
"Nona kita mau kemana?" Tanya Roy
"Ayo pulang aku sudah tidak berselera untuk makan, lebih baik mandi dan tidur." Jawab Lily sambil berlalu
"Baik Nona, silahkan masuk." Jawabnya sambil membukakan pintu mobil untuk Nona mudanya.
Ya dia adalah Nona muda dikeluarga Lee, putri kesayangan bernama Lily dari pasangan Tuan Lee dan Nona Wendy. Perempuan yang cantik dan juga cerdas. Menjabat sebagai CEO di masa muda di salah satu Perusahaan di Kota kelahirannya. Keluarga Lee adalah satu keluarga yang kaya dan sangat berpengaruh di Kota "S" keluarga yang disegani, dan dihormati oleh masyarakat. Walaupun statusnya orang kaya tapi mereka tidak membeda-bedakan kasta dan memandang orang lain karena harta. Bukankah keluarga yang sangat keren kalau seperti itu?
Iyaa iyaa keluarga keren kan kamu yang bikin idenya author. Hihihihi
Ya, dia adalah orang yang menahan tangan Moana untuk tak menampar pelayan karena masalah sepele. Setelah kejadian di resto tadi, mood Lily menjadi tidak baik dan tak berselera untuk makan. Membuatnya muak jika berlama-lama disana karena keributan.
"Silahkan Nona, kita sudah sampai." Kata Roy t
sambil membukakan pintu mobil.
"Terima kasih Roy, kamu boleh pulang dan istirahat. Jangan lupa besok datang lebih awal karena kita akan meninjau langsung perkembangan hotel di Kota "F".
"Baik Nona, kalau begitu saya pamit. Selamat beristirahat." Kata asisten pribadi Lily yang bernama Roy sambil memberi hormat lalu masuk ke mobil dan segera pulang ke apartemen.
Lily segera masuk ke dalam masion dan menuju ke kamarnya yang berada di lantai atas.
"Anda sudah pulang Nona?" Tanya Kepala Pelayan pria paruh baya yang bernama Pak San.
"Iya Pak San saya sudah pulang, terima kasih. Saya ingin ke kamar dan tidak perlu menyiapkan makan malam atau apapun. Kamu boleh masuk kedalam dan beristirahatlah." Kata Lily pada Pak San.
"Baik Nona, selamat beristirahat." Jawab Pak San sambil membungkuk dan kembali ke belakang.
Lily segera naik ke atas dan melakukan ritualnya sebelum merebahkan tubuhnya di kasurnya yang sangat luas selebar lapangan volly, ralat ya kasurnya berukuran king size saja tidak perlu selebar lapangan volly dikira mau olahraga kali.
Setelah berendam dan berganti pakaian Lily segera merebahkan tubuhnya dan mulai memejamkan matanya yang sudah sangat mengantuk.
Keesokan paginya di kediaman Keluarga Lee para pelayan sudah sibuk dengan kegiataannya memasak, menyapu, merapikan ruangan, mencuci menjemur, dan berkebun. Keluarga Lee selalu menyempatkan sarapan bersama setiap harinya. Makanan untuk sarapan juga sudah tersedia di meja makan, seperti nasi goreng, roti , waffle, dan pancake. Bagi Lily sendiri kadang tidak mempersalahkan sarapan yang tersedia karena dia bukan orang pemilih dalam makanan, semuanya masuk dalam perutnya. Berbeda dengan Jeno sang kakak yang terkadang masih memilih dalam makanan bagaimana tidak, badannya yang atletis, dada bidang, dan bahu yang kokoh pasti menjaga bentuk tubuhnya agar tidak membuncit.
" Pagi Ma, Pa." Sapa Jeno yang sudah berada si meja makan.
"Selamat pagi juga jagoan Mamah". Kata Mama Wendy pada putranya.
"Hmm" Jawaban singkat dari Papa Lee karena memang suka irit berbicara, kadang juga cuma menganggukkan kepala atau menggelangkan kepalanya. Bahkan terkadang juga hanya menggunakan jarinya sebagai bahasa isyarat kepada semua orang sebagai jawabannya. Disuruh jadi cenayang kali ya orang-orang buat mengartikannya. Ada-ada saja Papa Lee ini.
"Dimana Lily kok belum ada? biasanya sudah ada disini sebelum aku." Tanya Jeno.
"Aku disini." Jawab perempuan cantik dari arah belakang.
