
"Kamu sangat hebat nak, Papa bangga padamu" kata Papa Lee menatap anak perempuannya
"Mama juga bangga padamu nak"
"Gila loe keren banget Li, tapi masih kalah sama gue" kata Jeno sambil tertawa
"Astaga kenapa Kak Jeno narsis sekali sih" jawab Lily sambil menggeleng-gelengkan kepala
"Oh iya Pa, Ma,Kak No lebih baik kita menginap disini saja, aku sudah menyiapkan untuk kalian semua. Itung-Itung sebagai tanda terima kasihku karena sudah mau membantuku"
"Terima kasih sayang" jawab Mama dan Papa
"Yaiyalah, kita menginap disini, sekaligus buat uji coba hotel ini layak apa tidak"
"Oy kak, tentu saja layak. Hotel ini saja bintang lima, salah bintang delapan tauk, fasilitas yang dimiliki sangat lengkap, kau akan terkejut nanti. Oh ya Kak Arman kau juga menginap disini saja, bersebelahan dengan kamar Kak No" kata Lily pada sekertaris kakaknya
"Baik Nona terima kasih"
"Ya sudah ayo naik ke atas, aku akan mengantar kalian ke kamar. Ayo Roy" ajak Lily pada semuanya diikuti oleh semua orang menuju kamar yang sudah disiapkan oleh Lily. Menaiki lift dan menekan tombol delapan dimana kamar itu berada. Memang Hotel yang Lily bangun tidak menyampai berpuluh-puluh tingkat hanya sampai sepuluh saja, dan kamarnya pun sampai di lantai delapan saja, lantai sembilan dan sepuluh untuk fasilitas yang dikatakan Lily berupa spa, salon, tempat gym, sauna, lapangan golf mini, kolam renang, sampai rooftop dengan pemandangan yang mengarah ke pantai untuk sekedar melihat sunset dengan minum-minum cantik.
"Nah ini kamar Papa dan Mama, sebelahnya kamar Kak No, dan sebelahnya lagi kamar Kak Arman, atau kalau kalian mau sekamar juga tidak apa-apa" kata Lily sambil menunjukkan kamar dan memberikan kartu aksesnya. "Oh iya selain menggunakan kartu ini kalian juga bisa menggunakan kode untuk masuk kamar ya, kalau begitu aku akan turun kebawah dulu bersama Roy. Silahkan beristirahat" kata Lily lalu menuju ke lift untuk turun kebawah
"Baik Lily, jangan terlalu kelelahan dan segeralh beristirahat" kata Mama memberi nasihat
"Oke Ma" kata Lily sambil berlalu
"Aku tidak mau sekamar denganmu" kata Jeno
"Saya juga tidak mau sekamar dengan anda Tuan" Arman yang tak mau kalah dengan Tuannya
"Kenapa?" tanya Mama yang tadi hendak masuk ke kamar namun urung karena mendengar sedikit perdebatan kedua anak lakinya. Mama Wendy sudah menganggap Arman sebagai anaknya juga.
"Dia tidur seperti gangsing Ma, badannya berputar-putar, sampai-sampai kadang aku terjatuh ke lantai karena tendangan kungfunya" kata Jeno sambil memperagakan gerakan kungfu panda
"Justru yang seperi gangsing itu anda Tuan, kadang kaki dikepala kepala dikaki" sahut Arman yang tak terima
"Kenapa kau tak mengaku, dan justru memfitnahku?"
"Bukan fitnah tapi kenyataan, kenyataan Tuan muda"
"No, itu fitnah. Mana mungkin Tuan muda Jeno Wiliam Lee tidur seperti gangsing, tidurku seperti pangeran" imbuh Jeno
"Hahahaha, Tuan muda Jeno Wiliam Lee tidur mengorok itu yang benar" kata Arman sambil tertawa dengan keras
"Yak kau kenapa mengejekku sih, apa kau bosan mati?" hardik Jeno
"Bosan hidup No bukan mati" kata Mama yang sudah tertawa dengan perdebatan keduanya
"Ah iya itu Ma, nanti aku akan minta Lily untuk melemparmu ke kandang Jaguar" ancam Jeno
Mendengar ancaman itu Arman langsung menciut yang tadi tertawa sekarang diam ketakutan.
"Maaf Tuan" kata Arman dengan sopan
"Aku ancam dengan menyebut Lily begitu kamu menciut dan minta maaf, dasar. Sana ke kamar aku ingin tidur" kata Jeno sambil berlalu dan masuk kekamar
tentu aku menciut tuan, jika sudah berhubungan dengan Nona Lily pasti tidak akan berani. batin Arman
"Sudah sana kau masuk ke kamar dan beristirahatlaah" kata Mama Wendy
"Baik Nyonya, terima kasih, permisi" hormat Arman dan segera masuk ke kamarnya.
