
"Pulang!" sentak Sky dengan wajah merah padam.
Pria paruh baya itu menarik lengan putrinya kasar hingga membuat Awan reflek ingin menegur Sky, namun pria itu sadar bahwa Sky melakukan hal itu karena amarah pada dirinya.
"Aku mohon, Pa! Jangan pukul Om Awan. Ini semua salah Pelangi," ucap Pelangi dengan air mata yang kini mengalir membasahi pipi gadis itu.
Sementara Awan masih berdiri di posisinya sambil menahan rasa kebas karena pukulan dari Sky.
"Dengar Pelangi, selama ini Papa sudah memberimu kesempatan untukmu, tapi bukan untuk merendahkan diri di hadapan pria bajingan ini, kali ini kamu benar-benar keterlaluan!" sentak Sky dengan kemarahan yang membuncah.
Deg
Pelangi terkejut mendengar ucapan sang Papa. "Apa maksud Papa?" tanya Pelangi dengan air mata yang mengalir begitu saja mendengar ucapan sang Daddy.
Gadis itu kini menatap wajah Sky dengan tatapan begitu lekatnya. Ia tidak menyangka bahwa daddynya tersebut mengetahui tentang apa yang dia lakukan setelah pulang kampus.
"Papa tahu segalanya. Meskipun Papa diam, bukan berarti Papa tidak tahu apa-apa, Papa bukan orang bodoh yang percaya setiap alasan yang kamu berikan pada Papa saat pulang telat."
Sky menarik Pelangi dan menaruh tubuh gadis itu dibelakang punggungnya. Pria paruh baya itu kini mendekati Awan dan berdiri di hadapan pria itu, hingga keduanya saling tatap tanpa ada yang mengalihkan pandangannya sedikit pun.
"Kamu?" Sky memegang kerah kemeja Awan dengan Awan yang hanya diam dan pasrah dengan apa yang akan dilakukan Sky. Ia sadar bahwa ia terlalu menyakiti Pelangi.
"Aku pikir, selama ini kamu orang baik dengan melepas Rainy padaku, dan aku pikir kamu ikhlas, benar-benar ikhlas. Tapi ternyata, kamu memakai cara licik, kamu hancurkan hati putriku karena dendammu padaku. Iya 'kan?" sentak Sky dengan suara yang menggelegar.
"Cukup Sky! Ini rumah sakit, kita sudah menjadi tontonan dari tadi, kita bisa bicarakan ini semua baik-baik," ucap Awan mencoba memberi pengertian.
Sky menoleh, menatap orang yang berada di sekitarnya dan melepas kerah kemeja pria itu. "Pergi kalian! Atau aku hancurkan kalian satu persatu!" Ancam Sky dengan wajah yang berapi-api.
Seketika taman itu menjadi sepi, orang-orang yang berkerumun di taman tersebut kini menjauh dan memilih meninggalkan taman, karena mereka tahu siapa yang tengah mengusirnya tersebut.
"Pa, kita pulang yuk!" ajak Pelangi, hendak mendekati sang Papa yang sedang dikuasai amarah.
"Tidak! Kamu begini karena kamu sangat menyayangi mamamu, hingga kamu rela merendahkan diri pada pria brengsek ini!"
Bug ...
Sky memukul Awan kembali hingga membuat Pelangi semakin terkejut dan berdiri di hadapan Sky hingga gadis itu berada ditengah-tengah Awan dan Papanya tersebut.
"Cukup Pa!" ucap Pelangi sambil merentangkan kedua tangannya dengan wajah memohon.
"Minggir! Aku akan membalas semuanya. Aku tidak terima kamu diperlakukan seperti sampah oleh pria brengsek itu!" sentak Sky dengan kemarahan yang tak kunjung reda.
"Stop! Cukup! Semua ini salah Pelangi, Pelangi yang terlalu memaksa. Pelangi janji, setelah ini Pelangi akan menjauhi Om Awan, Pelangi janji, Pa! pelangi janji," ucap Pelangi dengan air mata yang tak terbendung.
Pria itu kini menundukkan kepalanya, karena ia sadar bahwa semua itu terjadi karena kesalahannya di masa lalu.
Sementara Awan merasa bersalah dan menyesal karena tidak pernah memberi Pelangi sedikitpun kesempatan untuk mendekat.
Ia berpikir bahwa umurnya dan umur Pelangi yang terpaut begitu jauh, tidak akan membuat Sky percaya bahwa ia juga mencintai Pelangi.
Akan tetapi kenyataannya berbeda, justru penolakannya yang membuat Sky terluka hingga membuat Sky berpikir bahwa ia sengaja menyakiti Pelangi karena Dendam.
Pelangi yang tidak tega melihat tangisan sang Papa, ia langsung menghambur memeluk Sky hingga membuat pria itu semakin menerjunkan air matanya sambil membalas pelukan putrinya tersebut.
Awan yang merasa bersalah, ia memejamkan matanya, dan ia menatap sepasang ayah dan anak itu yang kini saling berpelukan.
"Kenapa jadi seperti ini? Aku akan minta maaf pada mereka, dan aku akan mengatakan alasan yang sejujurnya, mengapa aku menjauhi Pelangi selama ini." Awan membatin.
Setelah puas menangis, Sky melerai pelukannya, lalu menghapus air mata sang putri dengan Pelangi yang juga menghapus air mata pria paruh baya itu.
"Kita pulang, Nak! Jangan sampai Mamamu tahu kalau kamu melakukan hal bodoh seperti tadi," ucap Sky tersenyum sendu.
Pelangi pun menganggukkan kepalanya dengan senyum yang dipaksakan. "Iya, Pa! Kita pulang. Aku janji, aku tidak akan mengecewakan papa lagi," ucap Pelangi.
"Maafkan aku," ucap Awan menatap Sky dan Pelangi dengan perasaan bersalah.
"Maaf itu mudah saja, tapi kamu tidak akan pernah bisa menghapus kejadian tadi dengan maafmu," ucap Sky menahan amarah.
"Pa! Yang tadi lupakan saja! Om Awan tidak memaksaku untuk melakukan hal itu. Aku tahu dia akan menolakku, aku melakukan itu memang untuk perjuangan terakhirku."
"Jika memang Om Awan masih menolak, setidaknya itu sudah setimpal dengan rasa hutangbudi karena mengembalikan mama pada kita," ucap Pelangi tersenyum.
"Tapi aku ... !"
"Aku ngerti kok, Om!" potong Pelangi tanpa mendengarkan lanjutan ucapan pria itu.
"Ayo Pa! Kita pulang!" ajak Pelangi seraya menarik pergelangan Sky hingga membuat pria itu mengikuti langkah putrinya.
Sementara Awan hanya menatap kepergian Sky dan Pelangi dengan kesedihan yang mendalam. Ia menyesal karena ia memilih menghindar dibandingkan memperjuangkan cintanya.
"Tapi aku mencintaimu, Pelangi. Aku mencintaimu." Awan membatin sambil menatap langkah Sky dan Pelangi yang kini menjauh.
...❤️❤️❤️❤️❤️...
...TBC ...