
Setelah pulang dari kampus, Pelangi langsung ke rumah sakit seperti biasa. Namun, wajah gadis itu muram saat mendapati Awan tidak ada di ruangannya.
Pelangi pun menunggu hingga satu jam. Akan tetapi, pria itu tidak kunjung datang hingga akhirnya Pelangi memejamkan mata dengan air setitik cairan bening yang kini jatuh tanpa permisi.
"Selama ini aku sudah berjuang, tapi mungkin aku terlalu memaksakan diri untuk memilikinya. Jika memang dia lebih bahagia dengan wanita lain, seharusnya aku tidak begini. Aku harus ikhlas dan tidak boleh kecewa. Aku memang pernah berjanji, tapi mungkin janjiku yang salah. Karena orang yang kujanjikan nyatanya sangat tidak menginginkan janjiku itu." Pelangi membatin.
Setelah itu, Pelangi membuka matanya lalu melangkah meninggalkan ruangan Awan dan keluar menuju sebuah restoran di seberang rumah sakit.
Begitu gadis itu sampai di restoran, Pelangi semakin terluka saat mendapati Awan yang ternyata lagi tertawa lepas dengan seorang wanita yang seumuran dengan pria tersebut.
Dengan menahan sedih, Pelangi mengembangkan senyumnya sambil melangkah mendekati meja Awan dah dokter wanita yang baru ia lihat itu.
"Om Awan!" panggil Pelangi seraya berdiri di samping pria tersebut.
Awan menoleh, lalu ia langsung menatap Pelangi dengan wajah datarnya. "Ngapain kamu ke sini?" tanya Awan.
Pelangi menerbitkan senyumnya, ia tidak ingin terlihat putus asa di hadapan orang lain, meskipun ia merasakan sakit, tapi ia terus menahannya.
"Tadi aku ke rumah sakit ingin menemui Om, tapi ternyata Om di sini," ucap Pelangi dengan wajah cerianya.
"Helen, ayo kita kembali ke rumah sakit!" Awan pun menggenggam tangan sahabatnya itu sambil tersenyum untuk memanas-manasi gadis tersebut.
Sementara Helena hanya tersenyum kaku, karena ia tidak tega melihat senyuman Pelangi yang memudar saat mendengar panggilan Sayang dari sahabatnya tersebut.
Awan hendak beranjak dari tempat duduknya. Namun, ucapan Pelangi membuatnya bungkam.
"Beri aku kesempatan bicara sekali lagi, Om! Setelah ini, aku akan pergi jika memang Om Awan tidak menginginkanku," ucap Pelangi penuh harap.
Deg
Awan terkejut mendengar ucapan Pelangi, karena biasanya gadis itu tidak kenal lelah dan tidak pernah berniat ingin menyerah sekeras apapun dia menolaknya.
Akan tetapi, pada saat itu ia mendengar Pelangi akan menjauh tanpa paksaan seperti biasanya.
"Berikan dia kesempatan," ucap Helena tersenyum.
Lalu wanita itu pun beranjak dan melangkah pergi meninggalkan Awan dan Pelangi. Sementara Pelangi langsung mendekati Awan dan mengajak pria itu bicara di taman rumah sakit.
Begitti sampai di sana, gadis itu pun memainkan air kolam di pinggiran air mancur, hingga membuat Awan tersenyum sangat tipis hingga Pelangi tidak dapat melihatnya.
"Apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Awan yang berdiri di dekat gadis itu.
Pelangi pun menoleh, lalu menarik pria tersebut hingga pria itu duduk di sampingnya. "Aku hanya butuh waktu Om Awan sebentar," ucap Pelangi tersenyum.
Awan mengerutkan kening karena ia tidak mengerti dengan ucapan Pelangi. Dia hanya menerka-nerka dengan apa yang terjadi pada gadis tersebut.
"Aku tidak punya waktu banyak. Katakan apa yang ingin kamu katakan? Atau aku pergi sekarang!" ancam Awan dengan wajah datar.
Sementara Awan semakin bingung dengan tingkah Pelangi karena gadis itu terlihat sangat berbeda.
Awan terkejut sejak kedatangan gadis itu dengan penampilan yang berbeda. Pelangi tidak biasanya memakai dress dengan sebuah jaket kulit hitam yang kebesaran di tubuhnya. Pria itu dapat menebak bahwa Pelangi akan terlihat sangat **** jika saja jaket kulit itu tidak menutupi tubuhnya.
Awan berdiri dan memperhatikan gadis itu. Ia bisa melihat kesedihan yang tertutup oleh wajah cerianya. Namun, Awan menepisnya karena ia tidak ingin membuat banyak hati yang terluka jika ia menerima gadis tersebut.
Pelangi pun melangkah mendekati Awan kembali, lalu ia berjongkok di hadapan pria itu sambil memberikan bunga mawar merah yang ia petik di taman tersebut.
Sementara Awan sangat terkejut melihat tingkah Pelangi yang begitu nekat. "Apa yang kamu lakukan?" tanya Awan.
"Maukah Om Awan menikah denganku?" tanya Pelangi seraya menundukkan kepalanya karena tidak berani menatap wajah pria yang berhasil membuatnya gila.
Awan menatap sekelilingnya di mana ia dan Pelangi kini menjadi sorotan orang-orang yang ada di taman rumah sakit tersebut.
"Bangun!" titah Awan seraya memegang pundak Pelangi untuk membantunya berdiri.
"Tidak, Om! Aku tidak akan pernah berdiri sebelum Om Awan menerima lamaranku," ucap Pelangi yakin.
Pelangi semakin cemas, ia memikirkan cara untuk membujuk gadis itu tanpa mengikuti keinginannya.
"Pelangi, kamu sadar tidak sih, kita menjadi sorotan," ucap Awan greget.
"Aku tidak perduli," ucap Pelangi yang masih tetap di posisinya.
Awan semakin geram hingga membuat Awan semakin Dilema dan memejamkan mata untuk memberikan jawaban pada gadis itu. "Baiklah, jika itu maumu," ucap Awan pasrah.
Pelangi yang semula menunduk, kini langsung mendongak dan tersenyum sambil menunggu jawaban dari pria tersebut.
"Om Awan mau?" tanya Pelangi dengan wajah cerianya.
"Aku menolakmu untuk menjadi istriku."
Deg
Pria itu langsung balik badan dengan Pelangi yang langsung menerjunkan air matanya setelah mendengar jawaban dari orang yang ia cintai. Akan tetapi, sebelum pria itu melangkahkan kaki meninggalkan Pelangi, pria itu mendapatkan bogem mentah dari seseorang.
Bug
Seketika Pelangi terkejut dan langsung mengahampiri pria tersebut. "Om Awan!" teriak Pelangi.
...🌷🌷🌷🌷🌷...
...TBC...