Lily Blossom

Lily Blossom
Episode 30



"Kapan Kak No mau menikah?" Tanya Lily saat melihat Kakaknya bermain game dengan Arman.


Uhuk uhuk uhuk. Arman terbatuk dengan ucapan Lily.


"Apa kau menertawakanku Man?" Tanya Jeno dengan tatapan dinginnya.


"Ah tidak Tuan, saya mana berani." Kata Arman dengan bersungguh-sungguh.


"Kalau sudah waktunya juga nikah Li."


"Tapi, aku tidak pernah melihat Kak No berkencan dengan wanita. Jangan bilang kalau Kak No suka laki-laki." Kata Lily bergidik ngeri.


Jeno melempar bantal pada Lily. "Aku masih normal dan aku suka wanita."


"Hahahaha, aku kan cuma bercanda." Lily hanya tertawa karena sudah mengusili Kakaknya itu.


"Mending kau pergi sana, jangan menggangguku main." Usir Jeno


"Memang aku akan pergi, karena aku tau Kak Arman akan menang dari Kakak." Jawab Lily berlalu meninggalkan mereka.


"Nona." Sapa Roy yang sudah menunggunya diluar kamar Jeno. Pak San mengatakan kalau Lily sedang disana jadi ia segera naik keatas.


"Ada apa?" Tanya Lily, pasti ada hal penting yang membuat Roy datang kesini.


"Lebik baik kita ke markas sekarang." Ajak Roy. Lily mengangguk dan mereka segera pergi kesana. Lily masih belum tau apa yang sedang di markas. Karena Arjunpun tak mengatakan apapun padanya.


"Apa yang terjadi?" Tanya Lily yang melihat kekacauan di markas. Melihat William yang babak belur dan Emira yang menangis terisak di pelukan Bibi. Tak ada yang menjawab, mereka menunduk takut Lily akan marah.


"Kenapa kalian diam ha? Apa yang terjadi?" Tanya Lily sekali lagi dengan nada tinggi.


"Begini Nona." Toni memulai mengatakan apa yang terjadi di markas.


"Dimana Arjun?" Tanya Lily karena tidak melihat Arjun disana.


"Bos Arjun di ruang bawah tanah Nona, saya takut kalau di sini akan membunuh William tanpa ampun." Jawab Toni sekali lagi


"Ceritakan apa yang terjadi." Kata Lily duduk di kursi


Toni segera bercerita, Emira yang ingin memberikan makanan pada William mendengar perbincangannya dengan orang lain, ia tak menyangka bahwa William belum jera dengan apa yang pernah ia buat sebelumnya. Ia masih merencanakan untuk menipu orang lain dan mengambil keuntungan sebesar-besarnya. Emira tidak terima kalau Kakaknya melakukan kesalahan lagi, Emira meminta William untuk menghentikan semua. Tapi sayang, William tak mendengarkannya, dan mengatakan untuk memberitahu siapapun. Ketika Emira ingin keluar kamar, tangannya ditahan oleh William. Emira sekuat tenaga untuk melepas cengkraman tangan William, namun tenaganya kalah jauh. William yang emosi menampar pipi Emira hingga jatuh tersungkur ke lantai.


Emira terisak menangis menahan sakit dipipi. William semakin kesetanan sikapnya, ia menarik tangan Emira dan menjatuhkan tubuhnya ke ranjang.


"Apa yang mau Kakak lakukan?" Emira ketakutan dengan sikap William


"Aku bukan Kakakmu, tak akan aku biarkan kau memberitahu rencanaku." Ancam William dengan penegasan, yang sudah naik ke tubuh Emira dan mencengkram kedua tangannya.


"Kak, aku mohon lepaskan aku." Kata Emira yang semakin takut


"Lebih baik kau diam, dan nikmati saja." Kata William dengan senyum jahatnya.


"Lepaskan aku. Tolong, tolong, tolong." Teriak keras Emira berharap ada yang menolongnya.


"Tidak ada yang menolongmu."