Jeno menoleh dan tersenyum pada adik perempuannya yang sangat dia sayang dan sedikit posesif padanya. Dia sangat bangga padanya meskipun umurnya masih muda dia sudah menjabat dan bertanggung jawab sebagai CEO, bahkan memiliki usaha resto karena memang dia suka kuliner lebih tepatnya suka makan. Padahal diusianya yang sekarang masih banyak diluar sana yang masih bermain, berkumpul dengan teman-teman, liburan , bukan hanya berkutat pada dokumen-dokumen yang menggunung.
"Pagi Kak, Ma, Pa." Sapa Lily sambil duduk dikursi yang dibantu Bik Maryam.
"Pagi cantik, kamu mau sarapan apa nak?" Tanya Mama Wendy yang sedang mengoles roti tawar dengan selai cokelat untuk suaminya.
"Ehm aku sarapan roti dengan selai cokelat saja sama seperti Papa." Kata Lily
"Bagaimana perkembangan hotel di Kota "F" Lily?" Tanya Papa pada Lily.
"Sudah 90% Pa, nanti aku akan kesana untuk meninjau perkembangannya." Kata Lily sambil memakan rotinya yang sudah siap.
"Bagus, Papa harap segera selesai dalam bulan ini dan segera diresmikan. Tidak sabar Papa ingin pergi kesana dan berlibur disana ya kan Ma?" Tanyanya pada istri.
Mama yang sedang makan sedikit tersedak karena perkataan suaminya.
"Emang kita mau ngapain Pa kesana?" Tanyanya.
"Honeymoon sayang sekali-kali lumayan kan, Hotel Lily yang dibangun kan dekat dengan pantai. Jadi tak ada salahnya untuk berlibur. Hahahaha". Jawab Papa sambil mengerlingkan matanya memberi kode.
Mendengar perkataan suaminya itu membuat raut mukanya menjadi merah merona dan menahan malu.
"Jangan bilang Papa dan Mama ingin memberikanku adik lagi" Tungkas Jeno dengan sedikit penekanan.
"Ya aku juga setuju dengan Kak No, aku tidak ingin punya adik lagi cukup aku dan Kak Jeno saja dirumah ini."
"Hahaha kalian ini kenapa memikirkan sampai sana kalau cuma mau buat dikamar juga bisa." Sambil terkekeh
"Papa!" Kata Mama dengan teriak dan membelakkan matanya
"Hahaha bercanda sayang jangan terlalu serius."
"Kak, lebih baik kita berangkat kerja saja daripada lama-lama disini." Ajak Lily sambil berlalu dari ruang makan
"Ayo Ly, sepertinya Papa belum meminum obatnya jadi sepeti ini masih pagi sudah absur." Jawab Jeno mengikuti Lily di belakang.
"Yaakkkk Jeno dikira Papa lukisan apa dibilang absur. Dasar bocah tengil."
Mama mendengernya hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, melihat tingkah laku suami dan anak-anaknya. Memang keluarganya ini sangat unik dengan sikapnya masing-masing. Mood yang selalu berubah-ubah setiap saat membuatnya harus memiliki kesabaran yang ekstra dan memahaminya dengan baik. Seperti suaminya yang terkadang santai, kadang tegas, kadang juga melucu seperti badut, dan kadang juga dirinya harus seperti cenayang yang harus mengerti kemauan suaminya. Kenapa kebalik yaa? harusnya kan laki-laki yang seperti itu, palah ini perempuan. Keluarga yang aneh tapi hangat.
Sehangat mentari yang mulai meninggi, suara bising kendaraan yang berlalu lalang dengan tujuan masing-masing, orang-orang yang hilir mudik menjalankan aktivitasnya. Lily dan Roy sedang menuju Kota "F" untuk meninjau Hotel yang ia bangun. Sekitar satu jam perjalanan akhirnya Lily dan Roy sampai di tujuan dan segera disambut oleh penanggung jawab proyek disana.
"Selamat pagi Nona."
"Pagi." Jawab singkat Lily sambil berjalan masuk menuju Hotel.
"Bagaimana perkembangan Hotel ini? dan kapan selesainya?" Tanya Lily.
"Sudah hampir selesai Nona, sepertinya minggu depan sudah selesai." Jawab Aldo sang penanggung jawab proyek.
"Bagus, ayo Roy kita keliling"
"Baik Nona, mari." Kata Roy pada Lily yang segera mendahului Lily untuk membukakan lift untuknya.
Sedangkan Jeno sudah berada di kantornya dan segera masuk dalam ruangannya. Ketika masuk dalam lift tiba-tiba Brukkk ada yang menabraknya dari depan.
"Kamu!" Dengan tatapan tajam