Love You, Om!

Love You, Om!
Kasih Sayang Yang Sama



Dalam perjalanan pulang, Sky hanya diam dan fokus mengemudi dengan wajah datar tanpa Ekspresi hingga membuat suasana di mobil pria paruh baya itu begitu sunyi.


Begitu sampai di kediamannya. Sky langsung keluar mobil dan melangkah tanpa menyapa putrinya tersebut.


"Pa ... ! Maafkan Pelangi!" ucap Pelangi memelas sambil mengejar sang Papa dengan wajah memohon.


Sementara Sky tetap memasang wajah datar. Ia tidak habis pikir dengan jalan pikiran putrinya yang rela merendahkan diri hanya sebuah perjanjian konyol yang bahkan tidak di inginkan oleh orang yang dijanjikan.


"Kamu lupakan saja, Papa masih ingin melupakan apa terjadi hari ini. Jujur papa sangat kecewa padamu! Aku tahu kamu ingin balas budi, tapi tidak begini caranya."


Sky terus melangkah dengan Pelangi yang terus mengikuti pria itu dari samping, hingga kini keduanya melangkahkan kakinya memasuki rumah, sementara Pelangi masih berdiri di teras sambil menangis terisak-isak.


Rainy yang hendak menyambut kedatangan putri dan suaminya. Ia terkejut saat melihat wajah datar Sky dengan Pelangi yang hanya menangis di teras dengan kepala yang tertunduk.


"Mas ada apa ini?" tanya Rainy yang kini menghadang langkah suaminya.


"Kamu tanya saja pada putri kesayanganmu itu, apa yang dia lakukan hari ini." Sky melewati Rainy, lalu melangkah meninggalkan istri dan putrinya tersebut.


Rainy yang melihat Pelangi hanya menangis, ia langsung melangkah mendekati gadis itu, lalu memeluknya dengan begitu erat.


"Sayang ... kamu Kenapa, Nak? Kenapa Papa terlihat kecewa sama kamu? Apa yang kamu lakukan?" Rainy menyerang Pelangi dengan beberapa pertanyaan.


Wanita itu terus memeluk gadis tersebut untuk menenangkannya. "Mama harap kamu tidak melakukan sesuatu yang sangat fatal, selama ini papamu tidak pernah sekalipun marah, walaupun tingkahmu kadang-kadang memang aneh," ucap Rainy.


"Maafkan Pelangi, Ma! Maafkan Pelangi," ucap Pelangi yang terus menerjunkan air matanya dalam pelukan wanita tersebut.


Rainy memejamkan matanya, lalu meregangkan pelukan tersebut supaya ia bisa manatap wajah putri kesayangannya itu.


"Mama selalu percaya pada Pelangi, apapun kesalahan Pelangi, Mama pasti maafkan," ucap Rainy tersenyum sambil mengahapus air mata gadis itu.


"Terima kasih, Ma! Terima kasih," ucap Pelangi yang kini menghambur memeluk mamanya kemabli.


"Ya sudah, ayo masuk Nak! Jangan nangis di sini, Pelangi bisa menceritakan segalanya pada Mama, supaya hati Pelangi lebih tenang," ucap Rainy lembut.


Pelangi pun menganggukkan kepala dalam pelukan Rainy, lalu Rainy membawa gadis tersebut menuju kamarnya.


"Kamu bersihkan diri dulu, agar suasana hatimu tenang. Mama ingin menemui papa dulu sebentar," ucap Rainy tersenyum.


"Mama ... !" Pelangi memegang pergelangan tangan Rainy saat wanita itu hendak beranjak dari tempat duduknya.


Rainy menoleh, lalu tersenyum sambil duduk kembali di samping putrinya tersebut. "Kenapa, Sayang?" tanya Rainy seraya menatap putrinya lekat.


"Jangan sampai Mama berdebat sama Papa ya, Ma! Kali ini Pelangi memang sangat keterlaluan," ucap Pelangi dengan air mata yang terus terjun bebas.


