Lily Blossom

Lily Blossom
Episode 20



"Bi, Nona Lily sangat baik ya" kata Emira saat membantu Bibi menyuci buah dan sayur


"Iya, Nona Lily sangat baik. Walaupun kadang dia suka marah tapi hatinya baik. Banyak orang yang ditolong olehnya termasuk Bibi" kata Bibi yang memorinya langsung flashback kebelakang saat awal-awal bertemu dengan Lily, yang hidup di jalanan karena tidak bisa membayar kontrakan, tidak punya saudara dan anaknya yang sedang sakit. Tak sengaja bertemu Lily dan Roy, mereka membawa anaknya untuk dirawat di Rumah Sakit, setelah sembuh mereka dibawa ke markas dan mulai tinggal disana. Anak Bibi laki-laki dan sekarang sedang mengenyam pendidikan di Luar Negeri karena kepandaiannya makanya Lily tak segan-segan menawarkannya untuk kuliah disana.


"Oh iya Bibi udah lama ya disini?"


"Iya Bibi sudah lama disini, semoga kamu bisa betah juga disini" kata Bibi sambil memulai memasak untuk makan malam


"Aku sangat suka disini semoga aku betah ya Bi, oh iya hari ini mau masak apa Bi?"


"Hari ini Bibi akan masak sup ayam dan beberapa pendamping lainnya" kata Bibi


"Baik Bi, ayo kita memasak"


Merekapun mulai memasak dibantu dengan yang lain karena memang di markas banyak orang jadinya memasak dalam porsi yang besar, Lily dan Roy juga akan makan disana jadi Bibi spesial masak sup ayam kesukaan Lily. Tak terasa sudah hampir dua bulan Emira tinggal disana, karena orangnya yang supel jadi ia mudah akrab dengan orang-orang disana. Ia sudah menganggapnya seperti keluarga, tapi ia juga merindukan kakak lelakinya yang sudah sangat lama tidak bertemu. Ia penasaran kenapa Kakaknya begitu tega meninggalkannya sendirian setelah kedua orang tuanya meninggal harusnya mereka bersama untuk saling menguatkan tapi ia memilih untuk pergi. Ya sudahlah mungkin ia akan tau jawabannya setelah bertemu dengan Kakaknya kelak yang penting ia sekarang bisa hidup dengan tenang dan aman itu lebih dari cukup.


Tak terasa hari sudah semakin sore, Lilipun segera mengajak Roy untuk ke markas makan malam disana. Perjalanan yang cukup lama karena macet dan sibuknya jalanan dengan hilir mudiknya kendaraan akhirnya merekapun sampai dan disambut oleh orang-orang disana. Lily naik ke atas untuk mandi dan berganti pakaian, hari ini cukup melelahkan jadi ia memilih untuk berendam sebentar untuk merilexkan tubuh yang penat dengan pekerjaan dan masalahnya hari ini.


"Selamat malam Nona"


"Selamat malam, ayo duduk" kata Lily pada semua


"Bi, hari ini apa masak sup ayam?" tanyanya


"Ah iya Nona, saya hari ini masak sup ayam. Silhakan" kata Bibi sambil memberikan semangkok sup ayam pada Lily


"Wah sangat menggiurkan sekali. Bibi, Emira ayo makan" ajak Lily


"Terima kasih Nona, silahkan. Saya akan makan didapur saja dengan yang lain" kata Bibi


"Saya juga Nona akan makan bersama-sama di belakang" kata Emira


"Baiklah kalau begitu, silahkan makan semuanya" kata Lily mulai memakan supnya


"Kalau begitu saya permisi ke belakang Nona" kata Bibi membungkuk diikuti Emira pergi ke dapur


Lily hanya mengangguk dan melanjutkan makannya. Kalau sudah makan dia akan fokus pada makannya dan menuntaskan terlebih dahulu sebelum selesai, berbeda kalau sudah makan dengan Kakaknya Jeno ia akan sangat lama makannya karena Jeno suka mengajaknya mengobrol sampai berbusa, kadang Lily mengancam Jeno untuk menggiris tangan atau jarinya kalau masih mengoceh saat makan. Karena ancaman itu jadi Jeno akan diam, tapi itu hanya berlaku beberapa menit saja karena ia akan kembali berbicara pada Lily atau yang lainnya.


"Terima kasih Nona untuk makanannya" kata mereka


"Hm, harusnya kalian berterima kasih pada Bibi karena yang memasaknya" kata Lily yang sudah selesai makan dan perutnya sekarang kenyang karena habis dua porsi sup ayam


"Baik Nona"


"Oh ya Roy apa kau sudah menemukan dalangnya?"


