
"Lepaskan aku" kata laki-laki
"Untuk apa aku melepaskanmu"
"Aku tak ada urusannya dengan kalian"
"Ada, kau melakukan kekerasan pada anak kecil"
"Jangan ikut campur urusanku, lepaskan tali ini. Jika nanti aku bebas akan aku laporkan kalian ke bos"
"Memangnya kau punya bos"
"Ada, aku pastikan kalian akan mati ditangannya" kata laki-laki itu sambil tertawa
"Siapa bosmu" kata seseorang dari arah tangga yang membuat semua orang menoleh ke arahnya
"Selamat datang Nona" kata mereka sambil membungkuk memberi hormat
"Bosku adalah Tuan Bondan, aku akan melaporkan kalian semua padanya" jawabnya dengan senyum jahat
"Tuan Bondan, sepertinya aku mengenalnya. Kau tau Roy?" tanya Lily
"Iya Nona, dia adalah ketua preman anak jalanan Nona, dan juga di pasar tradisional"
"Ah iya aku tau bukankah dia mantan bosnya si Joni?"
"Iya Nona"
"Panggil Joni kesini"
"Baik Nona"
Kepala anak buah Lily memanggil Joni yang sedang menjaga gerbang depan untuk bertemu dengannya. Sesaat kemudian ia dan Joni sudah berada di ruang bawah tanah
"Apakah Nona memanggilku?" tanya Joni
"Ya, kau kenal laki-laki ini?" jawab Lily sambil menunjuk ke arah laki-laki itu
Joni lalu menoleh ke arah laki-laki itu sambil menyipitkan matanya dan mengingat sosok laki-laki itu
"Ah iya dia Amar anak buahnya bos Bondan, mantan bos" jawabnya dengan tegas
"Kau bawa handphone?" tanya Lily pada Amar
"Tidak, untuk apa aku bawa handphone segala"
Lily yang merasa tak puas dan menganggapnya berbohong menoleh tajam ke arah Roy. Roy yang merasa paham lalu mengangguk dan berjalan kearah laki-laki itu lalu mulai mencari apa yang Nonanya mau. Setelah mencari di saku kanan celana ia menemukan handphone tersebut dan memberikannya pada Lily.
"Ini apa?" tanya Lily
Lelaki itu hanya diam saja tak menjawabnya. Lily lalu membuka handphone tersebut dan meminta pola untuk memakainya. Ia mencari nomer Bondan untuk menelfonnya. Sambungan telfon telah terhubung
"hei kau Amar dimana? kau ingin mati ya?"
tak ada jawaban karena Lily hanya diam
"kenapa tak menjawab hah? apa kau tuli? jawab aku" dari seberang sana yang mulai emosi
Lily lalu memberikan kode pada laki-laki itu untuk menjawabnya
"Saya ditahan bos, tolong selamatkan saya" pintanya
"apa? kau ditahan? siapa yang menahanmu?"
"Saya tidak tau bos, dia seorang wanita"
"hahaha kau bercanda? masa kau kalah dengan seorang wanita. apa kau banci?"
"Tidak bos, memang dia seorang wanita"
"coba kau tanya padanya, siapa dia? berani-beraninya mengganggu anak buahku"
Lelaki itu hanya diam tak bertanya pada Lily karena sejak tadi ia memandanginya dengan tatapan tajam yang ingin membunuhnya.
"Kenapa kau tak tanya aku siapa" tanya Lily
Lagi-lagi lelaki itu hanya diam menunduk
"hei Arman kau masih hidup kan dia siapa? apakah wanita jelek gendut dan hitam? hahahaha" katanya sambil tertawa dengan keras
Semua orang yang mendengarnya merasa geram karena Nonanya dihina seperi itu ingin rasanya mereka menenggelamkan kepalanya dia air dingin atau memotong lidahnya. Lily yang hanya diam saja akhirnya menjawab telfon tersebut.
"Apa kabar Tuan Bondan"
"siapa kau? apa kau mengenalku?" tanyanya
"Ya aku mengenalmu, apa kau sudah lupa dengan suaraku?"
