
Setelah kepergian Pelangi, Langit duduk di kursi panjang di taman kampusnya. Pria itu duduk melamun dengan tatapan lurus ke depan.
"Nih buat kamu!"
Seorang gadis cupu yang sempat membuat pria itu kesal kini duduk di sampingnya sambil memberikan sebuah eskrim dengan sebelah tangannya tanpa menatap wajah pria tersebut.
Langit menoleh serta menatap gadis itu dengan wajah kesalnya. "Tikus Hutan?"
Dengan kening yang mengerut gadis itu menatap Langit penuh tanya. "Tikus Hutan?
"Maksudku Hujan." Langit mengalihkan tatapannya dari gadis tersebut.
Hujan yang mendengar ucapan Langit hanya tersenyum tipis. "Jika kau memanggilku Tikus Hutan, apakah aku boleh memanggilmu Kucing Liar?"
Langit langsung menoleh dan menatap wajah Hujan dengan wajah terkejut. "Kucing Liar? Apa tidak ada panggilan yang lebih keren.
Hujan tersenyum sambil menatap Eskrim yang tidak ditolak ataupun di terima oleh pria itu. "Jadi kamu nggak mau nih eskrimnya?" tanya Hujan seraya mengangkat sebelah alisnya.
Langit menoleh dan menatap eskrim yang masih di pegang oleh gadis tersebut. "Ada apa angin apa Lo sok baik sama gue?" Langit langsung merampas eskrim tersebut dari tangan Hujan dengan kasar.
Setelah itu, Langit langsung memakannya dengan wajah yang masih murung hingga membuat Hujan tidak tega melihat wajah sedih pria tersebut.
"Maaf, kemaren aku terlalu kasar sama kamu, aku hanya tidak suka dipaksa oleh siapapun," ucap Hujan tersenyum tipis.
Langit berhenti memakan eskrimnya, lalu ia menoleh pada Hujan serta menetap gadis itu dengan penuh pertanyaan.
"Memangnya ada apa dengan Aqila? Apakah dia orang penting? Bahkan kamu mengira aku Aqila, padahal selama ini kamu tau kalau aku itu Hujan—orang paling jelek di kelas." Hujan tersenyum.
Langit kembali memakan eskrimnya sambil menatap lurus ke depan dan mengingat senyuman gadis yang ia kenal sebagai Aqila hingga membuat pria itu tanpa sadar mengembangkan senyumnya.
"Aku bertemu dengannya di Danau, dan aku merasakan ada rasa yang berbeda. Entah itu rasa apa? Yang jelas meskipun pertemuan kita sebentar, tapi aku merasa hatiku tenang saat menatapnya."
Langit mengehela nafas sambil terus mengembangkan senyumnya. "Aku sempat berpikir, bahwa aku jatuh hati padanya dan aku berharap dia adalah jawaban dari doaku," ucap Langit tersenyum.
"Lalu, bagaimana dengan Pelangi?" tanya Hujan seraya menatap Langit lekat.
Langit terdiam, seketika wajahnya murung dan tersenyum sendu. "Dia sahabatku, aku sangat mencintainya, tapi dia terlalu jauh untuk kugapai."
"Aku rasa, sampai kapan pun aku tidak akan pernah bisa menyentuh hati Pelangi, karena dia sendiri yang menutup pintu hatinya untuk siapapun, kecuali seseorang yang dia cintai sejak kecil."
"Setiap doaku, aku selalu minta pada Tuhan untuk mengahapus rasa cintaku pada Pelangi dan menggantikan dengan seseorang yang juga bisa mencintaiku," ucap Langit tersenyum sendu sambil menundukkan kepalanya.
"Aku pikir hanya Aqila yang bisa menyembuhkan lukaku, karena saat pertemuan itu aku merasakan sesuatu yang aneh, sama seperti apa yang kurasakan saat bersama Pelangi." Langit mengembangkan senyumnya, sementara Hujan hanya diam, mendengarkan ucapan pria tersebut.
"Maafkan aku, Kak Langit. Aku tidak bisa bilang bahwa aku memang Aqila, aku tidak ingin kecewa jika aku melanjutkan perasaanku yang harus ku kubur. Kita jauh berbeda, dan aku rasa kita tidak mungkin berjodoh karena Kak Langit lebih cocok dengan Pelangi." Hujan membatin sambil menatap wajah Langit lekat.
...🌷🌷🌷🌷🌷...
...TBC...