
"Sial, kau pake ilmu apa? Kenapa aku selalu kalah main game?" kata Jeno dengan membanting stick playstation ke lantai.
Arman hanya tersenyum dan membalasnya "Saya tidak pake apa-apa Tuan, mungkin Tuan saja yang kurang ahli dalam bermain game"
"Jangan-jangan kau pake guna-guna ya?" selidik Jeno
"Tidak Tuan, untuk apa saya pakai guna-guna" tak terima dengan pertanyaan Tuannya.
"Bisa saja, biar aku tidak menang game dan kau yang menang"
"Astaga tidak Tuan, mending saya pulang dan beristirahat"
"Hahahaha oy Man aku cuma bercanda jangan ngambek seperti itu, kaya cewek pms aja" kata Jeno sambil tertawa
"Tidak Tuan, saya hanya lelah dan ingin beristirahat. Besok ada kunjungan proyek di Kota "N" jadi harus bangun pagi. Lebih baik Tuan segera beristirahat karena sudah jam 10 malam. Saya permisi dulu" Sekertaris Arman meninggalkan kamar Jeno dengan membungkukkan badannya
"Ah iya kamu benar sekali, ayo beristirahat. Aku hampir saja lupa kalau ada kunjungan proyek. Jangan lupa besok datang kesini lebih pagi, kau bisa sarapan juga disini" jawab Jeno sambil berdiri mengantar Arman untuk keluar
"Baik Tuan"
"Hm"
Setelah Sekertaris Arman pulang Mama Wendy dan Tuan Lee baru saja pulang diikuti Pak San yang membawa bingkisan banyak ditangannya.
"Malam Ma Pa"
"Malam juga Jeno"
"OMG, apa itu yg dibawa Pak San? Banyak sekali ya" tanya Jeno yang melongo dengan banyaknya bingkisan
"Belanjaan dong ganteng, biasa belanja bulanan" Jawab Mama
"Bukan belanja bulanan lebih tepatnya belanjaan Mama yang banyak" Papa Le menyahutnya
"Hahaha, Mama jadi malu. Pak San minta tolong panggilkan Bibi untuk ke kamar ya untuk bantu merapikan. Biar yang ini saya bawa. Sisanya silahkan bawa ke dapur" kata Mama sambil mengambil alih bingkisan ditangan Pak San
"Baik Nyonya, kalau begitu saya kedapur dulu" kata Pak San dengan sopan dan menuju ke arah dapur
"Tuh liat No, lebih banyak punya Mamamu kan timbang belanjaan bulanan" kata Papa sambil menunjuk ke bingkisan
"Iya Pa, kaya mau dagang aja. Hahaha" jawab Jeno sambil tertawa
Mama yang tak peduli langsung menuju ke kamarnya, sambil menunggu Bibi datang untuk membantu merapikan, Mama lebih memilih mandi terlebih dahulu karena badannya yang sudah lengket dan bau setelah seharian keliling Mall. sepertinya enak berendam dengan air hangat dan jangan lupa beri aromatherapy untuk menenangkan. batin Mama.
"Permisi Nyonya" terdengar suara dari arah pintu
"Ah iya Bi, ayo masuk" kata Mama sambil mempersilahkan Bibi untuk masuk
"Maaf ya Bi, malem-malem minta tolong bantu rapi-rapi"
"Iya Nyonya, tidak apa-apa"
"Terima kasih Bi, setelah yang itu selesai Bibi boleh beristirahat" kata Mama sambil menunjuk ke arah bingkisan biru
"Baik Nyonya"
Tak terasa hampir jam dua belas malam, dua wanita itu sudah selesai merapikan belanjaannya kedalam lemari dan tinggal satu bingkisan lagi.
"Bibi boleh istirahat, ini biar saya saja yang merapikan"
"Baik Nyonya, kalau begitu saya permisi dulu, mari Nyonya" kata Bibi sambil keluar dari walk in closet.
"Ternyata banyak juga ya barang-barang yang aku beli, pantas saja Papa ngedumel hihihi, tapi kan ini juga kemeja-kemeja dia berarti gakpapa dong belanja banyak, dasar"
Setelah selesai semua Mama bersih-bersih sebentar dan menuju ke ranjang, teryata Papa Lee sudah terlelap dengan nyenyak.
tampan sekali suamiku ini, kalau seperti ini terlihat sangat menawan tapi kalau sekali mengamuk kaya singa hihihi persis kaya si Jeno, tapi si Lily juga, dia lebih menakutkan dari Papa atau kakaknya. kenapa mirip dengan Papanya sih untuk yang itu. batin Mama sambil memejamkan mata.