"Kenapa kau diam? Apa kau ingat?" tanya Lily sekali lagi
"aku ..aku ingat kau siapa"
"Bagus kalau kau ingat aku siapa, harus aku apakan anak buahmu ini"
"terserah kau saja, aku sudah tak membutuhkannya"
"Kau dengar Amar Tuanmu sudah tak membutuhkanmu lagi" kata Lily sambil tersenyum
"Bos tolong bebaskan aku" kata Amar memohon pada Tuannya
"aku tidak bisa membebaskanmu, lebih baik kau ikut dengannya"
"Tolong Bos, ayolah tolong aku" pintanya lagi
"aku tak bisa. sudah, jangan ganggu aku lagi"
tutt tutt tuttt suara telfon terputus
Amar hanya pasrah saja menunggu apa yang akan dilakukan Lily.
"Kau ingin aku apakan dia?" tanya Arjun sambil membawa pistol ditangannya
"Terserah kau saja" kata Lily sambil berjalan menuju tangga
"Buang di kandang jaguar atau menggantungkan dia disini?" tanyanya sekali lagi
Laki-laki itu sudah mulai berkeringat dingin, merasa takut dan was-was.
aku tak ingin mati konyol disini. batin Amar
"Sebentar, Joni sepertinya kau tau harus kau apakan dia. Aku percaya padamu" jawab Lily yang berlalu dari ruang itu diikuti Roy.
"Baik Nona" jawab Joni
Ketika orang-orang yang dibawa Lily ke ruang bawah akan ada dua pilihan mati atau hidup. Mati diruang itu atau kandang jaguar, hidup jadi anak buah Lily dan diberi kesempatan kedua. Jika diberi kesempatan keduapun jika tak bisa memanfaatkan kesempatan dengan baik dan melakukan kesalahan yang lebih fatal pilihannya mati segera atau secara perlahan di rumah sakit jiwa milik Lily. Membunuh secara fisik akan lebih cepat daripada membunuh secara pelan lewat mental dan psikisnya. Seseorang yang dibuat down mental dan psikisnya jika tak kuat iman akan membuatnya memikirkan cara untuk bunuh diri, membunuh dirinya sendiri. Jadi Lily tak perlu mengotori tangannya atau anak buahnya.
Sedikit psiko ya si Lily hiii ngeri banget
Lily pun sudah didapur untuk melihat anak perempuan yang ditolongnya yang sedang membantu Bibi memasak. Dia anak yang ceria dan mudah akrab dengan orang lain jadi Lily tak perlu mencemaskannya.
"Roy apa kau sudah selidiki anak itu?"
"Sudah Nona"
"Ceritakan"
Roy lalu menceritakan informasi yang dia dapatkan. Anak itu sebatang kara dan hidup dijalanan orang tuanya meninggal karena kecelakaan. Dia kabur dari panti asuhan karena mendapatkan bullying oleh anak-anak yang lain. Iapun lebih memilih pergi dan mencari uang dijalanan. Ia memiliki kakak laki-laki yang entah dimana karena setelah orang tuanya meninggal ia justru pergi begitu saja.
"Jadi anak itu dari Kelurga Bedict?" tanya Lily yang sedikit bingung
"Iya Nona benar"
"Berarti dia saudara perempuannya Wilham Arizon Bedict?" tanyanya
"Iya Nona"
"Kalau begitu cari dimana kakaknya berada, buat mereka bertemu"
"Baik Nona akan saya lakukan"
"Mintalah bantuan si Erzon untuk membantumu mencari laki-laki itu"
"Baik Nona, kalau begitu saya permisi dulu"
"Hm" jawabnya sambil mengangguk
Roypun segera keluar dan menuju tempat Erzon untuk meminta bantuan menemukan orang. Lilypun memilih duduk di meja makan, setelah ia meminta Bibi untu membuatkannya ramen, hujan-hujan dingin makan yang berkuah memang mantap. Setelah jadi Bibi membawakannya ke meja makan.
"Silahkan Nona"
"Ah iya Bi terima kasih banyak"
"Baik Nona, apa adalagi?" tanyanya
"Tidai Bi, silahkan lanjutkan pekerjaan lainnya. Oh iya jika Emira mau juga buatkan untuk dia" jawab Lily
"Baik Nona, kalau begitu saya permisi dulu"
"Baik Bi"
"Dōzo omeshiagarikudasai" Lilypun segera melahap ramennya yang menggiurkan. Memang tidak salah makan berkuah saat udara dingin.