
"Selamat pagi sayang"
"Selamat pagi Ma, Pa. Oh ya dimana Kak No? tumben belum bangun" tanya Lily sambi mencari kakaknya yang belum ada di meja makan.
"Mungkin masih terlelap, kasurnya sungguh empuk dan berukuran besar Ly, jadi orang yang sudah tidur enggan untuk bangun" jawab Papa
"Iya Ly, membuat Mama nyaman" jawabnya sambil melayani sarapan untuk anak dan suaminya
"Ya Ma, aku mendatangkannya dari luar negeri, jadi kasurnya tidak hanya untuk tidur saja tapi membuat nyaman dan rileks untuk yang beristirahat" jawabnya sambil memasukkan roti ke mulut
"Roy ayo makan setelah itu kita ke perusahaan" ajaknya pada Roy
"Baik Nona" jawab Roy sambil duduk dan menikmati sarapan
"Pagi semua"
"Pagi Tuan, Nyonya, Nona" kata Arman memberi hormat
"Pagi No, pagi Arman ayo duduk dan segera sarapan" ajak Mama
"Tumben baru bangun, habis mati suri ya" ejek Lily
"Maaf Nona, tadi Tuan tidak mau membuka mata untuk bangun makanya lama untuk sarapan" bela Arman
"Hey burung unta, kau yang susah bangun bukan aku" Jeno yang tak mau kalah
"Hahahahha bukankah kalian ini sama saja? sama-sama susah bangun. Kalau sudah tidur kaya orang mati" tawa Lily
"Astaga Lily mulutmu" kaya Jeno sambil menaruh selai ke rotinya
"Sudah-sudah jangan berantem saat makan, kalian berdua memang sama-sama susah bangun. Jangan-jangan kalian jodoh" kata Mama sambil tertawa diikuti yang lain
"TIDAK!!!!" jawab mereka dengan kompak
"Bahkan menjawabnya pun bersamaan" kata Lily yang masih tertawa
"Aku masih normal yang menyukai wanita"
"Saya juga masih normal Nona, Nyonya"
"Sudah-sudah ayo makan nanti tersedak lagi" lerai Papa
"Baik Pa"
"Baik Tuan Besar"
Merekapun sarapan dengan tenang dan menghabiskannya tanpa tersisa walaupun masih dengan sedikit bercanda juga. Memang sungguh keluarga idaman, hangat dan banyak bercandanya. Setelah selesai sarapan mereka melanjutkan aktifitasnya masing-masing, Mama Papa masih ingin di hotel, Lily dan Roy yang kembali ke perusahaan dan juga Jeno Arman yang sudah ke perusahaannya terlebih dahulu. Disela perjalanan itu Lily bertanya pada Roy
"Roy apa kamu sudah menemukannya?" tanya Lily tanpa menoleh dari pandangannya yang menatap layar tablet ditangannya
"Maaf Nona, saya belum menemukannya. Saya harap segera ada kabar baik setelah ini" jawab Roy yang masih fokus dalam mengendarai
"Iya Nona saya akan mengerahkan anak buah saya untuk mencarinya lagi"
"Terima kasih Roy"
semoga aku segera bertemu denganmu. gumam Lily dalam hati
Roy hanya mengangguk dan fokus mengendarai. Tak berselang lama merekapun sudah sampai dihalaman parkir perusahaan. Perusahaan "Leedy Copr" nama perusahaan Lily kepanjangan Papa dan Mamanya, ia tak terlalu mementingkan nama perusahaanya itupun yang memberi ide sang Kakak. Jeno tak terima kalau adik kesayangannya menamai perusahaan dengan nama yang aneh karena Lily pernah memberi ideh dengan nama pohon bambu, arang hitam, lidi aren astaga namanya sungguh membuatnya frustasi makanya dia memberi ide untuk memberi nama perusahaan Lily dengan nama gabungan kedua orang tuanya walaupun awalnya Lily tidak setuju tapi ya sudahlah setidaknya perusahaanya ada namanya.
