Lily Blossom

Lily Blossom
Episode 6



"Baru pulang kak?" tanya sesorang dari arah tangga


"Iya nih Ly baru pulang, Mama Papa dimana kok sepi? biasanya mereka selalu cerewet kalau aku pulang?" tanyanya sambil tengok ke kanan kiri


"Ehm, aku juga tak tau. Ketika aku pulang rumah sudah sepi"


"Gimana kamu ini, kau kan anaknya masa gak tau"


Lily yang merasa tidak terima dengan apa yang kakaknya katakan langsung bersuara


"Oy kakak kan juga anaknya, anak laki-laki pertama lagi, kenapa kau tak telfon saja biar tahu" jawabnya sambil mengacungkan jari ke muka kakaknya


"Hahahaha, tak perlu marah-marah seperti itu. Kakak cuma bercanda, paling mereka keluar jalan-jalan. Atau jangan-jangan honeymoon?" kata Jeno sambil tertawa


"Honeymoon katamu? daripada honeymoon jauh-jauh mending dikamar"


"Heyyyy,,, kenapa pikiranmu sampai kesana?" jawab Jeno dengan mata melotot.


"Yahhhhh... kau ini. Dikamar istirahatlah tidur, emang mau ngapain lagi? Sepertinya kakak yang otaknya agak miring"


"Astaga bisa-bisanya berkata seperti itu dengan kakak kandungmu sendiri. Apa kau mau aku kutuk jadi tempoyak?" kata Jeno dengan muka memelas.


"Ampuni aku tuan, jangan kutuk aku jadi tempoyak" jawab Lily dengan tangan dikatupkan memohon ampun


"Hahahaha, dasar gila, awas minggir. Aku mau keatas berendam dengan air hangat biar otakku waras" usir Jeno sambil mengusir Lily agar tidak menghalangi jalannya.


"Hahahahaha, ya ya ya. Silahkan tuan. Dasar kakak yang sedikit gila" kata Lily sambil berlalu dan menuju ke dapur.


sepertinya kalian berdua sama-sama gila dengan tingkat stres yang sedikit berbeda. tapi tak apa, sedikit ada hiburan untuk saya. batin salah satu pelayan yang melihat tingkah laku keduanya dengan menahan ketawa agar tak bersuara.


Awas lo nahan ketawa palah jadi kentut nanti. hihihi


"Bibi" panggil Lily pada pelayan ketika sudah sampai di dapur


"Iya Non, ada yang bisa Bibi bantu?" tanyanya dengan sopan


"Ehm aku ingin makan mie goreng dengan telur jangan lupa cabe, sayur dan kasih bakso juga biar enak. Oh iya satu lagi mienya dua ya, aku tunggu diruang keluarga" kata Lily sambil berlalu dengan membawa air putih dan keripik pisang ditangannya yang diambil dari kulkas.


"Baik Non, nanti Bibi bawa kesana kalau mienya sudah jadi"


Ketika Lily tengah asik nonton film dan makan mie kesukaannya, tampak dari arah tangga ada yang sedang mengamatinya. Karena ruang keluarga tersebut dekat dengan tangga ke ruang atas


"Kenapa melihatku seperti itu? Seperti ingin memangsaku saja" kata Lily yang masih fokus dengan kegiatannya


"Kata siapa aku melihatmu? Aku lebih fokus dengan mie yang didepanmu, bukan dirimu"


"Kalau mau tinggal bilang Bibi saja, minta tolong suruh bikinin"


"Tapi aku lebih suka jika mengganggu orang makan" kata Jeno sambil merebut mie dan sendok milik Lily dengan muka tak bersalah


"Yakkkk,, apa yang kakak lakukan? Ini kan mieku kenapa kau makan?" hardik Lily tak suka


"Hahahaha aku lapar setelah berendam dan sepertinya enak makan mie makanya aku ambil" kata Jeno sambil menyeruput mienya


Huuupppph suara seruputan mie yang siapa saja melihatnya akan tergoda dan ingin memakannya.


