
"Maaf Pak, saya tidak sengaja."
"Memang kamu jalan gak pake mata hah? bisa-bisanya menabrakku."
"Ma-maaf Pak saya benar-benar tidak sengaja, karena tergesa-gesa tadi."
Sebelum Jeno memarahi karyawan karena ketidaksengajaan, Arman sang Asisten sekaligus sekertaris pribadi langsung menahannya.
"Tuan, ada meeting yang lebih penting dari ini, lebih baik kita segera kesana karena sudah ditunggu oleh yang lain."
"Baik, ayo Man, kita pergi dari sini." Jawab Jeno sambil berlalu dari karyawan yang menabraknya.
"Terima kasih Sekertaris Ar sudah menolongku." Kata karyawan sambil membungkuk memberi hormat.
"Aku tidak menolongmu tapi menolong diri sendiri dari singa yang tidur." Jawab Sekertaris Arman meninggalkan karyawan tersebut dan mengejar tuannya yang sudah pergi menjauh.
Karyawan itu langsung menelan salivanya sendiri setelah mendengar apa yang dikatakan Sekertaris Arman barusan.
"iya benar aku hampir saja membangunkan singa tidur, kenapa aku lupa. ya ampun kenapa aku bodoh sih. heh author kalau sampai aku dipecat semua gara-gara kamu." batin karyawan itu.
kenapa jadi author yang disalahin sih.
"Selamat pagi semuanya." Kata Jeno ketika sudah di ruang meeting.
"Selamat pagi Direktur." Jawab serempak para petinggi yang berada di ruang meeting tersebut.
"Silahkan duduk kembali, mari kita mulai meeting hari ini."
"Terima kasih Direktur, silahkan."
Sekertaris Arman sudah berada disisi Tuannya dan memberikan dokumen meeting hari ini. Meeting hari ini berjalan dengan lancar, semuanya merasa tenang dan tidak khawatir karena Direktur yang terkenal tegas, garang, dan terkadang juga emosinya tidak stabil yang bisa meluap kapan saja sepeti gunung meletus. Tak terasa tiga jam sudah berlalu dan meetingpun selesai, para petinggi itu keluar sambil memberikan hormat pada Direktur Jeno untuk melanjutkan kerjaanya masing-masing.
"Syukurlah meeting hari ini berjalan dengan lancar ya." Kata salah satu petinggi.
"Ya kau benar sekali, sepertinya singa sedang kekenyangan makanya tidak mengaum, hehehe."
" Jaga mulutmu itu jangan sampai orang lain tau, bisa-bisa kau akan dipecat dan tak punya kerjaan lain."
Petinggi itu langsung merinding ketika mengingat ancaman itu, bahwa siapa saja yang membangunkan singa tidur maka dipastikan hal buruk akan terjadi padanya. Karena memang Direktur Jeno tidak segan-segan memecat karyawannya yang dianggap merugikan perusaahaan, melakukan kecurangan uang, dan kerja lambat. Tidak ada kata ampun baginya, tapi jika karyawannya berprestasi bagi perusahaan, dan membuatnya maju dia tidak segan-segan memberi bonus 3x gaji dengan percuma. Imbang bukan jadi baik iya jahat iya.
"Tuan, sebentar lagi kita akan bertemu dengan Direktur Roni untuk membahas kerja sama yang sudah disepakati."
"Baik, siapkan semua dokumen untuk kerja sama ini. Tapi sebelum itu lebih baik kita makan siang dulu baru membahas kerja sama itu, karena tadi aku hanya sarapan sedikit."
"Baik Tuan, saya akan menyiapkan dokumen kerja sama ini dan segera membawakan makan siang kesini." Jawab Arman membungkuk dan segera keluar dari ruang tuannya.
Jeno memang sering makan siang dikantornya karena kantin di kantornya memiliki tingkat kehigeinisan yang tinggi, koki yang handal dan mengerti tentang gizi sekaligus kesehatan. Makanya dia tidak perlu makan siang diluar, itu adalah salah satu kelebihan di perusahaan tersebut selain bonus 3x lipat yang dijanjikan.
Janji beneran ya bukan janji manis seperti doi iyak iyak iyak.
Tok Tok Tok
"Masuk." Perintah Jeno yang masih terpaku dengan laptopnya.
"Siang Tuan, ini makan siangnya dan ini dokumen kerjasama dengan Direktur Roni." Kata Sekertaris Arman sambil menyerahkan makan siang.
