahak.


Akan tetapi, beberapa detik kemudian tawa Langit memudar saat menyadari bahwa gadis itu tidak lagi menampakkan kepalanya, hanya tangan yang melambai-lambai seperti kode minta tolong.


"Aqila!"


Dengan wajah yang dipenuhi kecemasan, Langit langsung menceburkan tubuhnya ke dalam air tanpa pikir panjang.


Byurrr ...


Langit langsung berenang mencari gadis itu, hingga akhirnya ia menemukan Aqila di dalam air dengan mata yang terpejam.


Langit pun semakin cemas, ia langsung mengangkat tubuh Aqila dan hendak membawanya ke tepi.


Akan tetapi, sebelum tiba di tepi Danau, seketika tawa Aqila pecah hingga membuat Langit menyadari bahwa dirinya kini ditipu mentah-mentah oleh orang yang ditolongnya itu. Aqila yakin, setelah gadis itu berhasil menipu Langit, maka Langit akan sangat marah pada gadis itu.


Namun, yang terjadi malah sebaliknya. Langit kini tersenyum melihat tawa Aqila hingga membuat gadis itu seketika menghentikan tawanya karena tatapan Langit yang begitu teduh saat menatapnya.


Aqila menatap wajah Langit dengan penuh tanda tanya melihat reaksi Langit. "Kenapa kamu tidak marah?" tanya Aqila dengan wajah bingungnya.


Langit tersenyum mendengar pertanyaan dari wanita itu. "Aku tidak punya alasan untuk marah padamu."


Langit terus meneliti setiap inci dari wajah gadis tersebut. "Tanpa kau katakan, sekarang aku yakin bahwa kamu adalah Hujan." Langit menatap wajah Aqila lekat.


"Hujan?" tanya Aqila yang pura-pura tidak mengerti.


Gadis itu salah tingkah, lalu ia mengalihkan tatapannya dari Langit hingga membuat Langit semakin yakin bahwa Aqila dan Hujan adalah orang yang sama.


"Kamu tidak perlu bersandiwara lagi di hadapanku, aku tahu kamu Hujan. Entah namamu yang Asli itu Hujan atau Aqila aku tidak tahu, yang aku tahu kalian itu adalah orang yang sama," ucap Langit.


Aqila semakin salah tingkah. "Kamu ngomong apa sih? Nggak jelas!" Aqila langsung menjauhi Langit dengan gaya renang punggung.



Gadis itu memejamkan matanya dan terus berenang menjauh untuk menghindari pembicaraan tentang identitasnya.


Langit kini mengikuti Aqila hingga membuat jantung Aqila berdebar tak karuan. Gadis itu pun kembali ke tepi setelah menyadari Langit mengikutinya.


Begitu Aqila sampai di tepi Danau, ia langsung mengambil jaketnya dan menutupi tubuhnya yang kini basah kuyup. Begitu pun dengan Langit yang juga berenang ke tepi mengikuti Aqila.


"Aku tidak memaksamu untuk mengakui bahwa kamu adalah Hujan, tapi aku mohon jangan tinggalkan aku! Hanya kamu yang bisa membuatku melupakan rasa sakitku pada Pelangi."


Aqila yang mendengarkan ucapan Langit seketika memalingkan mukanya. "Maafkan aku, Kak! Aku tidak ingin memikirkan seorang pria. Aku tidak ingin merasakan sakit saat ditinggalkan oleh orang yang aku cintai."


Langit mengerutkan kening. "Kenapa kamu bisa berpikiran seperti itu?" tanya Langit.


Aqila kini melangkah melewati Langit, lalu ia menatap Danau, sementara Langit kini balik badan dan menatap Aqila yang kini memunggunginya.


"Aku sudah banyak melihat kekecewaan tentang cinta. Termasuk mommyku. Aku tidak ingin Kakak hanya menjadikanku sebagai pelampiasan hingga akan membuatku sakit."


"Mommymu? Memangnya kenapa dengan kisah orang tua kamu hingga membuat kamu trauma dengan cinta?" tanya Langit bingung.


Aqila tersenyum mendengar pertanyaan Langit. "Daddyku sudah meninggal."


Langit mengehela nafas mendengar Jawa Aqila. "Jika orang tuamu dipisahkan oleh maut, lalu kenapa kamu harus trauma? Tidak akan ada yang tahu tentang ajal kita kapan, karena yang kita tunggu di dunia ini adalah kematian," ucap Langit.


