Lily Blossom

Lily Blossom
Episode 21



"Apakah dia belum mau mengaku?" tanya Lily yang melihat Arjun naik ke ruang tamu


"Dia tidak mau mengaku. Padahal aku sudah menyiksanya" kata Arjun sambil merebahkan tubuhnya di sofa


"Roy apa kau sudah menemukan pergerakannya?"


"Belum Nona, belum ada laporan apa-apa dari mereka"


"Aku jadi penasaran, siapa yang melakukannya"


"Kalau ketemu dalangnya, akan aku patahkan lehernya dan aku masukkan dalam kandang" Arjun menggebu-gebu


"Hahahaha dasar kau ini, bantu mencari dan berfikir bukan hanya memukul saja" kata Lily


"Kau kan tau otakku tidak pintar untuk seperti itu, jadi aku bantu dengan tangan dan tenagaku saja" jawan Arjun


"Lebih baik kita pulang Roy, urusan ini besok kita bahas lagi" kata Lily bangkit dari duduknya


"Baik Nona, mari"


"Hati-hati Li" kata Arjun mengantar Lily dan Roy ke depan dan ia kembali ke ruang bawah tanah untuk menanyakan lagi pada pria itu karena ia masih enggan untuk berbicara dan memilih disiksa oleh Arjun.


Mobilpun sudah sampai di masion Lily dan Roy turun disambut oleh para dayang-dayang.


"Selamat datang Nona" kata Bibi pelayan


"Terima kasih, apa semua orang di rumah Bi?" tanya Lily yang melihat masion sepi


"Tuan belum pulang, sedangkan Tuan Besar dan Nyonya sedang di taman belakang Nona" jawab Bibi


"Tumben sekali mereka disana, biasanya kalau mau ngobrol ya di ruang keluarga" kata Lily yang merasa penasaran karena orang tuanya akan lebih memilih mengobrol di dalam daripada di gazebo belakang atau sekedar duduk di taman


"Iya Nona, mungkin ingin mencari udara segar makanya mereka ke belakang"


"Mungkin saja"


"Oh ya Roy, kau boleh pulang sekarang. Nanti malam kau kesini lagi. Aku tunggu di ruang kerja"


"Baik Nona, kalau begitu saya permisi" Roy memberi hormat dan segera pulang ke apartementnya


"Apakah Nona ingin disiapkan air untuk mandi?" tanya Bibi


"Aku bisa sendiri Bi, silahkan kalau mau melanjutkan aktifitas yang lain. Oh ya Bi aku ingin makan wafle krim mangga kalau gak strawberry"


"Baik Nona, akan saya buatkan kalau begitu saya pamit ke dapur" kata Bibi memberi hormat segera pergi ke dapur untuk membuat wafle


" Baik Bi, silahkan" Lilypun masuk ke kamar lalu masuk ke dalam kamar mandi berendam air hangat sebentar sebelum turun untuk makan


kira-kira siapa yang berani menipuku, kalau ketemu orangnya akan aku pastikan dia takkan hidup dengan tenang. batin Lily


"Oh iya aku belum menyampaikan informasi terbaru dari Wiliam pada Nona, nanti malam saja saat aku bertemu dengannya" kata Roy yang mulai melakukan aktifitas mandinya


Setelah bersih-bersih selama tiga puluh menit, Lily turun ke bawah menuju dapur untuk makan cemilannya. Dari arah tangga sudah tercium wangi aroma wafle yang menggoda, wangi butter yang gurih ditambah krim yang lembut dengan potongan mangga atau strawberry yang manis asam diatasnya adalah pasangan yang serasi.


"Wangi sekali, apakah sudah jadi Bi?" tanya Lily yang sudah tidak sabar ingin memakannya


"Sudah Nona, ini" kata Bibi yang memberikan sepiring wafle dengan krim dan potongan mangga yang melimpah


"Uuuu enak sekali, buat juga untuk Kak No, karena dia suka makan punyaku" kata Lily


"Baik Nona"


"Kalau begitu aku akan memakannya" Lily segera ke ruang makan dan memulai memakannya. Ia sangat menikmati hidangan tersebut, ia juga sedikit makan dengan cepat karena takut Kakaknya akan datang dan mengambilnya, walaupun ia sudah meminta Bibi untuk membuatnya tapi tetap saja Kakaknya akan meminta punyanya terlebih dahulu.