"Selamat pagi Nona" sapa security sambil membukakan pintu untuk Lily
"Pagi Pak, terima kasih. Selamat bekerja" kata Lily sambil tersenyum dan melangkah ke dalam. Di dalampun ia juga menyapa karyawannya, dia menyapa kepada semuanya tanpa terkecuali, dia dikenal CEO yang baik hati, ramah dan sopan pada siapapun. Karena mereka belum tau jika Lily sudah berurusan dengan dunia gelap maka pandangan itu akan berubah 180 derajat. Dia akan menjadi sosok yang dingin, keras kepala, dan kejam. Namun dia teliti, cermat dalam melakukan siasat, dan pandai dalam menangani masalah dengan baik.
"Apa kegiatan hari ini?" tanya Lily pada Roy yang sudah duduk di kursi kebesarannya.
"Hari ini ada meeting jam sembilan dengan para pimpinan divisi setiap bagian, jam dua siang nanti ada makan bersama dengan Mr.Sakha dari Jepang setelah itu tidak ada lagi" terang Roy sambil melihat tab di tangannya.
"Baik, ayo segera ke ruang meeting dan mana berkas yang harus aku pelajari" imbuh Lily sambil berjalan keluar dari ruang pribadinya
"Ini Nona" Roy menyerahkan berkasnya
"Oke, lets go" bagi Lily mempelajari berkas-berkas itu tidaklah sulit IQnya yang tinggi dengan cepat menganalisis dan memahaminya walau hanya mempelajarinya dengan cepat. Hebat bukan?
hebatlah karena author yang membuatnya.
Sesampainya di ruang meeting ia pun memulai meetingnya dengan baik, para pimpinan disivi memaparkan kinerja para timnya dan apa perkembangan yang akan mereka lakukan untuk kedepannya. Perusahaan Jeno bergerak dibidang properti sedangkan Lily bergerak pada kosmetik yang sudah mendunia. muka sangar hati hello kity ya waak. hahahahaha. Selain itu dia juga memiliki hotel dan juga restaurant sebagai salah satu bentuk pengembangan hobbynya yang traveling dan suka makan. Bulan depan perusahaan Lily akan meluncurkan parfum bearoma bunga, dan Lilypun setuju karena sekarang di negaranya sedang musim semi. Mama juga suka aroma bunga maka dari itu di masionnya terdapat taman bunga yang luas dan indah. Tadinya Papa menolak jika Lily mendirikan perusahaan kosmetik ia ingin seperti Jeno di bagian properti atau di bagian penyiaran tapi karena bujukan dari istrinya akhirnya iapun menerimanya. Takut gak dikasih jatah kali ya hehehe.
Setelah rapat iapun segera pergi ke resto yang sudah disediakan oleh sekertaris Mr. Sakha untuk jamuan makan siang, sebenarnya ia merasa malas dan enggan untuk pergi diacara seperti itu. Melihat para penjilat yang selalu percaya diri dan membanggakan perusahaan masing-masing, tak mau mengalah untuk selalu memamerkan kekayaannya masing-masing, membuat Lily merasa muak begitu pula dengan Roy yang merasa risih dengan orang seperti itu. Akhirnya setelah setengah jam berkendara merekapun sudah sampai di tujuan dan segera masuk ke ruang VIP yang sudah dipesan, disana sudah banyak para CEO dari berbagai perusahaan dan ya memang Lily yang perempuan sendiri meskipun ada beberapa sekertaris yang menemani tuannya.
malas sekali aku datang ditempat seperti ini, kalau bukan karena Papa yang akan mengomel aku enggan untuk kesini. batin Lily
apa-apaan dengan sekertaris Tuan Jo itu. apa dia sedang ingin menggodaku. ciihh mana mungkin aku tergoda denganmu. gumam Roy
Lily yang melihat raut muka Roy yang jengkel langsung berbisik ke telinganya
"Jangan mau kau dengannya, sepertinya ia ingin menarik perhatian denganmu"
"Iya Nona, saya juga tak sudi jika dengannya" jawab Roy
"Bagus, aku juga tak mau jika berbesan dengan Tuan Jo" tawa Lily
"Nona, jangan seperti itu palah membuatku merinding saja" Roy tampak bergidik ngeri membayangkan jika iya bersama wanita itu
Lily hanya tersenyum dan menahan tawa melihat muka Roy yang menahan jengkel itu. Ketika mereka mulai bercakap-cakap tiba-tiba terdengar sapaan seseorang
"Selamat siang semuanya"
Merekapun menoleh ke arah sumber suara itu