"Taruh dimeja dan ayo kita makan karena aku sudah lapar." Ajak Jeno.
Mereka memang sering makan bersama, kemana-mana selalu bersama kecuali kamar mandi tentunya. Selalu seperti perangko yang menempel erat.
"Man, gimana kabar Hotel milik Lily?"
Tak ada jawaban dari Sekertaris Arman karena dia fokus pada sayur ca bakso didepannya karena itu makanan favoritnya.
"kenapa ini selalu enak sekali, aku selalu ingin makan terus setiap hari." Batin Arman.
"Man, Maman kau dengar aku tidak?" Bentak Jeno karena pertanyaannya diacuhkan oleh Arman.
"Eh, Tuan maaf saya tidak mendengarnya." Jawab gagap Arman takut tuannya marah.
"Gimana perkembangan Hotel Lily?"
"Oh."
"Kenapa kau cuma jawab oh? apa kau ingin gajimu bulan ini dipotong setengah?" kata Jeno sambil mengacungkan sendok ke depan muka Arman.
"Glekk.. astaga kenapa singa ini tiap hari membuatku seperti naik odong-odong sih? eh salah naik rolllercoster." batin Arman.
"Untuk saat ini hampir selesai Tuan, saya dengar dalam waktu dekat akan melakukan peresmian. Tinggal finishing beberapa interior." Jawab Arman sambil meneruskan makannya.
Sepertinya Jeno tidak mendengarkan apa yang Lily katakan saat sarapan tadi ya, makanya dia bertanya. Dasar si Jeno.
"Syukurlah kalau begitu, kita bisa berlibur kesana sekalian refresing. Siapa tau kau menemukan pacar disana ya kan." Kata Jeno dengan asal.
Uhuk uhuk Arman yang mendengarnya seketika tersedak makanan lalu segera minum.
"astaga ini tuan kenapa sih? harusnya kan dia yang nyari pacar dulu. umurnya saja sudah tua dibanding aku. kenapa palah repot mengurusi kehidupanku." batin Arman .
"Kenapa mukamu seperti tertekan seperti itu? kan aku bilang nyari pacar bukan nyari harta karun di laut."
"Lebih baik saya cari harta karun daripada nyari pacar tuan." Jawabnya dengan ketus.
"Apa yang kamu bilang barusan Man?" Tanya Jeno dengan sorot mata yang tajam.
"Eh tidak apa-apa tuan, sebaiknya kita menyelesaikan makan dan segera menemui Direktur Roni." Kata Arman mengalihkan pembicaraan supaya tidak menjalar kemana-mana.
"semalam aku mimpi apa sih? kenapa hari ini sungguh membuatku ingin mencelupkan kepala tuan muda ke aqurium ikan itu." Gumam Arman.
"Ayo Man kita berangkat" Ajak Jeno yang sudah selesai makan.
"Baik Tuan, mari." Arman langsung membersihkan tempat makan siang mereka dan menaruhnya pada wastafel. Mengambil dokumen kerja sama diatas meja lalu segera keluar mengikuti tuannya yang sudah melangkah duluan.
Arman adalah sekertaris sekaligus asisten pribadi Jeno. Arman adalah sepupu Pak San kepala pelayan Keluarga Lee. Dia sudah bekerja selama 10 tahun pada Jeno. Maka dari itu Jeno memberi nama panggilan khusus ke Arman yaitu "Maman" lucu bukan?. Meski usianya beda 3 tahun dengan Tuannya tapi postur tubuh mereka hampir sama. Memiliki postur tubuh atletis, dengan lengan berotot, dada bidang, dan perut sixpack tentunya. Keahlian bela diri yang mumpuni membuatnya juga menjadi bodyguard untuk tuannya. Maka tidak heran Jeno memberikannya gaji 3x lipat dari standar gaji di kota ini.
Gaji yang diterimanya sangat tinggi tapi beban yang diemban juga tinggi. Tak jarang Jeno membuat Arman spot jantung atau kewalahan dengan perintahnya yang terkadang diluar nalar. Setiap saat ada saja perintah yang membuatnya ingin menghilang begitu saja seperti gelembung-gelembung udara.
"Mari Tuan kita berangkat." Kata Arman sambil membukakan pintu mobil.
"Baik ayo berangkat."
Mobil itu langsung bergegas menuju tempat yang sudah dipesan oleh Arman sebelumnya.
Di dalam Ruang VIP Resto...