"Aisshhh kakak curang itu kan punyaku" kata Lily sambil meninju lengan kakaknya


"Minta Bibi saja untuk membuatnya lagi, masih banyak stock mie kan atau kita beli sepabriknya?" jawab acuh Jeno yang masih meneruskan makan mie


"Hahahaha daripada kau seperti itu mending ke dapur minta bikinin mie lagi"


"Malas"


"Selamat malam Tuan dan Nona" sapa seseorang dari arah ruang tamu. Seorang pria dengan sikap sempurna dan membawa paperbag ditangannya.


"Malam kak Arman" kata Lily, sedangkan Jeno hanya menganggukkan kepalanya karena mulutnya masih penuh dengan mie goreng.


"Apa yang kamu bawa itu kak?" tanya Lily antusias


"Oh ini, kentang goreng dan burger Nona. Saya kira Tuan belum makan makanya saya bawa ini sebelum datang kemari" jawab Arman sambil mengangkat paperbagnya


"Kakak sudah makan lebih baik untukku saja, karena aku belum makan"


Sebelum Jeno menjawab Lily terlebih dahulu mengambil paperbag ditangan Sekertaris Arman dan lari ke kamarnya.


"Oy Lily, Arman beli buatku bukan buatmu," hardik Jeno dengan nada tinggi sambil mengacungkan tangannya


Lily yang tidak memperdulikannya terus naik menaiki tangga dan tak menjawabnya. Lily memanggil Sekertaris Arman dengan sebutan kakak karena ia sudah menganggap Arman seperti kakak keduanya setelah Jeno.


belum makan? padahal dia baru saja mengunyah dan tangannya masih memegang piring mie. makan tiga porsi nasi padang kali ya. baru dibilang sudah makan. dasar perut karet. batin Arman saling menggeleng-gelengkan kepala.


"Kenapa kau Man? Apa kau belum minum obat?" tanya Jeno sambil menghabiskan mie


"Tidak apa-apa Tuan, saya kesini karena ingin membahas proyek kerja sama dengan Direktur Roni" kata Arman untuk mengalihkan topik pembicaraan.


"Oh itu. Oke. Selesai aku makan, ayo ke ruang kerja. Kau tunggu disana aku akan minta Bibi membawakan minuman dan sedikit cemilan" jawab Jeno sambil berlalu menuju dapur.


"Baik Tuan, saya akan ke ruang kerja sekarang"


Setelah itu Jeno menuju ke dapur dan meminta Bibi untuk membawakan minum dan cemilan ke ruang kerjanya. Pak San sedang pergi ke luar menemani Tuan besar dan Nyonya pergi ke Mall untuk berbelanja sekaligus refresing.


"Ini Tuan minum dan cemilannya, silahkan Sekertaris Ar" kata Bibi sambil memberikan minum dan cemilan


"Terima kasih Bi"


"Terima kasih, Bibi boleh keluar dan silahkan melanjutkan pekerjaan yang lain" perintah Jeno untuk pelayaannya.


"Baik Tuan, nanti jika butuh sesuatu silahkan beri tau saya, kalau begitu saya keluar dulu. Mari Tuan, Sekertaris Ar" jawab pelayan tersebut undur diri.


"Baik Bi" kata Jeno. "Jadi gimana Man tentang proyek dan kerja sama ini?" tanya Jeno sambil mengamati berkas didepannya.


"Sejauh ini proyek dan kerja sama berjalan cukup bagus Tuan, dan pembangunnya sudah mulai dikerjakan" kata Sekertaris Arman sambil memakan potongan buah semangka.


"Bagus-bagus. Aku harap kerja sama ini terlaksana dengan baik" kata Jeno diikuti anggukan kepala


"Lebih baik kita selesaikan pembahasan ini dengan cepat dan setelah itu ayo main game, sudah lama aku tidak main game. Sepertinya seru. Bukan begitu Bung?" kata Jeno dengan semangat karena sudah lama dia tidak main game karena fokus seputar kerjaan dan kerjaan lagi.


"Baik Tuan. Ayo kita bermain. Sepertinya saya akan menang lagi dari Anda" kata Arman dengan nada mengejek


"Eits, jangan salah Man, walaupun kemarin aku kalah. Tapi tidak dengan hari ini. Aku yakin ilmuku sudah meningkat dengan pesat" kata Jeno dengan semangat dan berapi-api


"Ayo kita buktikan Tuan"


"Ayo ke kamarku sekarang dan mari bermain" ajak Jeno menuju kamarnya dan diikuti oleh Arman.