"Ezron sudah mendapatkan informasinya Nona" kata Roy


"Tapi itu bukan dalangnya, katanya itu anak buahnya atau tangan kanannya" kata Arjun


"Jadi dalangnya belum tertangkap?" tanya Lily penasaran


"Iya Nona, sepertinya jaringan ini sangat luas Nona. Ada beberapa Perusahaan lain yang mengalaminya juga. Tapi mereka tidak tau siapa yang melakukannya" jelas Roy


"Ehm begitu ya, tapi anak buahnya apa kau sudah menemukannya?" tanya Lily sambil minum air putih


"Sudah Nona, orang-orang kita sedang membawanya kemari"


"Kalau begitu langsung bawa ke ruang bawah tanah, aku akan menemuinya"


"Baik Nona akan saya laksanakan"


"Apa kau sudah menemukan Si Wiliam?" tanyanya


"Belum Nona, karena info terbaru ia suka mengganti data diri dan juga foto pasport untuk berpindah-pindah ke negara satu ke negara lain" terang Roy


"Yeilah seganteng apa sih si Wiliam itu sampe segitunya, apa jangan-jangan ia buruk rupa ya" kata Arjun sambil mengunyah jeruk


Pletak!!!


"Lily" kata Arjun sambil memegang jidatnya yang sakit karena sentilan Lily


"Hahahahaha, oh iya ya aku lupa" kata Arjun sambil menggaruk rambutnya


"Makanya otaknya jangan taruh dikaki biar pinter" ledek Lily


"Abcdksjky, Lily" kata Arjun


"Apa? Kau mau memakiku?" tanya Lily sambil memegang pisau buah ditangannya


"Tidak,tidak,tidak" kata Arjun yang sudah takut kalau tiba-tiba pisau itu melayang begitu saja di kepala berdarah kan gawat ya wak


Tak berapa lama, terdengar suara mobil dari arah luar markas. Mungkin itu orang yang dimaksud oleh Roy. Merekapun membawanya ke ruang bawah dengan segera Lily, Roy dan Arjunpun segera kesana. Merekapun mengikatnya dikursi dengan penutup hitam di kepala mereka masing-masing. Dua orang laki-laki dan juga seorang wanita yang tengah duduk dikursi tersebut.


"Buka penutupnya" perintah Lily yang sudah duduk di kursi dengan menyilangkan kakinya seperti biasa


"Baik Nona" anak buahnya segera membuka penutup kepala itu


"Siapa kau?" tanya salah satu dari mereka


"Kau mau tau aku siapa?" tanya Lily


"Untuk apa kau meyandera kami? Apa hubungannya denganmu?"


"Hahahahhaha kau mau tau siapa aku hah?" tanya Lily sambil memainkan pisau di tangan kananya


Tap!!! pisau itu menancap sempurna difigura belakang mereka. Laki-laki yang tadi bertanya merasa jantungnya mau copot karena pisau itu melintas begitu saja melewatinya.


jangan-jangan dia adalah pemimpin yang ditakuti dunia gelap. batinnya


"Tak perlu kau tau aku siapa. Cukup jawab pertanyaanku jika kau sayang dengan nyawamu" kata Lily


"Siapa dalang dibelakang penipuan yang kalian lakukan?" tanyanya


"Sampai matipun aku takkan mau memberitahumu" katanya dengan tegas


"Jadi kau tak sayang nyawamu, Arjun"


"Baik Nona" kata Arjun sambil memberikan pistol pada Lily


"Sekali lagi aku tanya, siapa pimpinan kalian hah?" tanya Lily dengan nada tinggi


"Aku tak akan menjawabnya" kekeh laki-laki itu


"Nona, siapa pimpinanmu" kata Lily mendekati wanita itu sambil menempelkan pistol ke kepalanya


"Ampun Nona, saya tidak tau. Karena saya baru saj bergabung dengan mereka" kata wanita itu sedikit bergetar


"Apa kau jawab jujur?" tanya Lily sambil memutarkan pistolnya ke kepalanya


"Iya Nona, saya baru saja bergabung selama sebulan dengan mereka. Belum pernah bertemu dengan pimpinan dan tidak tau namanya"


"Kau sudah berapa lama?" tanya Lily pada pria itu


"Aku sudah setahun tapi tak tau dia siapa" jawabnya


"Apa cuma kau yang tau?" tanya Lily


"Iya cuma aku yang tau dia siapa, dan aku tak akan memberitahumu" katanya dengan tegas


"Roy cari tau tentang wanita itu dan pria ini. Jikaa benar bebaskan mereka. Kalau mereka bohong lempar ke kandang manis" kata Lily. Manis adalah penghuni baru markas Lily dia adalah buaya jantan.


"Baik Nona"


"Dan untu pria ini, siksa dia sampai buka mulut" kata Lily


"Aku serahkan padamu Jun" kata Lily sambil menepuk bahu Arjun dan segera naik ke atas


"Beres Li"


Iapun mulai mengeksekusi pria itu untuk segera membuka mulutnya. Namun ia tetep berseri keras untuk diam tak menjawabnya. Bawahannya tak bisa apa-apa dengan tangan dan kaki terikat untuk sekedar melepasnya saja susah apalagi membantunya. Mereka merasa ngeri dengan ketua mereka yang sudah babak belur di muka dan lebam di lengannya.