Love You, Om!

Love You, Om!
Pernikahan Pelangi



"Papa?"


Sky melangkahkan kakinya mendekati sang putri, lalu merangkulnya dan menatap Awan yang kini berdiri di hadapan gadis tersebut.


"Iya, aku akan merestui kalian dengan syarat, Awan tidak boleh menyakiti Pelangi lagi, jika sampai itu terjadi, maka sampai kapanpun, aku tidak akan pernah memaafkannya." Sky menatap Awan lekat.


"Siap calon ayah mertua, aku janji aku akan menjaga putri Anda sebaik mungkin." Awan tersenyum tipis.


"Jangan lupa, kamu juga harus menghormati aku sebagai ibu mertuamu." Rainy tiba-tiba muncul dari arah pintu utama seraya mendekati ketiga orang tersebut.


"Iya, Ma!" jawab Awan pasrah.


Baik Sky, Rainy maupun Pelangi tertawa bersama mendengar panggilan dari pria tersebut.


________


Satu bulan kemudian.


Kini pernikahan Awan dan Pelangi digelar dengan begitu megah di salah satu hotel ternama di kota tersebut.


Wajah semua orang begitu tampak bahagia, kecuali Langit yang terus memaksakan senyumnya menahan sakit karena ditinggal orang-orang yang ia cintai, hingga pria itu memilih untuk pergi lebih dulu dari resepsi pernikahan tersebut karena ia akan berangkat ke Paris untuk melanjutkan pendidikannya di sana.


Baik Devan maupun Catherine tidak melarang kepergian sang putra, karena di sana ada David—Kakak kandung Devan.


Sementara Awan dan Pelangi kini dipenuhi kebahagiaan hingga kini tiba saatnya sepasang suami istri itu melempar bunga pada para tamu undangan.


Saat Awan dan Pelangi melempar bunga, Mentari kini langsung menangkap bunga tersebut, ia tidak berniat ingin menangkap bunga itu, tapi bunga tersebut tertuju padanya.


Ia tidak menyangka bahwa bunga tersebut akan jatuh ke arahnya. Mentari berdiri di antara kerumunan orang banyak hingga tanpa sengaja wanita itu langsung menangkap bunga tersebut dan jatuh ke pelukan seseorang karena ia belum siap.


Mentari yang jatuh pada tubuh seseorang itu, ia kini mendongak. Lalu, manatap pria itu dengan begitu lekat.


Mentari terus menatap Gala penuh kerinduan, begitu pun sebaliknya, hingga mereka kini menjadi pusat perhatian di pesta tersebut.


"Mentari!" Suara seseorang memecah kesunyian yang disebabkan oleh Gala dan Mentari.


"Demian?" gumam Mentari saat ia menatap seseorang yang kini memanggilnya.


Sementara pria itu melangkah mendekat dan menarik tubuh wanita itu hingga kini Mentari berada di posisinya. Ia tidak terima melihat Mentari di sentuh oleh pria lain di keramaian, karena ia tidak mau harga dirinya diinjak-injak oleh wanita tersebut.


"Mohon maaf!" Demian menarik pergelangan tangan Mentari menjauh dari keramaian, lalu menatap wanita itu dengan wajah merah padam.


"Kita belum resmi bercerai, kau masih istriku, beraninya kau memeluk pria lain di depan umum?" bisik pria yang baru datang itu seraya berdiri di samping Mentari.


"Gala tidak memelukku, dia hanya menolongku saat hendak jatuh tadi."


"Terus di tanganmu ini apa?" tanya Demian.


"Bunga," jawab Mentari dengan wajah datar tanpa ekspresi.


"Jadi kalian sengaja ingin menangkap bunga ini bersamaan, pasti karena kalian sudah tidak sabar ingin segera menikah 'kan?" tanya pria tersebut.


"Jika memang iya, kamu pun tidak berhak untuk melarangnya, jangan lupa kalau sebentar lagi kalau kita akan resmi bercerai," ucap Mentari yang menatap pria tersebut dengan tatapan yang begitu tajam.


Sementara di tempat lain, Langit yang merasa kehilangan orang-orang yang ia cintai, ia memilih pergi lebih dulu sebelum acara selesai.


Pria tersebut ingin melanjutkan pendidikannya di luar negeri. Devan dan Catherine pun menyetujui keputusan Langit karena mereka lebih mengutamakan kepentingan orang yang mereka cintai.


END