Love You, Om!

Love You, Om!
Kepercayaan Yang Hilang



Beberapa hari kemudian.


Arnold kini datang ke rumah sakit, pria itu kini duduk di kursi Awan, dengan Awan yang duduk di meja kerjanya.


"Bagaimana, apa kamu sudah yakin untuk melamar Pelangi?" tanya Arnold seraya memutar-mutar kursi yang ia duduki.


Awan beranjak, lalu melangkahkan kakinya mengelilingi kursi yang di duduki Arnold, lalu ia duduk di kursi seberang pria tersebut.


"Awan! Aku bukan tidak ingin membantumu, tapi kalau menurutku mungkin lebih baik kamu berjuang dulu, jangan langsung melamar."


Awan menaikkan sebelah alisnya sambil menatap Arnold dengan wajah datar tanpa ekspresi.


"Aku yakin, jika kamu melamar Pelangi tanpa mendapatkan maaf dulu dari Sky, kamu pasti akan langsung ditendang," ucap Arnold tersenyum tipis.


Sejenak Awan terdiam, pria itu memikirkan ucapan sahabatnya tersebut. "Kamu benar, Ar! Mungkin lebih baik aku harus berjuang lagi untuk mendapatkan Maaf dari Sky dan Pelangi."


Arnold pun langsung menggebrak meja kerja Awan hingga membuat pria itu terkejut. "Nah, begitu dong!"


"Pokoknya nanti kalau ada apa-apa, kamu kabari aku saja!" ucap Arnold.


Pria itu beranjak dan melangkahkan kaki untuk meninggalkan ruangan tersebut. Akan tetapi, Arnold menghentikan langkahnya saat mendengar suara Awan.


"Mau kemana kamu?" tanya Awan sambil menatap Arnold dengan menaikkan sebelah alisnya.


"Aku mau ke kantor, memangnya aku kurang kerjaan harus menemanimu patah hati di sini?" tanya Arnold tanpa menoleh pada sahabatnya tersebut.


Lalu, pria itu melanjutkan langkahnya kembali, dan pria itu pun tidak sengaja berpapasan dengan Helena hingga membuat pria itu langsung menarik hidung wanita itu dengan begitu kencang hingga hidung wanita itu pun memerah.


"Arnold ... ?" Helena melebarkan matanya dan langsung memeluk tubuh pria itu dengan begitu erat.


"Helen ...? Kamu kerja di sini sekarang?" tanya Arnold saat mereka melepaskan pelukannya.


"Kamu mau kemana? Kita belum ngobrol-ngobrol, aku kangen pengen ngumpul sama kalian seperti dulu," ucap Wanita itu dengan senyum yang mengembang.


"Kapan-kapan saja! Aku masih ada meeting, lebih baik kamu temani sahabatmu tuh! Dia lagi patah hati." Arnold menoleh, seraya menatap Awan yang sedang menatapnya penuh kekesalan.


Helena pun mengembangkan senyumnya. "Dia sudah terbiasa patah hati, jadi dia tidak akan kenapa-kenapa! Kamu jangan khawatir." Helena menepuk-nepuk pundak sahabatnya tersebut.


"Ya sudah, aku pergi dulu. Kita ketemu lagi kapan-kapan, sekalian aku ingin mengenalkan istri dan putraku padamu," ucap Arnold tersenyum tipis.


"Oke! Aku tunggu kabar darimu! Sekalian aku ingin mengenalkan kamu juga pada Putriku," ucap Helena.


"Ya sudah, sampai jumpa!" ucap Arnold seraya menatap Helena, lalu melanjutkan langkahnya tanpa menoleh pada Awan yang masih frustasi dengan masalah yang harus pria itu hadapi.


Sementara Helena langsung melangkahkan kakinya mendekati Awan Setelah bayangan Arnold menghilang di balik pintu.


Wanita itu kini duduk di seberang kursi yang di duduki oleh Awan sambil menatap pria itu lekat. "Aku akan membantumu untuk menjelaskan semuanya pada Pelangi."


Awan menghembuskan nafas kasar. "Aku tidak yakin bahwa dia akan mendengarkanmu, karena sepertinya dia sangat terluka," ucap Awan dengan wajah sendu.


"Kita belum mencobanya, dengan diam kamu tidak akan bisa menyelesaikan masalahmu," ucap Helena.


Awan menatap wanita itu lekat. "Baiklah, tapi aku akan berusaha lebih dulu untuk mendapatkan kepercayaan Pelangi lagi," ucap Awan dengan wajah datar.


Helena terus mengembangkan senyum seraya menatap Awan lekat. "Tapi kamu harus sabar, karena kepercayaan yang hilang, akan sangat sulit untuk mengembalikannya," ucap Helena.


...🌷🌷🌷🌷🌷...


...TBC...