
Pelangi yang sudah tiba di ruangan Awan, kini gadis itu merasa kecewa saat mengetahui dari salah satu dokter bahwa Awan sama sekali tidak datang ke rumah sakit.
"Apa benar ya, yang aku lihat itu Om Awan?" Pelangi melangkah mendekati kursi kerja Awan dan duduk dengan wajah penuh pertanyaan.
Gadis itu menatap sekeliling ruangan, lalu ia membuka-buka laci meja kerja Awan, dan ia melihat-lihat isi dari laci tersebut hingga ia menemukan sebuah kotak yang terlihat sangat terawat.
Pelangi mengerutkan kening, lalu membuka kotak tersebut karena penasaran dengan isinya. Setelah Pelangi melihat isi dari kotak tersebut, gadis itu pun mengembangkan senyumnya.
"Mama?" Pelangi mengambil foto itu, lalu mencium foto itu penuh kasih sayang.
"Aku tahu Om Awan sangat mencintai mama, hingga dia tidak bisa menerima perempuan lain selain mama. Pelangi terus mengembangkan senyum sambil terus menatap foto Awan dan mama tirinya tersebut.
Setelah itu, Pelangi mengambil foto berikutnya, ia tersenyum saat melihat Awan dengan Rainy dalam foto itu.
Rainy duduk di sebuah kursi panjang dengan memegang setangkai bunga mawar merah. Wanita itu dalam posisi menatap lurus ke depan dengan wajah datar tanpa ekspresi, sementara Awan tersenyum lembut dan duduk di samping Rainy sambil menatap Rainy penuh cinta.
"Ternyata mama begitu mencintai Papa. Di foto ini menunjukkan bahwa ada kesedihan di mata mama, meskipun di saat itu ada Om Awan yang sangat mencintai mama."
Pelangi mengambil foto berikutnya, ia kembali mengembangkan senyum saat melihat Arnold menatap wajah Awan dengan begitu tajam.
"Om Arnold yang galak. Bagaimana kabar dia sekarang ya? Sudah lama aku tidak melihat Om Arnold, karena Om Arnold sepertinya sangat sibuk." Pelangi tersenyum.
Pelangi terus menatap foto itu dengan senyum yang tak memudar. "Apa mungkin sekarang sifat mereka ketukar ya? Dulu Om Awan sangat manis, sedangkan Om Arnold galak, tapi kenapa yang aku lihat sekarang berbeda?" Pelangi mengetuk-ngetuk sebelah tangannya pada meja kerja Awan.
"Ah sudahlah, ngapain aku pikirkan? Lebih baik aku memikirkan bagaimana caranya untuk membuat Om Awan mencintaiku," gumam Pelangi dengan senyum yang mengembang.
Tes ...
Setitik air mata Pelangi jatuh seketika setelah mengingat apa yang ia lihat. "Di sini kamu tersenyum lepas Om, tapi kenapa kalau di depanku kau seperti gunung es yang sulit untuk kucairkan?" gumam Pelangi tersenyum sendu.
Pelangi mengehembuskan nafasnya perlahan. "Tapi aku tidak akan menyerah begitu saja. Sebelum kamu menjadi milik dia, aku akan tetap memperjuangkanmu sekalipun kamu tidak menginginkannya!" Pelangi tersenyum sambil membersihkan sisa-sisa air matanya yang sempat jatuh.
Setelah itu, Pelangi langsung mengembalikan foto-foto yang lihat, ia tidak ingin sakit hati lebih dalam lagi, jika ia menemukan sesuatu yang membuatnya kecewa.
"Lebih baik aku kembalikan ke tempatnya, lagi pula aku terlalu lancang karena telah membuka sesuatu yang seharusnya tidak aku buka," ucap Pelangi tersenyum sendu.
Setelah itu, Pelangi merapikan meja kerja Awan dan berdiri dari kursi kebesaran pria itu sambil tersenyum dengan wajah cerianya.
"Saat ini kamu memang belum mencintaiku, Om! Tapi saat kamu mencintaiku, maka aku tidak akan pernah membiarkanmu lepas. Aku akan menjagamu dengan sangat baik, karena aku akan selalu mengingat, bagaimana perjuanganku untuk mendapatkanmu saat ini."
"Seandainya bukan karena janji, mungkin aku akan memilih pergi dan mencari cinta yang baru, karena jujur ... aku sudah mulai lelah," gumam Pelangi.
Gadis itu pun beranjak dari tempat tersebut, lalu melangkah kakinya menuju pintu keluar, membawa kesedihan yang kini hinggap di relung hatinya.
...🌷🌷🌷🌷🌷...
...TBC ...