Mamapun masuk ke kamar dan segera mandi, sedangkan Papa sudah selesai mandi dan duduk di sofa.
"Papa sudah mandi?" tanya Mama sambil melepas anting dan jam tangannya di meja
"Benarkah?"
"Ya kau akan tau setelah mandi"
Mamapun segera masuk kedalam kamar mandi dan sedikit terkejut ketika sampai didalam, dia takjub melihat kamar mandi dan juga perlengkapannya handuk yang tertata rapi untuk rambut atau model kimono, aroma therapy untuk berendam dengan berbagai aroma, sabun dan sampo dengan kualitas yang bagus, suhu air untuk mandi, bathup yang elegan, majalah yang ada dirak untuk sekedar menemani berendam, ada bunga mawar juga untuk sekedar ditabur dalam air, tak sampai itu bahkan ada piyama juga untuk tidur yang setelah dipakai boleh dibawa pulang. memang luar biasa anakku itu, ketika membuat bisnis memikirkan sampai ke hal yang mendetail, seperti Papanya. batin Mama. Ia segera mandi dan ingin tidak berlama-lama karena sudah malam, tidak baik juga kalau mandi terlalu lama di malam hari. Setelahnya iapun memakai piyama yang tersedia dan segera menuju ke ranjang karena melihat suaminya yang sudah tertidur dengan nyenyak.
Lily yang sudah sampai dibawah segera menuju ke parkiran yang sebelumnya ia sudah berganti pakaian, Roy yang sudah menunggunya segera membukakan pintu untuk Nonanya sebelum ia masuk tiba-tiba ada suara yang menyapa
"Selamat malam Nona Lee" sapa seorang pria
Lily pun segera menoleh dan membalasnya
"Ah iya selamat malam, ada yang bisa saya bantu?" tanya Lily
"Aku hanya ingin berkenalan denganmu" kata orang itu
"Maaf Tuan, saya sedang buru-buru mungkin lain kali kita bisa melanjutkannya, Roy ayo kita pergi, permisi Tuan." kata Lily membungkuk sopan dan masuk kedalam mobil. Mobil itupun segera keluar dari area hotel dan mulai pergi menjauh
"Menarik" kata pria itu. "Marvel cari tau tentang dia, wanita itu sungguh menawan dan juga cantik"
"Baik Tuan, sebaiknya kita pulang saja Tuan, karena sudah malam"
"Baik ayo pergi" ajaknya pada asistennya
"Baik, mari Tuan". Mereka berduapun segera pergi meninggalkan hotel itu pulang menuju ke masion.
Sedangkan disisi lain
aku pernah melihat cewek itu, tapi dimana ya. batin seorang wanita. Setelah berpikir cukup lama dan menguras energi serta tenaga ekstra.
Astaga alay amat ini author.
Akhirnya ia menemukan jawabannya
"Dia wanita itu yang menahan tanganku, astaga aku baru ingat sekarang. Tidak aku sangka ternyata ia pemilik hotel itu. Ternyata cantik juga jika memakai gaun dan jika tersenyum dia tamoak menyenangkan. Tapi kalau dia diam datar dan dingin auranya menakutkan sekali, hi merinding, lebih baik aku mandi saja dan segera tidur" ucapnya sambil masuk dalam kamar mandi
Akhirnya Lily dan Roy sudah sampai ditempat tujuannya dan disambut oleh anak buahnya
"Selamat datang Nona Sekertaris Roy" kayanya sambil membungkuk tanda hormat
"Terima kasih, aku akan masuk dulu" kata Lily masuk kedalam markas lalu diikuti Roy
"Baik Nona" kata pria bertubuh kekar itu.
"Akhirnya kau datang juga Lily, apa kau membawa makanan? Aku sangat lapar" tanya Arjun
"Memang Bibi tidak memberi kamu makan?" selidik Lily
"Sudah sih, tapi aku lapar" jawab Arjun sambil cengengesan
"Beli makan diluar untukmu dan untuk yang lain, bawa mobil Roy" kata Lily sambuil memberi kartu pada Arjun
"Baik Bu Boss laksanakan" kata Arjun sambil memberi hormat dan segera keluar untuk membeli makan
"Ayo Roy kita turun kebawah" ajak Lily
"Baik Nona, mari"
Akhirnya mereka turun kebawah dan sedikit terkejut dengan apa yang mereka lihat
"KAU!!!!!!"