"Bukan begitu, Kak. Tapi karena aku tidak tega melihat kesendirian mommy, aku meminta mommy untuk menikah dengan orang yang dicintai mommy bahkan sebelum kenal dengan Daddy," lanjut Aqila.


"Terus?" tanya Langit yang semakin bingung.


Langit kini melangkah semakin mendekat dan berdiri di samping Aqila serta menatap gadis itu dari samping.


"Cinta mommy bertepuk sebelah tangan, bahkan hingga sekarang cinta mommy tetap begitu," ucap Aqila dengan wajah sendu.


"Terus apa persamaannya kamu dengan mommymu? Kenapa kamu memilih menjauhi pria karena takut kecewa?" Langit menyerang Aqila dengan beberapa pertanyaan.


"Banyak, Kak!" jawab Pelangi.


"Cintaku bertepuk sebelah tangan, sama seperti apa yang mommy rasakan." Aqila menoleh ke arah lain hingga Langit tidak bisa menatap mata gadis itu.


"Memangnya siapa orang yang kamu cintai?" tanya Langit dengan wajah seriusnya.


"Kakak tidak perlu tahu, aku akan menyimpannya sendiri dan biarkan ini menjadi rahasiaku saja!" ucap Aqila yang kini beralih menatap Langit dan tersenyum ke arah pria itu.


Langit yang mendengar jawaban Aqila, seketika Pria itu memegang kedua pundak Aqila dengan posisi keduanya saling hadap-hadapan.


Tatapan mereka bertemu dan saling tatap dengan begitu dalamnya. "Aku tidak memintamu untuk mencintaiku, tapi aku mohon berikan sedikit saja cintamu untukku, maka aku akan berubah!" ucap Langit penuh keseriusan.


Deg


"Berubah?" tanya Aqila terkejut.


"Iya, aku akan berubah. Aku janji, aku hanya akan mengingatmu di setiap langkahku, kita berusaha untuk melupakan orang yang kita cintai dan memulai hubungan kita untuk berusaha untuk saling mencintai yang seutuhnya." Langit menatap Aqila dengan begitu lekat.


"Aku tidak perlu berusaha mencintaimu lagi, Kak! Karena cintaku Memeng hanya untuk Kakak." Aqila membatin sambil menatap Langit tak kalah lekatnya.


"Kenapa kamu hanya diam? Apakah kamu tidak percaya?" tanya Langit.


"Ok! Baiklah. Jika kamu tidak bisa percaya padaku, kita segera tunangan dan aku akan mengatakan tentang rencana ini pada orang tua kita malam ini juga." Langit tidak mengalihkan tatapannya sedikitpun dari gadis itu.


"Apa?" Aqila terkejut.


"Aku serius," jawab Langit.


"Apa ini tidak terlalu buru-buru?" tanya Aqila dengan mata yang membola.


Langit tersenyum dengan kepala yang menggeleng pelan. "Tidak! Kali ini aku akan sangat serius.


Perlahan senyuman Aqila mengembang hingga membuat Langit sedikit lega karena ia yakin bahwa Aqila akan menerimanya melihat reaksi gadis tersebut.


Langit terus menatap Aqila dengan wajah yang dipenuhi keseriusan. "Aku akan melanjutkan pendidikanku di Paris. Aku ingin benar-benar melupakan Pelangi. Di sana aku hanya akan terus mengingat kamu," ucap Langit.


Sementara Aqila hanya terus tersenyum mendengar ucapan Langit, ia tidak menyangka bahwa orang yang ia cintai kini mau membuka hatinya tanpa ia duga.


"Dan sebelum aku pergi, aku ingin meresmikan hubungan kita dulu. Dengan bertunangan, kita akan selalu terikat."


"Bagaimana kamu bisa berusaha untuk mencintaiku, jika pada kenyataannya aku akan tetap di sini sementara kamu pergi?" tanya Aqila tersenyum.


"Meskipun kamu masih di sini, kita akan tetap berhubungan. Dan aku janji padamu, aku akan meninggalkan kenanganku bersama Pelangi di sini."


"Aku juga janji, bahwa aku tidak akan pernah menghubungi dia, dan aku akan selalu mengingatmu di setiap langkahku," ucap Langit dengan senyum tulusnya.


TBC