Love You, Om!

Love You, Om!
Rela Terluka



"Kak Awan!" teriak Rainy.


Pelangi yang mendengar teriakan sang mama, ia langsung menoleh dan seketika melebarkan matanya saat Sky hendak memukul Awan kembali.


"Stop Pa! Papa jangan lakukan ini lagi," ucap Pelangi yang kini memeluk sang papa erat untuk menghalangi pria itu.


"Lepaskan Pelangi, kamu tidak boleh menghalangi Papa!" sentak Sky dengan amarah yang meledak-ledak.


"Om Awan, lebih baik Om pergi dari sini! Cepat Om!" Pelangi terus memeluk Sky hingga membuat pria itu tidak bisa memukuli Awan dengan leluasa.


"Tidak, Pelangi! Aku tidak akan pernah pergi sebelum kamu dan keluargamu memaafkan aku," jawab Awan yang masih berdiri di posisinya dengan wajah sedihnya.


"Cepet, Om! Papa bisa membunuh Om, kalau Om masih di sini!" teriak Pelangi.


"Aku rela kehilangan nyawaku, jika itu yang bisa membuat Sky dan kamu memaafkanku," ucap Awan.


"Pelangi, lepaskan!" sentak Sky yang terus berusaha melepaskan pelukan sang putri.


"Kak Awan, lebih baik kamu pergi dulu untuk sekarang ini, sekarang bukan saat yang tepat untuk membicarakan tentang kalian," ucap Rainy.


"Sampai kapanpun aku tidak akan pernah memaafkannya, Rain! Sekalipun kamu yang memintanya!" ucap Sky yang masih dipenuhi amarah.


Sky yang semakin marah akhirnya mendorong tubuh Pelangi hingga hampir saja tubuh gadis itu terjerembab jika saja Rainy tidak menangkapnya.


Bug Bug Bug


Serangan bertubi-tubi terus Awan terima tanpa perlawanan. Pria itu pasrah Sky pukuli jika untuk menebus kesalahannya pada orang ia cintai.


"Cukup Pa!" teriak Pelangi yang tidak tega melihat Awan di penuhi dengan darah segar di area bibirnya.


"Mas, hentikan!" teriak Rainy yang mencoba memisahkan suami dan mantan tunangannya itu. Wanita itu kini mencoba menghalangi Sky dengan menghalangi Sky di depan pria itu.


Bug


Seketika tubuh Rainy hampir tersungkur dengan bibir yang berdarah jika saja Awan tidak menangkapnya.


"Mama!" teriak Pelangi terkejut.


"Mama!" teriak Pelangi yang langsung lari menghampiri wanita itu dan membantunya berdiri saat sang mama jatuh dalam pelukan Awan.


Sementara Sky terpaku melihat apa yang telah dia lakukan. Ia tetap berdiri di posisinya dan hanya melihat sang istri yang bibirnya kini dipenuhi cairan merah.


"Kamu rela terluka demi orang lain?" tanya Sky dengan wajah kecewa.


"Keterlaluan kamu Rain!" Tanpa menolong sang istri, pria itu langsung meninggalkan tempat tersebut karena rasa cemburu yang tidak bisa ia tahan.


"Mas, Tinggu!" teriak Rainy.


Wanita itu langsung mengejar Sky yang kini melangkah menuju pintu utama. Sementara Pelangi, langsung menatap ke arah Awan dengan tatapan datarnya.


"Lebih baik sekarang Om Awan pergi dari rumah ini sebelum semuanya semakin kacau. Aku tidak mau Papa dan Mama bertengkar karena, Om!" ucap Pelangi.


Setelah itu, Pelangi mengejar Sky dan Rainy menuju pintu utama dengan Awan yang masih terdiam memandangi punggung Pelangi yang melangkah menjauh. Lalu, gadis itu menoleh sebentar sebelum menutup pintu.


Beberapa Jam kemudian, Awan masih terdiam di halaman rumah Pelangi, bersamaan dengan air hujan yang kini mulai turun dan semakin deras.


Kilatan petir tidak mampu membuat pria itu melangkahkan kakinya untuk meninggalkan rumah tersebut.


Bahkan, air hujan kini telah berhasil menghilangkan darah yang menghiasi wajahnya karena pukulan Sky, pria itu terus berharap mendapatkan maaf dari Pelangi dan orang tuanya meskipun ia tahu, bahwa maaf dari Sky dan Pelangi tidaklah mudah.