Rainy tersenyum sambil menghapus air mata Pelangi kembali. "Sayang ..., Mama mohon, jangan keluarkan air matamu lagi! Mama tidak sanggup jika harus melihat air matamu. Kembalilah menjadi Pelangi yang ceria, dan selalu tersenyum setiap saat," ucap Rainy.


Pelangi mengembangkan senyumnya meskipun dengan air mata yang terus mengalir.


"Aku tidak pernah menyesal dengan apa yang aku lakukan hari ini, demi Mama aku rela melakukan apapun!" ucap Pelangi menghambur memeluk Rainy begitu erat.


Rainy mengerutkan kening karena ia tidak mengetahui tentang janji yang Pelangi ucapkan pada Awan.


"Apa maksudmu, Nak?" tanya Rainy seraya menjauhkan tubuh Pelangi hingga wanita itu bisa menatap wajah gadis itu lekat.


"Pelangi mandi dulu, Ma!" ucap Pelangi menghindar.


"Ya sudah, kalah begitu mama ingin menemui Papamu dulu, Sayang. Kamu mandi cepetan, nanti kita makan malam bersama. Tadi Mama sudah masak ke sukaan kalian," ucap Rainy dengan senyum lembutnya.


"Iya, Ma!" jawab Pelangi.


Setelah itu, Rainy beranjak dan melangkah keluar dari kamar gadis itu. Namun, sebelum Rainy menutupnya, wanita itu menatap ke arah Pelangi sambil tersenyum dengan penuh ketulusan.


Sementara Pelangi, ia menerjunkan kembali setelah bayangan Rainy menghilang dari balik pintu.


*


*


*


Sementara di kamar lain, Sky masih memasang wajah kesalnya. Bayangan Pelangi saat bertekuk lutut di hadapan Awan seakan menghantuinya.


"Brengsek!" umpat Sky dengan tangan yang terkepal.


"Kenapa, Sayang?" tanya Rainy yang tiba-tiba muncul dari balik pintu.


Sky menoleh, lalu pria itu beranjak dan berdiri di hadapan Rainy dengan memegang pundak sang istri serta menatapnya tajam.


"Kenapa? Kenapa kau membiarkan Pelangi melakukan hal seperti tadi, Kenapa Rain? Kenapa?" tanya Sky menggucang tubuh Rainy dengan wajah yang dipenuhi kekecewaan.


Deg


Rainy terkejut mendengar ucapan suaminya. Ia yang tidak mengetahui tentang apa yang terjadi pada Pelangi hingga membuat Sky begitu marah.


Wanita itu pun memilih diam dan masih mencoba mencerna dan memahami ucapan suaminya tersebut.


"Kenapa Rain? Kenapa?" tanya Sky seraya menatap wanita itu penuh kekecewaan.


"Memangnya apa yang dilakukan Pelangi Mas, hingga Mas sangat marah seperti ini?" tanya Rainy dengan tatapan sendunya.


Sky menatap Rainy geram. "Cukup Rain! Aku tahu, Pelangi melamar Awan duluan karena kamu 'kan yang mengajarinya?" tanya Sky dengan wajah yang masih dipenuhi dengan kekecewaan.


"Apa?"


Rainy terkejut mendengar tentang Pelangi, ia tidak pernah menyangka bahwa Pelangi bisa berbuat nekat lebih dari apa yang dia pikirkan.


"Aku memberimu kepercayaan, tapi kamu malah menyia-nyiakan kepercayaanku," ucap Sky yang masih menatap Rainy kecewa.


Sementara Rainy, merasa sangat terluka mendengar ucapan suaminya. Ia hanya menundukkan kepalanya dengan air mata yang susah dibendung karena ucapan Sky yang menusuk.


"Maafkan aku, Mas! Maafkan aku. Aku memang bukan Mama kandung Pelangi, tapi aku sangat menyayanginya, sama seperti aku menyayangi Star."


Rainy yang tidak sanggup melihat tatapan kecewa Sky, ia menurunkan tangan Sky dari pundaknya.


Lalu, wanita itu melangkah keluar dari kamar meninggalkan Sky yang masih dikuasai oleh emosi.


...🌷🌷🌷🌷🌷...


...TBC...