"Habis, untung Kak No belum pulang jadi dia tidak menganggu waktu makanku" kata Lily sambil membawa piring kotornya ke wastafel lalu ia segera ke ruang kerjanya untuk memeriksa kerjaan dan beberapa email yang masuk sambil menunggu waktu makan malam tiba. Perkembangan hotelnya cukup baik untuk sekarang, produk parfum edisi terbaru juga laku di pasaran. Ia mulai membuka beberapa email tentang kerja sama perusahaan lain dan juga produk baru yang sebentar lagi akan diproduksi. Sekitar tiga puluh menit Lily berkutat pada laptopnya, waktu makan telah tiba ia bergegas menuju ke ruang makan, disana ternyata sudah lengkap ada Roy juga yang sudah duduk di kursi.


"Selamat malam Nona" kata Roy memberi hormat


"Iya Nona"


"Oh iya Li, apa seri parfumu terbaru masih ada stocj yang seperti Mama?" tanya Mama


"Masih ada beberapa Ma, Why?" tanyanya


"Mama ingin memberikannya pada teman Mama besok"


"Oke, biar besok Roy yang mengurusnya" kata Lily


"Baik Nona, besok akan saya siapkan"


"Terima kasih sayang"


"Sama-sama Ma, ayo makan. Sepertinya makan malam ini enak semua" kata Lily yang berbinar melihat anak lauk diatas meja, ada ayam bakar, ada udang, cumi tepung, tumis kangkung. Semuanya menggugah selera.


"Selamat makan" kata Lily sambil mengunyah ayam bakar beserta lalapan tak lupa sambal yang pedas manis




"Enak sekali ayam bakarnya" kata Jeno sambil mengunyah


"Kalau makan lebih baik diam, makan belum dikunya udah omong aja" kata Lily


"Kau ini bawel sekali"


"Justru Kakak yang bawel bukan aku"


"Bukan aku tapi kamu" kata Jeno sambil memasukan ayam bakar yang berlumuran sambal ke mulutnya


Uhuk uhuk uhuk


"Hahahaha, rasain. Makanya diem kalau makan. Gak ngoceh aja kaya burung" kata Lily sambil menyodorkan segelas air padanya


"Terima kasih" kata Jeno setelah minum dan merasa baikan


"Sudah-sudah lebih baik diam, tuh liat Roy aja makannya diam gak banyak omong kaya kalian" kata Papa


Roy yang merasa namanya terpanggil langsung mendongak dan hanya tersenyum saja.


astaga, bisa-bisanya Tuan Besar menyebut namaku. batin Roy


"Untuk apa Roy juga ikut berbicara, dia kan kaku kaya kulkas" kata Jeno


"Lebih baik kaku kaya kulkas daripada cerewet seperti mak-mak akun gosip" bela Lily


"Siapa yang seperti mak-mak akun gosip hah?" tanya Jeno


"Ya Kak No itu, siapa lagi memangnya?" jawab Lily


"Dasar kau ini"


"Ayo Roy kita ke ruang kerja saja, daripada debat sama panci rombeng" ajak Lily pada Roy.


"Baik Nona, permisi semuanya" kata Roy memberi hormat.


"Yakkk kau anak kodok, berani-beraninya bilang aku panci rombeng" teriak Jeno


"Sudah No, memang kamu kaya panci rombeng" ledek Mama pada Jeno


"Mama" kata Jeno sambil melotot pada Mamanya.


"Hahahahaha" Papa hanya tertawa melihat kelakuan anak-anaknya ini. Mereka segera menyelesaikan makannya dan menuju ke ruang kelurga untuk sekedar mengobrol tentang perusahaan atau mengobrol kegiatan sehari-hari.