Awan terus berdiri di posisinya, hingga pagi menjelang. Namun, ia masih berdiri di posisinya berharap Pelangi keluar rumah untuk memaafkannya.


Akan tetapi, harapan dia tidak terkabul, karena Ia kini kehujanan semalaman dengan Pelangi yang sama sekali tidak melihat keberadaannya.


______


Sementara Pelangi yang masih tidak bisa memejamkan matanya karena memikirkan kejadian yang ia alami. Gadis itu kini melangkah mendekati jendela dan berdiri di sana untuk menatap suasana di luar rumah ketika Matahari hampir terbit.


Dan betapa terkejutnya gadis itu saat mendapati Awan yang masih berdiri di posisinya sejak semalam sebelum ia masuk ke dalam rumahnya.


"Om Awan?" Pelangi langsung bergegas untuk menghampiri pria itu, namun saat Pelangi melewati kamar sang Papa, ia kini di tahan oleh Sky yang tiba-tiba muncul dari kamarnya seraya memegang pergelangan tangan putrinya tersebut.


"Mau kemana kamu?" tanya Sky dengan suara dinginnya.


"Aku ingin membawakan payung untuk Om Awan, Pa! Kasian dia sudah semalaman kehujanan," ucap Pelangi dengan mata sendunya.


Sky kini semakin mendekati putrinya, lalu berdiri di hadapan gadis tersebut. "Kamu berani membantah Papa?" Sky menatap Pelangi dengan tatapan tajamnya.


"Cukup, Mas! Mas Sky cukup salah paham padaku dan Kak Awan. Aku tidak ingin membelanya, tapi coba Mas pikirkan lagi, apa alasan dia menolak Pelangi sebelumnya?" Rainy tiba-tiba muncul dari balik pintu kamar.


"Iya, aku tahu. Karena dia masih mencintaimu dan dia tidak bisa menerima Pelangi karena dia juga ingin balas dendam padaku?" sentak Sky hingga membuat Rainy menutup kedua telinganya.


"Kak Awan tidak bisa menerima Pelangi Mas bilang? Sekarang coba lihat Kak Awan keluar, apakah dia di sana untuk menungguku?" tanya Rainy dengan wajah kecewa.


"Tidak, dia menunggu Pelangi, bukan menunggu orang yang telah dia Iklaskan di masa lalunya." Rainy menatap Sky lekat.


"Kamu tidak berhak ikut campur atas putriku!" ucap Sky yang berhasil membuat Rainy sangat terluka mendengarnya.


"Pelangi memang bukan putriku, tapi aku lebih menyayangi dia dibandingkan kamu menyayanginya, Mas!" ucap Rainy yang masih tidak mengalihkan tatapannya dari suaminya tersebut.


"Cukup Pa, Ma! Jika kalian masih berdebat karena Pelangi, maka Pelangi akan mengakhiri hidup Pelangi agar kalian tidak bertengkar lagi hanya karena Pelangi," ucap Pelangi yang sudah tidak sanggup mendengar pertengkaran orang yang Pelangi Sayangi.


Rainy yang mendengar ancaman sang Putri, ia langsung mendekati sang putri dan memeluk gadis itu erat serta menangis sejadi-jadinya.


"Maafkan Pelangi, Nak! Seharusnya Mama tidak datang dalam hidup kamu. Mama yang telah membuat hidup Pelangi hancur, Mama yang menghancurkan segalanya. Jika seandainya dulu mama tidak kembali ke Indonesia dan menetap di Swiss, mungkin saat ini kamu tidak akan pernah kenal sama Om Awan yang karena itu telah membuat kisah cintamu hancur sejak kecil," ucap Rainy dengan tangisan pilunya.


Deg


Seketika Awan tersadar dari ucapannya yang sangat keterlaluan pada sang istri, ia kini merasa bersalah dan menatap kedua wanita dihadapannya dengan tatapan sendunya.


Apa yang sudah aku lakukan? Seharusnya aku sadar, bahwa semua ini terjadi karena kesalahanku, bukan salah istriku. Kenapa aku selalu bodoh saat dalam situasi seperti ini? Seharusnya tadi aku tidak memukulinya, tapi mengajak bicara baik-baik bahwa Pelangi sudah dijodohkan dengan Langit.