Bugh! William tersungkur ke lantai saat berdiri ingin melepas celana. Arjun yang tak sengaja ingin ke kamarnya mendengar kegaduhan di kamar sebelah, segera saja dia masuk. Melihat William ingin berbuat hal hina ia segera meninju kepalanya. Karena belum puas ia segera memberi bogem mentah ke pipi William sampai ia tak berdaya. Emira yang tak tega melihat William seperti itu, segera bangkit dan meminta pertolongan lain untum membantu memisahkan mereka. Toni dan yang lain segera naik ke atas dan memisahkan mereka. William yang sudah babak belur segera dibawa ke bawah untuk dikompers lukanya. Arjun yang masih belum terima dibawa ke ruang bawah tanah untuk menenangkan diri.


"Kau belum jera juga ternyata William. Aku sudah memberi kesempatan untuk hidup, tapi apa balasanmu?" Kata Lily. Tak ada jawaban dari William dan Emira hanya menangis.


"Buang saja ke kandang manis, aku tak ingin mengotori tanganku." Perintah Lily yang segera bangkit dari kursinya.


"Baik Nona." Toni dan lainnya membawa William ke belakang, ia hanya pasrah saja karena sudah tak ada tenaga untuk melawan. Lily melangkah keluar untuk kembali ke masion, langkahnya terhenti karena ada yang menahan kakinya. Ia berbalik dan melihat Emira yang menahannya. Lily mendesah panjang "Lepaskan kakiku, aku sudah muak dengan sikapnya."


"Saya mohon Nona, lepaskan Kak William." Emira memohon dengan terisak dan masih menahan Lily


"Untuk apa aku melepaskannya lagi ha? Dia sudah sangat keterlaluan." Lily yang emosi


"Aku-aku." Emira tak meneruskan karena takut


"Apa? Jangan kau bilang kalau dia sudah pernah melakukannya dan kau hamil." Kata Lily penuh emosi. Semua terkejut dengan apa yang Lily katakan, semua terdiam dan tak ada yang bersuara. Termasuk William yang syok mendengarnya. Emira memilih diam dengan tubuh bergetar.


"Benar bukan? Kau hamil anak bedebah itu?" Tanya Lily sekali lagi.


"I-iya Nona. Maafkan aku." Emira menunduk tak berani mendongakkan kepalanya.


"Hah brengsek kau." Lily melangkah ke William dan memukulnya yang penuh amarah. Ia meraih kerah baju William dengan kuat "Aku sudah memberimu banyak kesempatan, tapi apa yang kau perbuat ha?"


William hanya diam, karena ini memang salahnya. Tak pantas lagi ia diberi kesempatan oleh Lily dengan apa yang ia lakukan. Ia hanya mengucapkan "Maaf". Lily segera melepas cengkraman tanggannya dan membiarkan William terjatuh di lantai.


"Apa maumu?" Tanya Lily pada Emira.


"Biarkan Kak William hidup, dan ijinkanku membawa pergi dari sini untuk memulai kehidupan baru. Aku janji akan merubah sikap Kak William." Kata Emira memohon pada Lily.


"Baik. Toni antar mereka keluar sekarang juga." Kata Lily yang bergegas pergi keluar diikuti oleh Roy. Ia tak habis pikir dengan pikiran Emira, sudah berkali-kali William membuatnya menderita tapi masih menginginkan William untuk hidup. Mungkin Emira sudah dibutakan cinta William jadi dia mau berkorban padanya. Kadang cinta membuat seseorang bisa berbuat apapun untuk orang yang dicintainya.


"Awasi mereka dari jauh, jika ia berulah lagi. Bunuh saja dan bawa Emira kembali." Perintah Lily pada Roy saat perjalanan pulang menuju masion.


"Baik Nona." Jawab Roy kembali fokus mengemudi mobil.


Lily beralih memandang keluar mobil, melihat hujan yang membasahi dedaunan dengan perlahan. Sebagian orang memilih berteduh di emperan toko untuk berlindung dari derasnya hujan. Ia hanya tersenyum tak kala melihat seorang pria memakaikan jaket untuk seorang wanita agar tak kedinginan. Kadang ia ingin merasakan juga, tapi kejadian di kehidupannya yang membuatnya urung untuk membuka perasaan pada yang seorang pria.


"saya harap, Nona menemukan cinta sejati yang akan membuat Nona bahagia selalu." batin Roy yang melihatnya sekilas.