Ketika semua orang sudah tidur ada seseorang yang menuruni tangga dengan mengendap-endap agar tidak terdengar oleh orang masion.
"Hem, ayo kita pergi" ajaknya untuk segera pergi meninggalkan masion
"Baik Nona"
Mobil itu pergi menjauh dari masion memecah keheningan waktu yang sudah hampir dini hari, serta udara yang cukup dingin untuk bulan ini.
"Apa berita apa sampai kau menelfonku?" tanya Lily dengan pandangan lurus kedepan
"Maaf Nona saya juga tidak tau, tapi tadi Arjun bilang ada berita yang harus disampaikan kepada Nona secara langsung" jawab Roy yang fokus menyetir
"Aish, aku tidak percaya pada anak itu kalau ada berita yang bagus, yang sudah-sudah selalu begitu"
Flasback On
"Nona Nona gawat, ada berita buruk" kata orang diseberang telefon
"Gawat apa? Berita apa?" tanya Lily dengan panik
"Lebih baik Nona datang ke markas saja"
"Apa kau tidak tau hah? Aku sedang di kota "I" dana jaraknya jauh untuk ke markas.
"Intinya Nona harus datang ke markas, tidak bisa kalau lewat telfon" katanya sekali lagi
"Ya sudah aku akan segera kesana" Lalu Lily pergi meninggalkan kota "I" dengan helicopter pribadinya supaya cepat sampai yang terlebih dahulu sudah meminta izin pemerintah setempat. Kurang lebih empat puluh menit Lily dan Roy sudah sampai di markasnya.
"Dimana Arjun" tanya Lily pada anak buahnya
"Selamat datang Nona" jawab mereka serempak
"Ketua Arjun ada diruang atas" salah satu dari mereka menjawab
"Apakah ada hal yang mendesak Nona? Sehingga datang ke markas?" tanya salah satu karena merasa bingung bos besar datang ke markas seperti sekarang
"Bukankah Arjun ada berita yang baru untuk disaampaikan padaku" tanya Lily
"Tapi setahuku tidak Nona?"
"Jangan-jangan anak itu berbohong padaku?"
"Saya tidak tau Nona"
"Arjun!!!" suara keras Lily dari lantai bawah
Semua orang yang mendengar langsung mundur secara teratur dan diam seketika tidak ada yang berani berbicara bahkan bergerak. Suasana mencekam tiba-tiba menyelimuti seluruh ruangan.
sepertinya singa akan segera bangun dari tidurnya. apakah ada pertumpahan setelah ini? batin salah satu anak buah Lily
Roy yang melihatnya hanya menaikkan bahunya seolah dia tidak tau apa yang terjadi. Karena memang dia sendiri juga tidak tau Nonanya akan melakukan apa. Kadang sesuai nalar kadang diluar nalar.
Arjun yang mendengar namanya dipanggil langsung kaget dan bangun dari duduknya segera turun kebawah.
"Eh Nona sudah datang, harusnya naik saja keatas aku menunggumu disana" jawab Arjuna dengan senyuman manisnya
"Tak perlu kau senyum seperti itu, ada apa? jija bukan hal penting aku tidak akan segan-segan mematahkan tanganmu, atau kau ku lempar ke kandang si jaguar, sepertinya dia belum makan, bukan begitu Roy?" kata Lily sambil menyilangkan kakinya di kursi
"Iya Nona jaguar belum makan" kata Roy yang langsung diberi tatapan melotot Arjun. Arjun hanya menelan salivanya dengan berat dan langsung sujud di kaki Lily.
"Maafkan aku Lily, aku hanya ingin mengajakmu makan ramen dan membelikan Ibuku hadiah karena dia ulang tahun hari ini. Kalau aku tak bilang itu mungkin kamu tidak akan datang" kata Arjun dengan nada memelas dan serendah mungkin
"Astaga Arjun, kau kan bisa bilang. Aku akan berkunjung ketika pekerjaanku selesai. Kenapa anak tante Rita bodoh sih" kata Lily yang masih kaget dengan apa yang dikatakan Arjun, bisa-bisanya dia seperti itu dulu emaknya ngidam apaan ya. " Karena aku sedang baik tidak ada hukuman untukmu, ayo kita pergi ke mall dan beli hadiah untuk tante Rita" ajak Lily yang diikuti Roy dan Arjuna.
Para anak buah merasa lega dan sedikit syok dengan apa yang ketua katakan.
sepertinya ketua punya nyawa sembilan deh bisa-bisanya seperti itu pada Nona meskipun dia masih temannya. batin salah satu anak buah.
Flasback Off